Publikasi Penimbunan Masker Besar-besaran, Polisi Dianggap Hanya Bikin Masyarakat Panik Satkrimsus Polda Metro Jaya mengambil barang bukti masker saat rilis kasus dugaan penimbunan masker di Tangerang, Banten, Rabu, (4/3/2020). (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

MerahPutih.com - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menyatakan, dalam kondisi di mana masyarakat mengalami panik berlebihan, sulit bagi pemerintah dan aparat kepolisian untuk bertindak. Termasuk dalam menindak pelaku dugaan penimbun masker akibat wabah virus corona.

"Tindakan ideal apa pun yang dilakukan aparatur seakan tidak berarti di tengah kepanikan masyarakat yang tingkat tinggi. Yang ada masyarakat memborong apa saja untuk kepentingan dirinya dan keluarganya, seolah esok akan kiamat," ujar Neta saat dihubungi wartawan, Sabtu (7/3).

Baca Juga:

RNI Klaim Produk Maskernya Bisa Bertahan Sampai Dua Minggu

Neta menilai, pola publikasi polisi perlu diubah agar tidak membuat masyarakat panik. Menurutnya, polisi perlu tetap menangkap para penimbun masker, tapi tak perlu dipublikasi besar-besaran.

Sebaliknya, sambung dia, justru yang perlu dipublikasi besar-besaran adalah peran Dokkes Polri dalam memberi penjelasan tentang virus corona kepada masyarakat di berbagai kota, sehingga masyarakat merasa tenang dan nyaman.

Konferensi pers pengagalan pengiriman masker keluar NTT di markas Polres Kupang Kota, NTT, Kamis(05/03/20).ANTARA FOTO/Kornelis Kaha.
Konferensi pers pengagalan pengiriman masker keluar NTT di markas Polres Kupang Kota, NTT, Kamis(05/03/20).ANTARA FOTO/Kornelis Kaha.

"Selama wabah corona muncul Dokkes Polri sama sekali tidak muncul yang dimunculkan justru penangkapan-penangkapan penimbun masker. Padahal, sebagai pelayan dan pelindung masyarakat, saat seperti inilah seharusnya Dokkes Polri muncul menunjukkan peran dan fungsinya," katanya

Menurut Neta, sikap ego sektoral dan kepanikan tingkat tinggi ini harus segera diatasi pemerintah.

Misalnya dengan menghimpun komunitas-komunitas di masyarakat dan melakukan sosialisasi di arena kegiatan masyarakat seperti car free day (CFD) dengan kampanye tidak perlu panik dengan wabah Corona, namun semua pihak diimbau tetap waspada dan bersatu mengatasinya.

Baca Juga:

Bersyukur karena Warga Bisa Beli Masker Ratusan Ribu, Anies Dinilai Asal Ngomong

"Dalam kampanye itu, polisi lewat Tim Dokkesnya (Kedokteran dan Kesehatan) juga ikut memberikan penerangan-penerangan kepada publik tentang virus corona, bagaimana mencegahnya dan di mana pusat-pusat pelayanan untuk berkonsultasi," ungkapnya.

Neta menyatakan, dengan berbagai tindakan sosialisasi tersebut diharapkan masyarakat merasa nyaman dan tidak terjadi kepanikan.

Selama ini, secara tidak langsung tindakan polisi ikut membuat masyarakat menjadi panik.

"Ekspos polisi yang besar-besaran di mana-mana, polisi menangkap aksi penimbunan masker secara tidak langsung sudah membuat masyarakat panik. Sehingga masyarakat khawatir tidak kebagian masker dan melakukan aksi borong dan menimbun masker di rumahnya, padahal belum tentu dia memerlukan masker yang begitu banyak," ungkapnya. (Knu)

Baca Juga:

WOW! Jack Ma Sumbang Satu Juta Masker Untuk Jepang

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
 Ngabalin: Informasi Virus Corona dari Medsos Bisa Bawa Malapetaka
Indonesia
Ngabalin: Informasi Virus Corona dari Medsos Bisa Bawa Malapetaka

“Ketika semua informasi kita dapat di media sosial, yang tidak bersumber dari media mainstream, maka itu akan mendatangkan malapetaka yang luar biasa bagi kita,” kata Ngabalin

Djoko Tjandra Ditangkap, Yasonna: Bukti Pemerintah tak Bisa Dipermainkan
Indonesia
Djoko Tjandra Ditangkap, Yasonna: Bukti Pemerintah tak Bisa Dipermainkan

“Penangkapan tersebut setidaknya telah mengakhiri rumor atau teka-teki tentang keberadaan Djoko Tjandra,” kata Yasonna

DKPP Terima 14 Aduan Daring Dugaan Pelanggaran KEPP Selama WFH
Indonesia
DKPP Terima 14 Aduan Daring Dugaan Pelanggaran KEPP Selama WFH

Sekretariat DKPP ikut memberlakukan sistem bekerja dari rumah

Simak Nih! Rangkaian Peringatan HUT RI di Masa Pandemi
Indonesia
Simak Nih! Rangkaian Peringatan HUT RI di Masa Pandemi

Prosesnya adalah penaikan bendera tetap kami lakukan

Uang Suap Djoko Tjandra Diduga Mengalir ke Atasan Irjen Napoleon
Indonesia
Uang Suap Djoko Tjandra Diduga Mengalir ke Atasan Irjen Napoleon

Djoko Soegiarto Tjandra dapat masuk ke Indonesia, maka Djoko Soegiarto Tjandra bersedia memberikan uang sebesar Rp10 miliar melalui Tommy Sumardi untuk diberikan kepada pihak-pihak yang turut mengurus.

Lereng Merapi Jadi Favorit Wisatawan saat Libur Panjang Maulid Nabi
Indonesia
Lereng Merapi Jadi Favorit Wisatawan saat Libur Panjang Maulid Nabi

Destinasi wisata di lereng Gunung Merapi masih menjadi lokasi favorit para wisatawan menikmati liburan panjang peringatan Maulid Nabi akhir Oktober 2020.

KPK Mau Korek Advokat PDIP Donny Tri Istiqomah dan Sekuriti Kantor Hasto
Indonesia
KPK Mau Korek Advokat PDIP Donny Tri Istiqomah dan Sekuriti Kantor Hasto

Nurhasan, anggota sekuriti Sekjen PDIP, disebut sebagai orang yang membawa Harun ke PTIK

Presiden Jokowi Resmi Larang Warga Mudik di Tengah Pandemi COVID-19
Indonesia
Presiden Jokowi Resmi Larang Warga Mudik di Tengah Pandemi COVID-19

Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan virus corona di Indonesia.

Kasdam Jaya Sebut Kasus Positif COVID-19 di DKI Fluktuatif
Indonesia
Kasdam Jaya Sebut Kasus Positif COVID-19 di DKI Fluktuatif

Saleh melihat kondisi penderita COVID-19 sangat fluktuatif. Artinya, kondisinya belum tentu turun maupun naik.

 Warga Boyolali Digegerkan Penemuan Bayi Perempuan di Teras Rumah
Indonesia
Warga Boyolali Digegerkan Penemuan Bayi Perempuan di Teras Rumah

Kapolsek Ngemplak, AKP Subiyati, membenarkan adanya kasus temuan bayi perempuan tersebut. Usia bayi diperkirakan baru sehari lahir dengan diperkuat tali pusar masih mempel.