Puasa Sampah Saat Mudik? Kenapa Enggak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing. (Foto: merahputih.com/Rizki Fitrianto)

ADA satu masalah yang sering diabaikan oleh banyak orang dikala musim mudik tiba. Ia adalah meningkatnya produksi sampah. Dilansir dari Antaranews, Kamis (30/5) tren tumpukan sampah di jalur mudik khususnya tempat peristirahatan atau rest area meningkat dua hingga tiga kali lipat dibandingkan hari biasa.

Berdasarkan catatan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada musim mudik tahun lalu, rata-rata produksi harian sampah di satu rest area bisa mencapai 10 ton. Padahal sampah yang dihasilkan di hari biasa hanya 3 ton per hari.

Kemelut ini tetap menghantui musim mudik kali ini. KLHK memprediksi jumlah produksi sampah pemudik bisa 16.100 ton perhari. Angka tersebut diperoleh dari jumlah pemudik sebanyak 23 juta orang dikalikan produksi harian sampah per orang, rata-rata mencapai 0,7 kilogram. Sampah tersebut meliputi styrofoam, kemasan mi instan, botol minuman, gelas plastik minuman dan lain sebagainya.

Harus puasa sampah

Beberapa mobil memasuki kawasan peristirahatan (rest area) di jalan tol Jagorawi, Jakarta, Rabu (29/5/2019). (ANTARA/Genta Tenri Mawangi)
Beberapa mobil memasuki kawasan peristirahatan (rest area) di jalan tol Jagorawi, Jakarta, Rabu (29/5/2019). (ANTARA/Genta Tenri Mawangi)

Lantas apa yang harus dilakukan agar masalah ini bisa diminimalisir? Puasa sampah mungkin bisa menjadi solusinya. Pakar Lingkungan Hidup Universitas Indonesia Saraswati Putri menjelaskan kebiasaan dan pola pikir masyarakat adalah sumber utama mengapa sampah menumpuk saat musim mudik.

Menurut Saras, sebagian besar masyarakat Indonesia kurang memahami kalau pola konsumsinya mempengaruhi jumlah sampah. Ahlasil banyak yang memilih menggunakan kemasan atau alat sekali pakai agar lebih praktis.

"Sekarang jargonnya tidak cukup hanya membuang sampah di tempatnya, tetapi harus mengurangi produksi sampah dari diri sendiri,” kata Saras.

Sayang, jargon tersebut masih sulit direalisasian untuk masyarakat Indonesia. Hal itu karena sebagian besar orang, termasuk pemudik belum bisa mengolah sampahnya sendiri. Masalah dianggap sepele karena yang direpotkan saat sampah menumpuk bukanlah pembuangnya, melainkan petugas kebersihan, pengelola tempat dan pemerintah.

Berbagai upada dilakukan

Petugas membawa keranjang sampah di tempat peristirahatan (rest area) tol, Jakarta, Rabu (29/5/2019). (ANTARA/Genta Tenri Mawangi)
Petugas membawa keranjang sampah di tempat peristirahatan (rest area) tol, Jakarta, Rabu (29/5/2019). (ANTARA/Genta Tenri Mawangi)

Menurut pemudik asal Semarang, Aditya Pradana, tak mudah mengendalikan buang sampah selama perjalanan mudik. Alasannya cukup sederhana yakni sulit menghentikan kebiasaan jajan cemilan berkemasan ketika berhenti di rest area. Meskipun ia berusaha mengimbanginya dengan membawa bekal sendiri.

“Biasanya, saya juga bawa bekal dengan wadah plastik dari rumah (buat perjalanan mudik),” kata Aditya yang rutin pulang kampung naik mobil bersama keluarga kecilnya.

Di tahun ini, pihak KLHK kembali gencar mengkampanyekan gerakan “mudik minim sampah” dan “mudik tanpa sampah plastik”. KLHK juga mendatangi beberapa tempat peristirahatan dan ruas tol untuk melakukan sosialisasi pengendalian sampah. Hanya saja, jika kepedulian masyarakat masih minim, apa yang dilakukan KLHK menjadi sia-sia.

Sementara itu Greenpeace Indonesia akan fokus mengkampanyekan penggunaan sampah plastik sekali pakai ke pemerintah dan industri. Dengan demikian masalah ini dapat diselesaikan dari dua sisi.

"Biasanya masyarakat diimbau agar tidak menggunakan kantong plastik, sedotan. Tapi kalau cuma masyarakat yang berubah, maka tidak akan signifikan. Pemerintah, harus mendukung melalui regulasinya. Swasta juga mesti berubah," kata Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi di Jakarta, Selasa.


Tags Artikel Ini

Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH