PSI Puji Keberhasilan Presiden Jokowi Redam Gejolak Pangan Selama Ramadan Seorang pekerja menata bahan makanan yang dijual di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Selasa (29/5). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

MerahPutih.com - Partai Solidaritas Indonesia mengapresiasi kerja keras pemerintahan Joko Widodo-JK dalam mengendalikan harga pangan selama Ramadhan 2018 dan beberapa tahun terakhir

"Sejauh bulan puasa berjalan, tidak terjadi gejolak harga pangan (volatile food). Kita apresiasi,” ucap Juru Bicara PSI Bidang Ekonomi, Industri, dan Bisnis Rizal Calvary Marimbo dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, hari ini.

Rizal mengatakan, setiap memasuki bulan puasa dan Lebaran, harga komoditas pangan akan merayap naik sehingga mendorong laju inflasi. Tradisi ini menjadi langganan tahunan dan merambah seluruh bahan pangan pokok masyarakat sehari-hari.

"Biasanya komoditas pangan merangkak naik seketika mendekati Lebaran. Sejauh pemantauan PSI, harga-harga komoditas terkendali,” ucap dia.

Rizal mengatakan, tradisi gejolak harga pangan menjelang Lebaran telah berhasil diakhiri pemerintahan Jokowi sejak beberapa tahun terakhir. Sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dan Idul Fitri dengan tenang.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kiri) bersama Gubernur Sulteng Longki Djanggola (kedua kiri) memperhatikan beras yang dijual di Pasar Manonda Palu, Sulawesi Tengah, Senin (11/6). ANTARA FOTO/Basri Marzuki

Lebih lanjut ia menilai terkendalinya harga pangan tersebut tak hanya disebabkan oleh cukupnya pasokan ke pasar, namun juga pemerintahan Jokowi-JK mampu menghentikan penimbunan dan adanya perbaikan infrastruktur secara sistematis.

"Ada faktor penegakan hukum. Tidak ada oknum yang berani menimbun bahan pangan. Juga jalur logistik berjalan lancar sebab infrastruktur semakin baik dan meluas. Biaya logistik ikut menurun,” ucap Rizal.

Dia mengatakan, bila pun terjadi kenaikkan harga namun masih dalam batas normal.

“Kenaikkan saya kira tak akan mencapai 20%. Bahkan mungkin dibawah 15%. Ini masih normal. Malah ada komoditas yang menurun harganya. Yang berbahaya seperti dulu-dulunya bisa sampai 50 persen. Jadi secara persentase kenaikkan year on year justru terjadi penurunan,” ujarnya.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kanan) bersama Gubernur Sulteng Longki Djanggola (kedua dari kanan) berdialog dengan pedagang telur di Pasar Manonda Palu, Sulawesi Tengah, Senin (11/6). ANTARA FOTO/Basri Marzuki

Daya Beli

PSI optimistis dengan terkendalinya harga pangan ini ditambah dengan peningkatan dan perluasan penerima Tunjangan Hari Raya (THR) bagi PNS dan pegawai swasta, akan memacu konsumsi selama ramadhan dan Lebaran.

"Kuartal kedua akan kita lihat growth-nya akan signifikan dan report-nya kita tunggu saja,” sambung Rizal.

PSI mengapresiasi, selama bulan puasa dan menjelang Lebaran, pemerintah telah melakukan operasi pasar, mengguyur pasar dengan stok dari Bulog, dan melakukan intervensi pasar.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) merilis angka inflasi nasional pada bulan Mei 2018 atau menjelang lebaran terkendali dan relatif rendah, yakni 0,21 persen. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI, Reza Anglingkusumo mengatakan laju inflasi relatif terkendali karena harga-harga komoditas barang bergejolak cenderung stabil selama Mei 2018.

Dia mencontohkan harga sejumlah komoditas, seperti cabai merah, bawang putih, beras, dan cabai rawit, justru mengalami penurunan. Data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi 0,21 persen pada Mei 2018 ditunjang oleh komponen inti seebsar 0,12 persen, komponen harga yang ditetapkan pemerintah (administrative price) 0,06 persen, dan komponen volatile food 0,03 persen.

Ilustrasi

Pada periode Juni, Pemerintah memastikan inflasi akan terkendali pada kisaran 0,22%–0,25% secara bulanan mengingat tidak akan ada lonjakan harga dari komoditas pangan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memastikan hingga libur Lebaran pemerintah akan terus mengawasi sejumlah harga komoditas pangan agar tidak bergejolak.

Sumber: BPS

"Semua harga sudah oke, daging maupun beras. Memang yang akan naik dari telur ayam tetapi itu kan tidak akan berdampak banyak kalau kita kaitkan ke inflasi. Jadi saya rasa inflasi masih sekitar 0,22%-0,25%," ujarnya. (*)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH