PSBB Melonggar, Indikator Pertumbuhan Ekonomi Membaik Gubernur Bank Indonesia. (Foto: Antara)

Sejumlah indikator yang akan mendorong perekonomian Tanah Air pada kuartal III hingga IV tahun ini mulai membaik. Perbaikan ini, akan membawa pengaruh positif untuk tahun 2021.

Bank Indonesia mengungkapkan pertumbuhan ekonomi tahun 2020 pada kisaran 0,9 hingga 1,9 persen. Indikator yang mendorong pemulihan ekonomi dimulai pada kuartal ketiga tahun ini adalah adanya relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berlaku di sejumlah daerah, khususnya di DKI Jakarta.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR mengatakan, kebijakan pelonggaran PSBB tetap memperhatikan protokol kesehatan yang aman untuk mendukung kinerja yang produktif.

Selain PSBB yang dilonggarkan, stimulus fiskal dari pemerintah dan moneter dari Bank Indonesia diperkirakan turut mendorong pemulihan ekonomi mulai triwulan III tahun 2020.

Ia optimistis pada tahun 2021 pertumbuhan ekonomi RI akan kembali naik pada rentang positif yakni kisara 5-6 persen yang didorong oleh perbaikan ekonomi global dan stimulus kebijakan pemerintah dan BI.

Pemerintah menganggarkan Rp695,20 triliun sebagai stimulus dalam penanganan COVID-19 termasuk di dalamnya program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) bagi sektor kesehatan, perlindungan sosial, hingga insentif bagi dunia usaha khususnya UMKM.

Baca Juga:

Setelah Solo, Giliran APBD Pontianak Kolaps Gegara COVID-19

Sementara itu stimulus moneter yang baru-baru ini dikeluarkan BI di antaranya menurunkan suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) menjadi 4,25 persen.

Sejak Juli 2019 hingga Juni 2020 bank sentral ini total sudah menurunkan 175 basis poin suku bunga acuan. Dengan penurunan ini diharapkan mendorong perekonomian hingga menurunkan biaya untuk belanja suku bunga untuk APBN khususnya SBN tenor satu tahun.

Pergerakan IHSG
Pergerakan IHSG/ (Foto: Antara)

Bank Indonesia juga sudah menyuntikkan likuiditas kepada perbankan hingga Mei 2020 mencapai Rp583,5 triliun, termasuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) baik rupiah dan valas sehingga menambah likuiditas bank.

Neraca pembayaran untuk kuartal kedua tahun ini, lanjut dia, juga akan lebih baik dengan defisit transaksi berjalan yang diperkirakan menurun terlihat dari data per Mei 2020 neraca perdagangan RI surplus 2,09 miliar dolar AS.

Arus modal asing masuk ke Indonesia juga semakin mengalir dengan investasi portofolio hingga 15 Juni 2020 sudah ada 7,3 miliar dolar AS sehingga cadangan devisa juga meningkat menjadi 130,5 miliar dolar AS.

Baca Juga:

Tito Minta Kepala Daerah tidak Becus Tangani Corona Jangan Dipilih Lagi



Alwan Ridha Ramdani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH