PSBB Diperketat, Warga Butuh Stimulus Buat Amankan Daya Beli Ilustrasi Pasar. (Foto: PD Pasar Jaya).

MerahPutih.com - Pemerintah diminta meningkatkan stimulus bagi konsumen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menyusul pemberlakuan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai 14 September 2020 di Jakarta.

Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Rizal E Halim memaparkan, pemerintah bisa memberikan stimulus konsumsi bagi masyarakat (dari sisi demand), dan membantu pelaku usaha melalui sejumlah relaksasi (sisi supply) sehingga konsumsi dan produksi dalam negeri tetap terjaga.

"Stimulus konsumsi bagi masyarakat (konsumen) tidak hanya melalui pemberian tunai transfer tetapi juga dengan relaksasi kredit konsumsi, kredit kendaraan bermotor dan sebagainya," katanya.

Baca Juga:

75 Juta Jiwa Perlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kemensos Luncurkan Program Atensi

Ia menegaskan, Pemerintah dapat memberi stimulus pada usaha mikro dan kecil di beberapa sektor yang memang mengandalkan pemasukan harian khususnya di sektor perdagangan, bantuan bagi karyawan yang dirumahkan dan tidak mendapat pemasukan atau pemotongan terhadap gaji, dan bahkan pengurangan pegawai selama PSBB berlangsung.

"Upaya itu sangat membantu dalam menstimulus konsumsi dan menjaga daya beli konsumen untuk dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Jika konsumsi ini bisa dijaga, maka kita berharap produksi terus dipertahankan, sehingga meminimalisir pengurangan pekerja sekaligus mendorong perekonomian tumbuh kembali," katanya.

Ilustrasi warung
Ilustrasi warung. (Foto: Kementerian Koperasi dan UMKM)

Ketua Komunikasi dan Edukasi BPKN, Johan Effendi menambahkan ketika kebijakan PSBB telah dijalankan, pemerintah harus siap dan konsekuen dengan aturan yang ada dan aparat menindak tegas apabila terjadi pelanggaran protokol kesehatan.

"Masyarakat bisa menyesuaikan diri dengan pola hidup yang baru demi menekan penyebaran COVID-19. Kita semua secara bersama-sama harus taat menjaga jarak dan kesehatan sesuai protokol penanganan COVID-19 sehingga bisa menjamin keamanan dan keselamatan menyambut adaptasi kebiasaan baru," katanya.

Baca Juga:

Ketika Terjadi Resesi Ekonomi, Lebih Baik Menabung atau Investasi?


Tags Artikel Ini

Alwan Ridha Ramdani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH