Suro'baca, Tradisi Unik Sarat Makna Orang Makassar Jelang Ramadan Beberapa orang lagi berdoa di acara Suro'baca. (Foto/YouTube.com)

SETIAP akhir bulan Syakban atau seminggu menjelang Ramadan beberapa keluarga di Makassar berkumpul. Mereka berbincang mengenai pelaksanaan Suro'baca untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Tiap-tipa anggota keluarga kemudian menyisihkan penghasilannya untuk diberikan kepada orang paling dipercaya di antara mereka sebagai bekal pelaksanaan tradisi kaum muslim Makassar jelang Ramada.

Satu hari sebelum acara, beberapa ekor ayam kampung dan ikan bandeng sudah disiapkan. Anggota keluarga tampak sibuk merapikan ruangan dan menghiasinya dengan beberapa sajian. Ayam gagape' mirip opor ayam, ikan bandeng bakar dibelah dan diberi cabe, dan lawa' atau urap dari pisang batu, tersusun rapi dalam hidangan tersebut. Ruangan dikosongkan sejenak.

Hidangan yang ada di acara Suro'baca. (Foto/deblogadress.blogspot.co.id)
Hidangan yang ada di acara Suro'baca. (Foto/deblogadress.blogspot.co.id)

Tak lama, anggota keluarga mulai memenuhi ruangan dan duduk bersila di depan aneka hidangan tersebut. Terlihat seseorang mulai berbicara. Mereka menyebutnya Guru Baca atau tokoh adat. Guru Baca lalu berdoa kemudian diikuti oleh anggota keluarga.

Biasanya, Guru Baca dalam acara Suro'baca ini melantunkan ayat-ayat Al-qur'an dilanjut dengan doa untuk para leluhur agar mendapat keselamatan akhirat dan keluarga yang ditinggalkan juga mendapatkan keselamatan, kesehatan, dan dimudahkan rezekinya. "Biasanya kami berkumpul dirumah nenek dan kakek. Kemudian mereka yang memimpin doa," jelas Rahmadani salah seorang suku Bugis warga Kota Makassar dikutip dari Antara.

Usai berdoa, sesi paling ditunggu pun tiba. Semua hadirin akan menyantap hidangan tersebut bersama-sama. Abdul Wahid, sesepuh biasa memimpin prosesi Suro'baca, mengungkapkan makna tradisi nan turun-temurun dilakukan untuk menyambung persaudaraan.

"Melalui Suro'baca ini, selain memupuk silaturahmi, juga mengajarkan untuk berbagi dengan orang-orang di sekitar kita, menikmati makanan yang lezat-lezat," katan pria nan sudah lebih dari sepuluh tahun bertindak sebagai Guru Baca.

Acara tak habis sampai di situ saja. Bagi kalangan Bugis Makassar, tradisi Suro'baca belum lengkap tanpa ziarah kubur menjelang Ramadhan. Berziarah ke makam keluarga dijadikan sebagai salah satu cara mengingat kematian. Supaya nantinya tidak takabur dan sombong atas apa yang dimiliki saat ini. (Zai)

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH