Propaganda ‘Anti-Barat’ Jepang Lewat Sandiwara Radio Gereja Kristen Immanuel Jemaat Gloria, Jalan Moch Toha, Bandung, dahulu merupakan halaman depan Studio Radio Hoso Kyoku Bandung. (kpi.go.id)

BUANG, berada di persimpangan. Mungkingkah cinta kepada Ata, seorang pejuang perempuan keras hati dan anti-kompromi akan merusak cita-cita perjuangannya. Dia limbung.

Apa sebab utama saya berjuang mati-matian?

Cinta pada tanah air? Cinta pada Ata?

Penggalan kisah Moetiara dari Noesa Laoet gubahan Usmar Ismail, menggema di stasiun pemancar milik Jakarta Hoso Kyoku (Pemancar Radio Jakarta) melalui gelombang 80, 30.

Kisah sandiwara gubahan Usmar Ismail, juga kisah gubahan sastrawan lain, lantas membanjiri ruang siaran radio-radio di bawah kendali Djawa Hoso Kanrikyoku (Biro Pengawas Siaran Djawa).

Selain panggung, menurut Fandy Hutari dalam Sandiwara dan Perang: Propaganda di Panggung Sandiwara Modern Jaman Jepang, propaganda pemerintah pendudukan Jepang melalui sandiwara juga dilakukan melalui radio.

“Pemerintah Jepang melalui Keimin Bunka Shidoso (lembaga kebudayaan bentukan Jepang) bagian kesusatraan menyiarkan sandiwara melalui Pemancar Radio Jakarta untuk menyuarakan tema-tema propaganda mereka, seperti anjuran menambah hasil bumi, semangat peperangan, sejarah tentang kekejaman bangsa Barat, dan cinta tanah air,” tulis Fandy Hutari.

Biro Pengawas Siaran Djawa, di bawah pimpina Tomabechi langsung membuka cabang di kota-kota besar, seperti Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Surabaya, Semarang, dan Jakarta kemudian mulai mengudara pada 7 Maret 1942.

Di Jakarta, siaran mengusung kesusastraan, termasuk sandiwara radio tersaji pada program Pantjaran Sastera. Sandiwara bertajuk Tjitji Kaero (Ajahkoe Poelang) gubahan Kikoetji Kwan membuka siaran perdana sandiwara radio program Pantjaran Sastera, pada 31 Oktober 1943.

Pada siaran tersebut, seturut Asia Raya, 30 Oktober 1943 sebagaimana disajikan Fandy Hutari, dikabarkan bahwa sandiwara radio, “... adalah langkah pertama dari Pantjaran Sastera ke arah perkenalan dan pertalian batin antara bangsa Nippon dan Indonesia”. Sejak itu, sandiwara radio melalui program Pantjaran Sastera rutin mengudara.

Tercatat pada 13 November 1943, disiarkan sandiwara Soemping Soerong Pati gubahan Inoe Kertapati, sebulan berselang sandiwara Diponegoro gubahan Soetomo Djauhar Arifin, tanggal 11 Februari 1944 Manoesia Oetama, 21 Juli 1944 Tanah dan Air, 29 Agustus 1944 Djalan Kembali, dan beberapa karya lainnya.

Sebelum lahir program Patjaran Sastera, menurut Fandy Hutari, sudah ada siaran sandiwara radio semisal program Pantjawarna asuhan Moehammad Saleh Machmoed dan M Arifin, menyiarkan antara lain; Bisikan Soekma nan Moerni tahun 1942, Darah Memanggil karya Achdiat dan Rosidi pada 11 Februari 1943, serta Saidja dan Adinda gubahan Achdiat pada 30 Maret 1943.

“Kemungkinan sandiwara-sandiwara radio ini hanya bersifat hiburan saja tanpa ada maksud propaganda yang tersirat di dalamnya,” tutupnya. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH

  • Kemeriahan Indonesia Menari 2017

    Kemeriahan Indonesia Menari 2017

    Ratusan penari menari pada acara "Indonesia Menari" di Mall The Park, Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah. Gerakan menari bersama yang digelar serentak di tiga kota Solo, Jakarta dan Bandung tersebut bertujuan untuk mengenalkan seni tari kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

  • Pelepasan Satgas Sail Sabang 2017

    Pelepasan Satgas Sail Sabang 2017

    Suasana Upacara Pelepasan Satgas Sail Sabang 2017 di depan KRI Dewaruci sebelum melakukan Ekspedisi Nusantara Jaya di dermaga Terminal JICT 2, Pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Ekspedisi Nusantara Jaya yang akan mengunjungi sejumlah pulau-pulau terdepan di Indonesia tersebut akan berlayar selama 27 hari, mulai dari 20 November hingga 17 Desember 2017.

  • Menjaga Kehidupan di Pulau Kaledupa

    Menjaga Kehidupan di Pulau Kaledupa

    Pulau Kaledupa merupakan salah satu pulau di gugusan kepulauan Tukang Besi yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Nama Kaledupa diambil dari 'Kauhedupa' yang memiliki arti kayu dupa, memiliki lingkungan yang lebih tenang dan seluruh pulau lebih hijau dibandingkan dengan pulau yang lain di Wakatobi