Proklamasi Polisi Istimewa Surabaya Mengaku Setia Kepada Indonesia Pasukan Polisi Istimewa, laskar, dan BKR. (jurnal srigunting)

KABAR Proklamasi Kemerdekaan sampai di Surabaya. Markonis kantor berita Domei (LKBN Antara, kini) Soewardi dan Jakob, limbung ketika akan mewartakan kabar dari Jakarta. Di hadapannya serdadu Jepang berdiri melepas pedang dari sangkur.

Dua jurnalis Domei, Bintarti dan Soetomo sempat curi dengar. Mereka meneruskan berita tersebut kepada pewarta lainnya dan tokoh-tokoh pejuang Surabaya. Juru-juru warta telah bersepakat untuk memberitakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanpa pihak Jepang tahu.

Tak pendek akal. Mereka menerbitkan kabar proklamasi menggunakan bahasa Jawa. Teks Proklamasi berbahasa Jawa muncul di surat kabar Warta Surabaya Syu. Sementara, Radio Surabaya, menurut Barlan Setiadijaya pada 10 November 1945, Gelora Kepahlawanan Indonesia, juru siar mengumandangkan proklamasi menggunakan bahasa Madura.

Kabar kemerdekaan segera meluas hingga ke asrama Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa), di Reiniersz Boulevard (Jalan Soetomo) No. 7. Seorang Agen Polisi III, Nainggolan dan beberapa rekannya menurunkan bendera Jepang, lalu menaikan bendera Merah-Putih, pada 08.00, 19 Agustus 1945.

Aksi mereka terciduk para instruktur Jepang. Mereka bersikukuh Sangsaka Merah-Putih tetap berkibar. Insiden kecil terjadi. Massa pejuang datang. Kalah jumlah, Jepang menyerah. Kejadian tersebut kemudian sampai di telinga Inspektur Polisi M Jasin.

Jasin memerintahkan semua anggota menggunakan ban lengan dengan tulisan “Poelisi Repoeblik Indonesia”. Dia langsung bergegas menuju Koblen untuk berkoordinasi kepada para rekannya.

Di sudut lain kota Surabaya, markas tentara Jepang diserbu para pejuang. Senjata PETA dan Heiho dilucuti, kendaraan berat beralih, bahkan sampai bahan pakaian untuk seragam pun ludes diambil pejuang Surabaya. Dari semua perangkat militer Jepang, hanya Tokubetsu Keisatsutai atau Polisi Istimewa lolos dari pelucutan.

“Kenapa mereka dipulangkan pak? dan kenapa kita tidak boleh cuti?,” tanya Moekari, seorang anggota Polisi Istimewa kepada komandannya, M. Jasin.

“Apa kamu takut mati?”

“Tidak,” jawab Moekari pendek, sambari menggeleng.

Jasin mengajak petinggi militer Jepang rapat bersama di asrama Polisi Istimewa. Debat kencang sempat terjadi ketika membahas keberpihakan Polisi Istimewa. Jasin kukuh memihak republik. Rapat buntu.

Jasin memecah rapat, hanya mengajak rekannya sesama polisi Indonesia. Dari situ terjalin kesepakatan penting, Polisi Istimewa berpihak pada Indonesia.

Pada sebuah apel pagi, dua hari berselang, 21 Agustus 1945, di hadapan 250 personel PPI dan 50 pegawai, M. Jasin membacakan Proklamasi Pasukan Polisi berisi kesetiaan terhadap Republik Indonesia.

Proklamasi

Ontoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945, dengan ini menjatakan poelisi sebagai Poelisi Repoeblik Indonesia.
Soerabaja, 21 Agoestoes 1945

ttd,


Moehammad Jasin
Inspektoer Poelisi Tk I

Teks Proklamasi Pasukan Polisi terpatri pada sebuah monumen terletak di perempatan Jalan Polisi Istimewa Surabaya. Pasukan Polisi Istimewa (PPI) lantas berganti nama menjadi Polisi Republik Indonesai (PRI). (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH