Profesi 'Gamer' Tetap Butuh Pendidikan Formal? Profesi gamer tetap butuh pendidikan formal (Foto: Pexels/John Petalcurin)

"SAYA sangat bangga, ini jadi brand pertama yang memberikan beasiswa kepada gamer," tutur Rob Clinton Kardinal semringah, Jumat (17/1) Siang di Main Atrium Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan. Pemuda itu merupakan Ketua Umum Asosiasi Olahraga Video Games Indonesia.

Rob, sapaan akrabnya, sangat senang. Karena untuk pertama kalinya, gamer bisa mendapatkan beasiswa pendidikan formal. Siang itu, brand Laptop Acer mengumumkan bahwa juara 1-juara 4 kompetisi Predator League yang dihelat di Mal tersebut pada 17-19 Januari 2020, berhak mendapatkan beasiswa penuh di BRI Institute.

Baca juga:

Dijamin Sengit, Predator League 2020 Bakal Suguhkan Kompetisi PUBG dan Dota 2

Predator League merupakan kompetisi gim yang mempertandingkan gim daring PUBG dan Dota 2. Pemenang tak hanya mendapatkan beasiswa, mereka juga berkesempatan mewakili Indonesia di Filipina di babak grand final untuk memperebutkan hadiah uang Rp6 miliar.

Berbicara soal gim, agaknya memang sulit disatukan dengan belajar formal. Tahu sendiri kan, dari kecil orang tua pasti menyuruh anaknya membatasi bermain gim supaya bisa fokus dalam belajar.

Namun, seiring berkembangnya teknologi, beberapa tahun belakangan, gamer malah menjadi profesi baru. Mereka disebut sebagai pro player. Bahkan profesi ini amat menjanjikan. Uang jutaan rupiah bahkan ratusan juta rupiah bisa diraup dalam waktu satu bulan.

Rob Clinton Kardinal (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Meski begitu, bukan berarti pro player tidak membutuhkan pendidikan formal. Menurut Rob, setiap profesi tetap membutuhkan pendidikan formal karena bisa membentuk jati diri seseorang. "Misalnya, para gamer ini nanti mereka kan jadi bisa memanage financial mereka," papar Rob kepada merahputih.com.

Penghasilan pro player memang selangit. Hal ini kata Rob, bisa membuat mereka yang mayoritas masih berusia muda tergiur untuk menggunakan uang mereka tanpa batasan. Dengan adanya pendidikan formal, ini bisa membuka pikiran mereka dalam mengatur keuangan. "Mereka dapat uang besar kan ya. Padahal mereka belum tahu uang ini mau buat apa," tegas Rob.

Baca juga:

5 Fakta Sony PlayStation One, Konsol Pilihan Gamer 90-an

Lalu, apakah sulit membagi waktu antara bermain gim dan belajar formal? Bagi Rob tidak. Banyak orang yang salah beranggapan bahwa pro player tidak memiliki kegiatan lain selain berada di depan layar gawai.

Justru, seorang pro player tidak membutuhkan waktu hingga 10-12 jam untuk mengasah kemampuan mereka di dunia digital. "Ini yang banyak orang salah, mereka itu sebenarnya cuma main game paling lama 4-5 jam. Sisanya mereka membicarakan strategi," tegas Rob.

Pro player paling lama hanya berlatih bermain game selama 4-5 jam (Foto: Pexels/Soumil Kumar)

Dengan begitu, pemain gim profesional tetap memiliki banyak waktu untuk mengasah kemampuan akademis mereka. Bagi mereka yang kuliah, berlatih bermain gim bisa dilakukan sepulang kuliah atau di malam hari yang tentunya tidak mengganggu waktu belajar.

Selain itu, lanjut Rob, menjadi seorang pro player bukanlah perkara mudah. Jangan harap kalau kamu anak 'kemarin sore' dalam bermain gim, langsung bisa menjadi pro player dalam waktu singkat.

Berprofesi sebagai gamer berpenghasilan ratusan juta rupiah sama sulitnya seperti menjadi atlet sepak bola. Kamu tetap membutuhkan bakat bermain gim untuk menunjang karier di industri eSports (kompetisi main gim daring). "Orang main game tiap hari bisa. Tapi kalau bakatnya belum ada ya jadi hobi aja," tukas Rob. (ikh)

Baca juga:

Kerja Sama Razer dan Nio Ciptakan Mobil SUV Impian Para Gamer

Kredit : digdo


Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH