Praktik Sati Bukan Sekadar Bunuh Diri Sati. (andrewcorbett.nett)

KEMATIAN Kim Jong-Hyun atau terkenal dengan nama pentas Jonghyun, dedengkot boyband ternama Korea Selatan SHINee, Senin (18/12) menambah deretan panjang selebritas dunia mengakhiri hidup dengan jalan bunuh diri. Praktik bunuh diri tak lagi dipandang sebagai tindakan kriminal semata, tapi melibatkan beragam dimensi mulai tekanan psikologis hingga jalan spiritual.

Di tanah air, praktik bunuh diri atau dikenal dengan Sati sempat mewarnai lakon sejarah bangsa. Lumrahnya, Istri atau para selir paling setia ketika raja mereka hendak dikremasi akan melakukan Sati menceburkan diri kepada api.

Ma Huan, salah satu anggota ekspedisi ketiga dinasti Ming (China), merekam prosesi Sati saat salah seorang raja meninggal saat dirinya bertandang ke Jawa sekira 1413 atau 1415 M.

Saat seorang raja meninggal dan hendak dikremasi, sang istri, para selir, serta para pembantu perempuan bersumpah di hadapan pemimpinnya, “Dalam kematian, kami akan ikut dengamu,” tulis Ma Huan dikutip JVG Mills pada The Overall Survey of the Ocean Shores (Ying-yai Sheng-lan).

Mereka perlahan menaiki bangunan serupa tangga. Saat api mulai melahap jenazah sang raja, mereka menari berputar-putar, lantas.... melompat ke kobar api hingga menjadi abu.

Praktik Sati merupakan komitmen kuat untuk sehidup-semati dengan sang jenazah. Dalam konteks suami-istri, menurut I Made Suparta, pengajar Jawa Kuna FIB UI, merupakan satya wacana (benar dan setia dalam berucap), satu dari lima satya ajaran Hindu.

Ketika sepasang kekasih menikah, mereka akan melakukan upacara Agni Hotra. Mempelai perempuan akan mengucap janji setia di hadapan Api (manifestasi Hyang Agni), melakukan satya wacana bersungguh-sungguh menerima mempelai lelaki sebagai Swami, guru atau dewa.Tak heran bila sang suami kelak meninggal, istrinya akan melunasi janji mengakhiri hidup di kobar api.

“Sati merupakan simbol kesetiaan tertinggi perempuan Hindu,” ungkap Suparta.

Praktik Sati di Nusantara tak lagi ditemukan pada sumber-sumber sejarah pada abad 18. Meski begitu, bukan berarti praktiknya hilang begitu saja. Praktik Sati mengalami perubahan pada pelaksanaannya. Mereka, para istri, tak lagi bunuh diri melompat ke api.

Esensi kesetian kepada suami, lanjut Suparta, tetap terlihat saat upacara kematian di Bali. Di Setra Tampuagan, Bangli, Bali pada pertengahan 2006, seorang janda hadir pada perabuan suaminya melakukan praktik Sati dengan membuka gelung rambut, membiarkan rambutnya terurai di depan umum.

“Membuka gelung rambut di hadapan umum sebenarnya sangat tabu bagi perempuan Bali, tapi dia berani menghina dirinya. Itu bentuk Satinya. Sementara bagi pria lainnya, itu merupakan pernyataan tegas janda tersebut tidak akan menikah lagi,” ungkap Suparta.

Setelah rambut terurai, janda tersebut akan menggunakan ujung rambutnya untuk membersihkan tempat kremasi (patulangan) sebelum jenazah suaminya diletakan dan dikremasi.

Sati merupakan praktik langka tentang kesetiaan, dan tak sekadar praktik bunuh diri. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH