Prabowo Diminta Perhatikan Alutsista Biar TNI Enggak Kehilangan Perwira Terlatih Pesawat TNI AU jatuh di daerah permukiman penduduk di Desa Kubang Jaya Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Senin (15/6/2020) pagi. (ANTARA/HO)

Merahputih.com - Anggota Komisi 1 DPR Syaifullah Tamliha menilai, peristiwa jatuhnya pesawat jet tempur BAe Hawk 209 milik TNI AU pada Senin (6/6/) kemarin yang waktunya cukup berdekatan dengan jatuhnya helikopter MI-17 milik TNI AD (6/6) menunjukkan ada masalah pada perawatan alutsista TNI yang harus menjadi perhatian serius Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Ia berujar, perawatan sangat penting mengingat alutsista saat ini banyak yang bermasalah diantaranya karena banyak alutsista yang sudah berumur dan minimnya suku cadang.

Baca Juga

Warga Kira Anggota TNI-AU yang Keluar dari Pesawat Sedang Latihan Terjun Payung

"Kita tidak ingin peristiwa jatuhnya pesawat atau helikopter kembali terjadi karena tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, namun juga meninggalnya para perwira TNI yang terlatih," jelas Syaifullah kepada wartawan di Jakarta, Selasa (16/6).

"Sehingga pesawat dan helikopter atau kendaraan militer lainnya yang digunakan harus dipastikan benar-benar mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya," tambah dia.

enteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto mengunjungi Universitas Pertahanan (Unhan) di Kampus Sentul, Rabu (13/5). Foto: Humas Unhan
Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto mengunjungi Universitas Pertahanan (Unhan) di Kampus Sentul, Rabu (13/5). Humas Unhan

Ia menyebut, saat ini di semua matra TNI, masalah perawatan menjadi hal serius, karena keterbatasan perawatan membuat banyak alutsista yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

"Kemampuan tempurnya berkurang yang juga berimbas pada kerawanan atas keselamatan anggota TNI yang menggunakannya," jelas Syaifullah.

Salah satu kendala klasik pada perawatan dan pengadaan alutsista adalah keterbatasan anggaran pertahanan yang masih yaitu sebesar Rp 131 T atau masih di bawah 1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Padahal idealnya anggaran pertahanan tidak kurang dari 1,5% dari PDB," jelas Syaifullah.

Baca Juga

Dramatis! Pilot TNI-AU Melontarkan Diri ke Udara Saat Kecelakaan Pesawat

Ia melihat Kemenhan sudah berusaha memaksimalkan anggaran yang sudah ada. Diantaranya dengan menekan adanya mafia perdagangan alutsista, sehingga harga beli bisa lebih murah dibanding sebelumnya.

"Saya meminta kepada Kemenhan untuk memastikan bahwa pembelian alusista dan suku cadangnya benar-benar yang berkualitas, dan sesuai dengan medan tempur dan pertahanan di Indonesia," tutup Syaifullah. (Knu)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH