berita-singlepost-banner-1
Popularitas Wapres Jeblok, Fahri Hamzah: Tugas Pak Ma'ruf Itu Simbolik Aja Wakil Presiden Ma'ruf Amin (Foto: Antara/Fransiska Ninditya)
berita-singlepost-banner-2
berita-singlepost-mobile-banner-7

MerahPutih.com - Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah menilai tugas Wakil Presiden Ma'ruf Amin di pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanya untuk menjaga simbol partisipasi kelompok Islam.

"Kalau menurut saya tugas pak Ma'ruf itu simbolik aja. Dia menjaga simbol partisipasi kelompok islam di dalam pemerintahan dan itu yang harus beliau jaga gitu," kata Fahri, menanggapi jebloknya hasil survei bagi Ma'ruf Amin dalam rilis Indo Barometer, kepada wartawan di kawasan Senayan, Selasa (18/2).

Baca Juga:

PKS: Tujuh Stafsus Milenial Presiden Jangan Cuma Jadi Aksesoris

Fahri melihat Ma'ruf Amin justru tak terlibat dalam urusan teknis pemerintahan. Menurut dia, tugas tokoh Nahdlatul Ulama (NU) itu menjaga harmoni di antara pemerintah dengan masyarakat. "Khususnya kalangan santri dan kalangan islam," ujar Fahri.

Politikus Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah mengkritisi Erick Thohir saat ditemui wartawan di Kompleks Parlemen RI Senayan Jakarta, Selasa (19/11/2019). (ANTARA/Abdu Faisal)
Politikus Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah mengkritisi Erick Thohir saat ditemui wartawan di Kompleks Parlemen RI Senayan Jakarta, Selasa (19/11/2019). (ANTARA/Abdu Faisal)

Mantan Wakil Ketua DPR ini menjelaskan bahwa tupoksi Wapres dalam sistem demokrasi yang dianut Indonesia berfungsi sebagai 'ban serep'. "Kalau tidak difungsikan dia simbolik aja. Tapi jangan lupa, dia adalah orang yang tidak bisa diganti karena dia dipilih oleh rakyat, dia kuat sekali," kata dia.

"Saya mendorong pak Ma'ruf itu membawa mainstream rekonsiliasi yang sudah dipidatokan pak Jokowi waktu pelantikan," imbuh Fahri.

Baca Juga:

Staf Khusus Didominasi Kaum Milenial, Presiden Jokowi Ingin Pertajam Inovasi

Dengan demikian, lanjut Fahri, Ma'ruf Amin dapat menjadi simbol rekonsiliasi yang dimaksudkan oleh Presiden Jokowi. Tidak usah terlibat terlalu teknis seperti ngurus jalan dan ngurus jembatan.

"Lebih baik dia jaga aja pikiran supaya bangsa ini jangan bertengkar gitu loh. Karena itu saya mendorong pak Ma'ruf jangan berpihak, kalau bisa dia ambil jalan tengah dari pikiran-pikiran yang moderat gitu jadi dia jangan mengambil titik ekstrim dari pikiran itu. Itu peran yang paling baik ya," tutup mantan kader PKS itu. (Pon)

Kredit : ponco

berita-singlepost-mobile-banner-3
Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH


berita-singlepost-banner-4
berita-singlepost-banner-5
berita-singlepost-banner-6