Polri Hargai Temuan Ada Pelanggaran HAM dalam Kasus Penembakan Laskar FPI Kadiv Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono (tengah) didampingi Kabag Penum Divhumas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan (kanan). (ANTARA/ HO-Polri)

MerahPutih.com - Komnas HAM menyebut ada pelanggaran saat penembakan terhadap laskar Front Pembela Islam (FPI) oleh anggota kepolisian.

Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono menghargai hasil temuan dari Komnas HAM soal kasus penembakan laskar FPI di Tol Jakarta-Cikampek, beberapa waktu lalu.

"Tentunya yang pertama Polri menghargai hasil investigasi dan rekomendasi dan Komnas HAM," kata Argo kepada wartawan di gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (8/1).

Baca Juga:

Komnas HAM Sebut Penembakan 4 Anggota FPI Pelanggaran HAM

Polri, saat ini masih menunggu surat resmi dari Komnas HAM terkait dengan hasil penyelidikan dan investigasi tersebut.

Nantinya, hasil rekomendasi itu akan dipelajari oleh Polri untuk menentukan langkah selanjutnya.

"Tentunya akan kami pelajari rekomendasi maupun surat itu yang masuk ke Polri," ujar Argo.

Dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Jumat (8/1), Ketua Tim Penyelidikan dan Pemantauan Komnas HAM Choirul Anam mengatakan, dari hasil penyelidikan diketahui terdapat enam orang anggota FPI yang meninggal dalam dua konteks yang berbeda.

Anam menyatakan, sebanyak dua anggota FPI meninggal dunia dalam peristiwa saling serempet antara mobil yang mereka pergunakan dengan polisi, di antara Jalan Internasional Karawang sampai km 49 Tol Cikampek.

Sebuah adegan di titik lokasi keempat dalam rekonstruksi penembakan anggota FPI di jalan Tol Jakarta-Cikampek. (ANTARA/Ali Khumaini)
Sebuah adegan di titik lokasi keempat dalam rekonstruksi penembakan anggota FPI di jalan Tol Jakarta-Cikampek. (ANTARA/Ali Khumaini)

Ia membacakan hasil penyelidikan Komisi Nasional HAM bahwa empat orang lainnya yang masih hidup dan dibawa polisi. Kemudian diduga ditembak mati dalam mobil petugas saat dalam perjalanan dari km 50 menuju Markas Polda Metro Jaya.

Anam mengatakan bahwa dari keterangan saksi, anggota kepolisian diduga melakukan kekerasan terhadap empat anggota FPI yang masih hidup, memerintahkan mereka jalan jongkok dan tiarap.

Disampaikan juga bahwa petugas kepolisian memerintahkan rekaman video dari lokasi kejadian untuk dihapus.

Petugas bahkan melakukan pemeriksaan terhadap ponsel milik orang-orang di sekitar lokasi, diduga untuk memastikan tidak ada video yang direkam dari kejadian tersebut.

"Terdengar perintah petugas untuk menghapus rekaman dan pemeriksaan handphone," jelas Anam.

"Petugas mengatakan penangkapan ini terkait narkoba," ujar Anam.

Baca Juga:

Gelar Rekontruksi, Komnas HAM Belum Simpulkan Kematian 6 Anggota FPI

Terkait penemuan ini, Komnas HAM merekomendasikan dilanjutkannya proses hukum dengan hukum pidana.

Langkah ini bertujuan untuk mendapatkan kebenaran materiil lebih lengkap demi keadilan.

"Proses hukum tidak boleh dilakukan di internal, harus peradilan umum. Harus dilakukan pendalaman penegakan hukum terhadap orang-orang yang ada di dalam mobil Avanza hitam B 1759 PWI dan Avanza silver B 1278 KGB," terangnya.

Hasil investigasi Komnas HAM juga akan disampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan diharapkan akan ditindaklanjuti. (Knu)

Baca Juga:

Polri Tanggapi Hasil Temuan Komnas HAM soal Kasus Kematian 6 Pengawal Rizieq

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Epidemiolog Nilai COVID-19 Masih Terkendali, Masyarakat Diminta Tetap Berhati-hati
Indonesia
Epidemiolog Nilai COVID-19 Masih Terkendali, Masyarakat Diminta Tetap Berhati-hati

Penggunaan aplikasi PeduliLindungi juga harus dilakukan secara konsisten

Bersikap Kritis, Generasi Milenial dan Z Cenderung Pilih Demokrat dan PKS
Indonesia
Bersikap Kritis, Generasi Milenial dan Z Cenderung Pilih Demokrat dan PKS

Jika dibandingkan dengan tren dalam setahun terakhir, elektabilitas PDIP berkurang banyak, sedangkan Gerindra cenderung stagnan.

90 Lebih Warga Suku Anak Dalam Bakal Punya e-KTP
Indonesia
90 Lebih Warga Suku Anak Dalam Bakal Punya e-KTP

Rencananya, Menteri Sosial Tri Rismaharini akan meninjau perekaman data Nomor Induk Kependudukan (NIK)

Terus Usut Dugaan Kebocoran Data BPJS, Polisi: Tergantung Kepentingannya
Indonesia
Terus Usut Dugaan Kebocoran Data BPJS, Polisi: Tergantung Kepentingannya

Penyidik masih bekerja memeriksa sejumlah pejabat BPJS Kesehatan dan vendor teknologi informasi

Polisi Belum Tetapkan Tersangka Pelaku Bully Anak Ayu Ting Ting
Indonesia
Polisi Belum Tetapkan Tersangka Pelaku Bully Anak Ayu Ting Ting

Yusri menyebut jika unsur yang disangkakan telah lengkap, maka pihak penyidik akan segera memanggil terlapor Ayu Ting Ting untuk dimintai keterangan beserta kelengkapan barang bukti.

Heboh Warga Barter Sepatu dengan Susu Formula, Gibran Berikan Pekerjaan sebagai Linmas
Indonesia
Heboh Warga Barter Sepatu dengan Susu Formula, Gibran Berikan Pekerjaan sebagai Linmas

Ari Prasetyo (39) merasa lega setelah punya pekerjaan tetap baru sebagai anggota linmas di Kelurahan Sondakan, Laweyan, Solo, Jawa Tengah.

Alasan Bareskrim tak Kunjung Tangkap Jozeph Zhang
Indonesia
Alasan Bareskrim tak Kunjung Tangkap Jozeph Zhang

Mabes Polri belum menemui titik temu untuk menangkap buronan kasus dugaan penistaan agama Jozeph Paul Zhang yang kini berada di luar negeri.

Pemerintah Keluarkan Aturan Pembatasan Berkumpul Selama Nataru
Indonesia
Pemerintah Keluarkan Aturan Pembatasan Berkumpul Selama Nataru

Yang travelling itu, mereka yang sudah divaksin

Akhir Pekan Ini Mal di Bandung Diprediksi Dibanjiri Pengunjung
Indonesia
Akhir Pekan Ini Mal di Bandung Diprediksi Dibanjiri Pengunjung

"Kita ingatkan lagi di saat nanti terjadi pelanggaran sesuai regulasi maka konsekuensinya itu ditutup,” kata Ema Sumarna.

Luncurkan Aplikasi Propam Presisi, Kapolri Cari Anggota Polisi Bandel
Indonesia
Luncurkan Aplikasi Propam Presisi, Kapolri Cari Anggota Polisi Bandel

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo me-launching aplikasi Propam Presisi sebagai bentuk implementasi pengaduan masyarakat terkait dengan kinerja-kinerja dari aparat kepolisian.