Polri Diminta Tegas ke Pelaku Kriminal dan Terorisme Analis intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta (Foto: Dok Pribadi)

Merahputih.com - Pengamat intelijen dan keamanan, Stanislaus Riyanta menilai upaya menekan aksi terorisme, kriminalitas dan mencegah terjadinya konflik di masyarakat perlu dilakukan dengan upaya-upaya tertentu.

"Saat ini aparat keamanan seperti Polri dan TNI sudah melakukan segala upaya untuk memastikan keamanan masyarakat tetap terjamin. Terhadap para teroris, provokator, dan pelaku kriminal dengan kekerasan. Polri harus bertindak tegas," kata Stanislaus kepada Merahputih.com di Jakarta, Selasa (19/5).

Baca Juga

Rencana Pelibatan TNI Tangani Teroris Timbulkan Konflik Kepentingan

Namun demikian, Stanislaus meminta Polri perlu hati-hati dan bijak dalam menangani pelaku kriminal yang didorong karena terdesak kebutuhan pangan. Aksi bakti sosial Polri dan TNI untuk memastikan masyarakat tetap terpenuhi kebutuhan pangannya adalah suatu tindakan yang bijaksana.

Aparat keamanan harus membangun kolaborasi dengan masyarakat untuk memastikan di wilayahnya masing-masing bebas dari sumber ancaman.

"Hubungan yang erat antara masyarakat dengan aparat keamanan akan menjadi benteng untuk mencegah gangguan keamanan. Kolaborasi antara aparat keamanan dengan masyarakat serta, harus terus dilakukan agar pada masa pandemi COVID-19 ini kriminalitas, terorisme dapat dicegah dan konflik massa tidak terjadi," katanya.

Pengamat Intelijen Stanislaus Riyanta (Foto: Dok Pribadi)

Ia menilai potensi konflik massa juga bisa terjadi pada massa pandemi COVID-19. Salah satu kelompok yang mencoba melakukan provokasi untuk konflik massa, dia mencotohkan adalah kelompok Anarko.

Kelompok tersebut melakukan aksi di Tangerang beupa vandalisme yang cenderung provokatif. Tiga pelaku ditangkap aparat di sebuah kafe di wilayah Kota Tangerang pada Jumat (10/4). Kemudian dua orang lagi ditangkap di Bekasi dan Tigaraksa Tangerang.

"Kelompok Anarko ini menentang kapitalisme dan pemerintah. Selain ini provokasi-provokasi dari kelompok tertentu yang mengarah kepada perlawanan terhadap pemerintah juga terjadi,"

Sementara itu, penasehat Ahli Kapolri, Prof. Muradi meyakini Indonesia akan berada pada situasi normal kembali "new normal" meskipun pasein virus corona terus mengalami peningkatan setiap harinya.

"Sekali lagi saya optimis dalam 1, 2, dan 3 minggu ke depan ini kita bisa lebih normal, "new normal" begitu," katanya.

Baca Juga

Rencana Pelibatan TNI dalam Tangani Terorisme Berpotensi Langgar Hak Warga

Namun demikian, Muradi mengatakan diperlukan instrumen lain untuk memperkuat aparat keamanan dalam mengantisipasi situasi keamanan nasional. Jika tidak, menurut Muradi, aparat keamanan akan mengalami degradasi dalam menegakkan aturan di tengah ketatnya pembelakuan PSBB di masa pandemi COVID-19 ini.

"Tapi teman-teman yang berada digarda terdepan, katakanlah Kepala Daerah dan juga Provinsi karena dengan cara itu pemerintah pusat menginisiasi, menstimulasi program untuk menangani COVID-19 ini," katanya. (Knu)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH