Politisi PDI Perjuangan Bantah Usulan Amandemen UUD 1945 Inisiatif Partainya Logo PDI Perjuangan (Foto: pdip.or.id)

MerahPutih.Com - Konstelasi politik Tanah Air diramaikan dengan wacana amandemen UUD 1945 yang bergulir belakangan ini. Pro dan kontra pun menyeruak. Politisi Gerindra Fadli Zon termasuk salah satu yang menentang usulan tersebut. Menurutnya, amandemen UUD 1945 dilontarkan kelompok tertentu demi kepentingan politik sesaat.

Tak mau berpolemik, PDI Perjuangan yang disebut-sebut sebagai inisiator amandemen tergerak untuk memberikan klarifikasi. Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah membantah usulan amandemen kelima UUD 1945 berasal dari partainya. Pasalnya, usulan tersebut sudah tercetus sejak tahun 2010.

Baca Juga: Fadli Zon Kritik Keras Wacana Amandemen UUD 1945

Menurut dia, Kongres PDIP V di Bali yang merekomendasikan agar MPR melanjutkan rencana amandemen terbatas UUD 1945 untuk menghadirkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) hanya meneruskan rencana yang sudah disepakati oleh pimpinan fraksi di MPR RI dan kelompok DPD RI.

Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah bantah usulan amandemen UUD 1945 berasal dari partainya
Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah (Foto: antaranews)

"Saya ingin meluruskan agar masyarakat tidak terkecoh dengan amandemen terbatas UUD 1945, itu bukan semata-mata usulan PDIP," kata Basarah di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (13/8).

Lebih lanjut aktivis GMNI ini menjelaskan, MPR RI dibawah kepemimpinan Taufik Kiemas mendapatkan aspirasi dari berbagai kelompok masyarakat yang menginginkan amandemen UUD 1945.

Menurut dia, atas usulan masyarakat itu ada tiga kelompok yang menyikapinya, yaitu kelompok yang meminta kembali ke UUD yang asli, kelompok yang menilai amandemen UUD 1945 sudah cukup baik, dan kelompok yang menilai diperlukan kembali perubahan UUD 1945.

"Dari tiga kelompok tersebut direspon oleh Pimpinan MPR dan pimpinan fraksi MPR periode 2009-2014 dengan membentuk tim kerja kajian ketatanegaraan, yaitu dengan menyerap aspirasi yang berkembang di masyarakat. Lalu disimpulkan bahwa masyarakat menginginkan MPR memiliki wewenang membuat haluan negara," ujarnya.

Baca Juga: Pakar Hukum Tata Negara Nilai Rencana Pemberlakuan Kembali GBHN Mubazir

Ahmad Basarah sebagaimana dilansir Antara mengatakan, atas aspirasi itu maka pada Sidang Paripurna MPR pada November 2014 dikeluarkan rekomendasi tujuh poin, salah satunya merekomendasikan MPR periode berikutnya melakukan reformulasi sistem ketatanegaraan dengan menghadirkan kembali GBHN.

Dia mengatakan, rekomendasi itu sudah atas nama lembaga MPR, berarti 10 partai dan DPD RI menyetujui dilakukan amandemen terbatas untuk menghidupkam kembali GBHN.

"Lalu oleh MPR RI periode 2014-2019 ditindaklanjuti dengan membentuk tim kerja kajian ketatanegaraan yang ditingkatkan derajatnya menjadi Badan Kajian Ketatanegaraan lalu bekerja yang kesimpulannya perlu dilakukan amandemen terbatas untuk menghadirkan GBHN," tutup Basarah.(*)

Baca Juga: Politisi PKS Desak Perlunya GBHN Sebagai Panduan Arah Pembangunan



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH