"Politik Tuyul dan Babi Ngepet", Sindiran Kubu Prabowo untuk Petahana Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono (Foto: MP/Fadhli)

MerahPutih.com - Kalimat saling sindir mewarnai perpolitikan Indonesia menjelang Pemilu 2019. Setelah kubu Jokowi memunculkan "politik sontoloyo dan genderuwo". Kini, giliran kubu Prabowo yang mempopulerkan "politik tuyul dan babi ngepet".

Wakil Ketua DPP Partai Gerindra Arief Poyuono memunculkan istilah ini untuk menggambarkan kelakuan politisi yang suka melakukan kecurangan pemilu.

Waketum Gerindra Arief Poyuono
Arief Poyuono (kiri). (MP/Yohanes Abimanyu)

Politik tuyul yang dimaksud adalah yang suka copet dan menghilangkan suara pada kotak- kotak suara di KPU daerah, PPK dan PPS.

"Politik tuyul biasanya sering digunakan oleh petahana di setiap perhelatan pemilihan umum," kata Arief melalui siaran persnya di Jakarta, Sabtu (10/11)

Politik tuyul ini, kata mantan aktivis buruh itu, biasanya terstruktur dan masif. Dan biasanya, dimulai dari memframing opini di media massa dengan mengunakan lembaga survei, dan propaganda.

Langkah berikutnya, tambah Arief, politik tuyul biasanya dilakukan melalui teknologi komputer dengan melakukan kecurangan dengan manipulasi data IT.

Selain itu ada juga istilah "politik babi ngepet." Kalimat ini adalah strategi mendekati dan mengesek-gesek pihak lain yang bisa diajak ikut melakukan kecurangan.

Presiden Jokowi. Foto: Twitter

"Politik tuyul dan babi ngepet lebih mengerikan dari "politik genderuwo" yang dikatakan Presiden Joko Widodo bisa nakut-nakuti, dan mengkhawatirkan serta menciptakan kebencian di masyarakat, sebab politik tuyul dan babi ngepet ini sama saja nipu suara rakyat," ucapnya.

Dia pun menduga, kedua istilah ini tengah berlangsung jelang Pilpres 2019 mendatang.

"Saya sudah mencium adanya gelagat akan ada politik tuyul dan politik babi ngepet pada Pemilu 2019 kayaknya," pungkasnya. (Fdi)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH