Polisi Israel Kembali Bentrok dengan Jemaah yang Sedang Beribadah Petugas keamanan Israel di Masjid Al Aqsa, Jerusalem. (Screenshoot Muslimvillage)

MerahPutih - Bentrokan terjadi di luar kompleks Masjid Al-Aqsa di Jerusalem Timur, saat penguasa Yahudi menerapkan langkah keamanan baru di pintu gerbang Masjid tersebut.

Media Palestina melaporkan beberapa orang Palestina cedera akibat bentrokan itu. Satu tayangan video di televisi berita Israel, Channel 2, memperlihatkan polisi anti-huru-hara memukuli dan menentang pengunjuk-rasa di luar kompleks Tempat Suci tersebut.

Puluhan orang yang akan beribadah berdiri di luar Pintu Gerbang Domba di Kota Tua Jerusalem dan melaksanakan salat di tempat terbuka sebagai protes atas tindakan baru tersebut. Sebagian perempuan menangis dan berteriak bahwa Al-Aqsa berada dalam bahaya, sementara yang lain berteriak "dengan semangat kami, kami akan membebaskanmu Al-Aqsa!" Israel merebut Jerusalem Timur, tempat Masjid Al-Aqsa berada, bersama dengan bagian lain Tepi Barat Sungai Jordan dan Jalur Gaza selama Perang Timur Tengah 1967. Israel selanjutnya mencaplok Jerusalem Timur, dan mengakuinya sebagai bagian dari "ibu kotanya yang abadi dan tak terpisahkan" dalam tindakan yang tak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Seorang polisi mengatakan satu orang ditangkap karena membuat kerusuhan.

Tindakan Israel itu, termasuk pemasangan CCTV yang mencakup seluruh kompleks tersebut, pos pemeriksa keamanan dan alat pendeteksi logam di semua pintu masuk, dipasang setelah tiga orang Palestina dengan kewarganegaraan Israel menembak-mati dua polisi Yahudi pada Jumat pagi. Akibatnya Israel menutup kompleks itu.

Itu adalah untuk pertama kali dalam 50 tahun Israel menutup kompleks itu, tempat suci ketiga umat Muslim.

Pada Minggu, Israel membuka kembali tempat suci tersebut tapi mengharuskan semua pelancong untuk menjalani pemeriksaan keamanan melalui alat pendeteksi logam yang dipasang di dua pintu masuk. Hanya warga Muslim dari Jerusalem yang diperkenankan masuk.

Polisi, sebagaimana dilaporkan Xinhua yang dipantau Antara di Jakarta, Senin (17/7) pagi, mengatakan mereka berencana secara bertahap membuka pintu masuk tambahan, setelah memasang detektor logam. Waqaf, lembaga agama Islam yang mengelola kompleks itu, menolak tindakan baru tersebut dan menolak untuk menunaikan shalat di masjid itu. Lembaga Waqaf menyatakan tindakan tersebut adalah pelanggaran terhadap status quo.

Omar Kiswani, Direktur Masjid Al-Aqsa, mengatakan kepada wartawan di luar lokasi itu bahwa "penutupan tersebut, pendudukan, dan pencegahan warga mengumandangkan azan adalah tidak adil dan merupakan pelanggaran terhadap resoluasi PBB serta kesepakatan internasional".

"Kami menganggap pemerintah Yahudi bertanggung-jawab atas perubahan yang telah mereka buat di Masjid Al-Aqsa dan merampas wewenang kami atas Masjid itu," kata Omar.(*)

Sumber: ANTARA



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH