Polisi Hentikan Kasus Dugaan Pelanggaran Kampanye Ketua PA 212 Slamet Ma'arif Ketua PA 212 Slamet Ma'arif saat diperiksa Polresta Solo beberapa waktu lalu (MP/Ismail)

MerahPutih.com - Polisi menghentikan penanganan kasus dugaan pelanggaran kampanye yang dilakukan oleh Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Ma'arif saat tablig akbar di Jalan Slamet Riyadi, Gladak, Solo, Jawa Tengah, Selasa (26/2).

Alasan pertama dihentikannya kasus tersebut diantaranya masih adanya perbedaan penafsiran mengenai kampanye dari sejumlah ahli yang didatangkan.

"Ada tiga alasan yang mendasari penghentian penanganan kasus ini. Hal itu sesuai pertimbangan dari posko Penegakan Hukum Terpadu atau Gakkumdu," ujar Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Agus Triatmaja, Selasa (26/2).

Alasan kedua, polisi belum bisa membuktikan niat atau mens rea dari tersangka dalam melakukan perbuatannya. Apalagi Slamet Maarif dua kali tidak hadir dalam pemeriksaan sebagai tersangka.

"Kita belum bisa memeriksa Slamet Ma'arif untuk membuktikan mens rea di acara tablig akbar," kata dia.

Ketua Presidium Alumni 212 Slamet Ma'arif diperiksa Polresta Solo
Pengacara tersangka Slamet Ma'arif, Ahmad Michdan (dua dari kiri) mendatangi Mapolresta Solo, Kamis (7/2). (MP/Ismail)

Sedangkan alasan terakhir, penghentian perkara tersebut dilakukan berdasarkan pertimbangan dari posko Penegakan Hukum Terpadu atau Gakkumdu. Pertimbangan dari Gakkumdu diperlukan lantaran penanganan kasus itu telah melewati tenggat waktu yang ditentukan.

"Kita hanya memiliki waktu 14 hari untuk menyidik kasus itu dan melimpahkannya ke kejaksaan," kata dia.

Kasus itu bermula dari pidato yang disampaikan Slamet Ma'arif pada acara tablig akbar di Solo, pertengahan Januari lalu. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Solo menyimpulkan adanya indikasi pidana pemilu dalam bentuk pelanggaran kampanye sehingga melimpahkan kasus itu ke kepolisian.

Slamet Ma'arif saat mendatangi Mapolresta Solo
Ketua PA 212 Slamet Ma'arif bersama kuasa hukumnya saat mendatangi Mapolresta Solo (MP/Ismail)

Gakkumdu di Solo melimpahkan berkas kasus itu ke Polresta Solo pada tanggal 1 Februari. Polresta Solo periksa Slamet Ma'arif sebagai sakai selama 6,5 jam pada tanggal 7 Februari. Kemudian Slamet Ma'arif ditetapkan sebagai tersangka pada tanggal 10 Februari.

Slamet disangka melanggar pasal 280 Undang Undang tentang Pemilu. Pasal tersebut mengatur tentang larangan kampanye di luar jadwal yang telah ditetapkan oleh penyelenggara pemilu. Atas pelanggaran itu, Slamet diancam pidana penjara maksimal satu tahun dan denda maksimal Rp12 juta (pasal 492 UU Pemilu), atau penjara dua tahun dan denda paling banyak Rp24 juta (pasal 521 UU Pemilu). (Ism)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH