Polemik Kelompok Islamis di KPK, Pengamat: Novel Didatangi Sesama Baswedan, Lengkap Sudah Pengamat Komunikasi Politik UI Ade Armando. (MP/Fadhli)

Merahputih.com - Pengamat komunikasi politik Ade Armando menilai Wadah Pegawai (WP) KPK secara perlahan didominasi oleh kaum Islamis. Ketuanya pada 2016-2018 adalah Novel Baswedan. Dan sejak 2018, diketuai oleh Yudi Purnomo.

"Novel sendiri kabarnya bukan bertipe radikal. Tapi dia memang kecewa karena Presiden Jokowi dianggapnya tidak serius memerintahkan anakbuahnya membongkar kasus penyiraman air keras ke wajahnya beberapa tahun lalu," kata Ade dalam keterangannya, Selasa (18/9).

Baca Juga:

Agus Rahardjo Undang Penyebar Isu Taliban Lihat Jeroan KPK

"Apalagi kemudian, kaum Islamis terus mendekati dan berada di belakang Novel. Oh ya jangan lupa, Novel didatangi juga oleh sang Gubernur DKI yang sesama Baswedan. Lengkaplah sudah," imbuh Ade.

Pembesaran kekuatan yang didominasi kaum Islamis inilah yang turut mendorong lahirnya narasi Taliban di KPK seperti yang diramaikan kemudian.

kpk
Gedung Merah Putih KPK (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

"Persoalannya juga, para pimpinan KPK seperti tidak berdaya menghadapi pembesaran kekuatan WP. Kewibawaan pimpinan KPK di hadapan WP terkesan rendah," sesal Ade.

Ade menyebut, fakta bahwa memang ada kelompok Islamis yang aktif bergerak inilah yang kini dijadikan bukti oleh mereka yang berusaha menggolkan Revisi UU KPK dan mengarahkan proses pemilihan pimpinan KPK bahwa KPK tidak lagi independen dari kepentingan-kepentingan politik dan ideologis di luar KPK.

Baca Juga:

Kesalahan Fundamental Dalam Revisi UU KPK

"Kehadiran kaum Islamis jadi (salah satu) jalan masuk bagi pengendalian kewenangan KPK," ungkapnya.

Ade yakin, perang melawan korupsi dan perang melawan islamis adalah dua agenda perang terpenting Indonesia saat ini. "Kaum Islamis jelas ada di KPK. Tapi itu tidak boleh menjadi alasan bagi pelemahan KPK," pungkas Ade. (Knu)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH