Pocut Baren, Srikandi Gunong Macang yang Bikin Perwira Belanda Kecut Ilustrasi Pocut Baren (MerahPutih/Alfi Rahmadhani)

MerahPutih Nasional - Seorang wanita dari Tanah Rencong yang membuat geger para petinggi militer Belanda adalah Pocut Baren.

Sejarah mencatat sedikitnya 19 petinggi militer dikerahkan secara bergantian untuk menangkap dirinya. Mereka antara lain adalah Letnan J.H.C. Vastenon, Letnan O.O. Brewer, Letnan W. Hogers, Kapten T.J. Veltman, Kapten A. Geersema Beckerrigh, Kapten F. Daarlang, Letnan A.H. Beanewitz, Letnan H.J. Kniper, Sersan Teutelink, Sersan van Daalen, Sersan Bron, Letnan C.A. Reumpol, Letnan W.v.d. Vlerk, Letnan W.L. Kramers, Letnan H. Scheurleer, Letnan Romswinkel, Sersan Duyts, Sersan de Jong, Sersan Gackenstaetter dan lain-lain

Selain membuat Para perwira Militer Belanda pusing tujuh keliling, sepak terjang Pocut Baren mengobarkan perang dari tahun 1903 hingga 1910 membuat balatentara belanda porak poranda.

Pocut Baren terlahir sebagai putri seorang bangsawan pada tahun 1880. Ayahnya seorang uleebalang di Tungkop, Aceh Barat, bernama Teuku Cut Amat. Pocut dibesarkan dalam lingkungan Aceh. Hal inilah ini membentuk Pocut menjadi seorang perempuan tangguh, berani, dan militan untuk mengusir Belanda dari tanah kelahirannya.

Pocut Baren pun bertekad untuk bergabungkan dengan para pejuang Aceh. Saat beranjak dewasa Pocut pun berjuang bersama-sama dengan Cut Nyak Dhien. Pocut dan Cut Nyak Dhien sama-sama berjuang di daerah Aceh Barat. Mereka bahu-membahu melancarkan perang gerilya. Pocut Baren dengan setia terus mendampingi Cut Nyak Dhien, tidak semata lewat perlawanan terhadap Belanda namun juga dalam pengembaraan bersama dari satu tempat ke tempat lain, dari satu hutan ke hutan lain dengan menahan lapar dan penderitaan. Lewat Pengalaman bertempur yang diperoleh dari perjuangan bersama Cut Nyak Dhien, Pocut Baren pun kian kukuh untuk terus melawanan Belanda.

Dalam suasana perang, Pocut menikah dengan seorang uleebalang di Gume, Woyla Barat, bernama Ampon Rasyid. Bersama dengan suaminya mereka memimpin perlawanan rakyat daerah Woyla. Pasangan suami-istri tersebut secara bahu membahu, keluar masuk hutan bergerilya melawan Belanda.

Ujian terberat Pocut Baren pun datang, rekan seperjuangan yang sangat dihormati Pocut Baren, yakni Cut Nyak Dien ditangkap Belanda pada tanggal 6 november 1905. Disusul kemudian tewasnya Ampon Rasyid, suami Pocut dalam pertempuran melawan Belanda di wilayah Keujren Game, Aceh Barat.

Kehilangan rekan seperjuangan dan suami tidak membuat Pocut kehilangan semangat atau pun bermuram durja. Saat tampuk pimpinan perang kini berada di pundaknya Pocut pun melakukan mobilisasi pasukan yang terserak dan membangun benteng perang di Gunung Macan yang dijadikan sebagai pusat pertahanannya.Bersama pasukan yang berhasil di himpunya, Pocut Baren kembali mengatur strategi guna melakukan penyerangan terhadap Belanda.

Di gambarkan oleh H.C. Zentgraaff, Pocut Baren selalu diiringi oleh semacam pengawal, terdiri dari lebih kurang tiga puluh orang pria. Kemana-mana ia selalu memakai peudeueng tajam (pedang tajam), sejenis kelewang bengkok, mungkin sejenis pedang Turki yang sangat terkenal di pantai Barat.

Berbagai serngan yang dilakukan Pocut Baren terhadap tangsi-tangsi militer atauun patroli tentara Belanda membuat para petinggi militer Belanda pusing tujuh keliling, dan mereka kembali terpaksa harus mendatangkan bala bantuan dari Batavia.

Mengutip dari buku Wanita Aceh: "Negarawan dan Panglima Perang", serangan yang dilakukan pihak militer belanda terhadap benteng pertahanan pocut Baren sangatlah tidak berimbang Pasukan Belanda bahkan membakar benteng pertahanan Pocut Baren saat para pasukan srikandi tungkop tersebut sudah terdesak.

Ali Hasjmy menggambarkan,"Serangan besar besaran balatentara Belanda yang dipimpin oleh Letnan Hoogers pada tahun 1910, membuat benteng pertahanan Pocut Baren di Gunong Mancang pun luluh lantak menjadi lautan api dan baru padam setelah nyaris sepekan. Pembakaran ini menyisakan mayat-mayat yang gosong di Gunong Macang termasuk mayat Teuku Cut Ahmad, ayah Pocut Baren," papar AliHasjmy.

Pocut Baren bersama sisa pasukannya yang selamat kembali membangun pertahanan baru di sebuah kaki bukit yang strategis. Letaknya tidak jauh dari Tangsi Militer Belanda di Tanoh Mirah. Pocut pun kemudian menyusun strategi untuk melakukan serangan balasan.

Pocut Baren pun memutuskan menyerang markas Belanda.Penyerbuan ini menelan korban di kedua belah pihak. Tak hanya itu Pocut Baren pun berhasil dilumpuhkan. Kakinya terluka parah, akibat tertembak.Pocut Baren ditawan Belanda.

Perlawanan panglima perang Tungkop yang gagah berani ini pun berakhir.

Bagaimana nasib Pocut Baren selanjutnya akankah ia mendapat hukuman setimpal dari pihak Bela ? Apakah Pocut akan bernasib sama seperti rekan seperjuangan yang dikaguminya Cut Nyak Dhien yang di buang ke pulau Jawa? Simak selengkapnya di artikel berikutnya. (man)

BACA JUGA:

  1. Laksamana Malahayati Singa Perang yang Lihai Berdiplomasi
  2. Laksamana Malahayati, Wanita Penguasa Selat Malaka
  3. Mengungkap Sosok Wanita Hebat di Belakang Pangeran Diponegoro
  4. Penyair Perempuan Rayakan Hari Kartini dengan Puisi di Tembi
  5. Perlawanan Terakhir Srikandi Nusa Laut, Martha Christina Tiahahu


Ana Amalia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH