PM Abe Tegaskan Kerjasama dengan AS dan Korsel untuk Hadapi Korut Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe. (Foto: EPA)

MerahPutih.Com - Jepang tidak akan meninggalkan sekutunya yakni Amerika Serikat dan Korea Selatan dalam menghadapi Korea Utara. Kerja sama Jepang dengan Amerika dan Korea Selatan justru semakin diperkuat guna mengantisiasi ancaman Korut.

Penegasan kerja sama tersebut disampaikan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Tokyo, Jumat (9/2) sebelum berangkat menghadiri Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang. PM Abe menyatakan dunia harus tahu bahwa Jepang tetap bermitra dengan AS dan Korsel.

Abe, yang dijadwalkan bertemu dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada Jumat, mengatakan bahwa ia dan Wakil Presiden AS Mike Pence memberitahu bahwa Washington dan Tokyo tetap teguh secara penuh pada pertemuan di ibukota Jepang pada minggu ini.

"Dengan mempertimbangkan hal itu, saya ingin membuat pertemuan pemimpin (dengan Moon) mengirim pesan kepada dunia bahwa kerjasama AS-Jepang-Korea Selatan terhadap ancaman Korut tidak akan goyah," katanya.

Delegasi tingkat tinggi Korea Utara, termasuk adik perempuan Kim Jong Un, akan bertemu dengan Moon dan makan siang dengannya pada Sabtu.

Detente Olimpiade Utara-Selatan telah menimbulkan kekhawatiran di Washington dan Tokyo bahwa Seoul dapat mengurangi kampanye "tekanan maksimum" oleh AS dan sekutu-sekutunya untuk membuat Pyongyang menghentikan program nuklir dan misilnya.

PM Shinzo Abe sebagaimana dilansir Antara dari Reuters juga mengatakan akan menyampaikan posisi Tokyo pada Moon dalam sesi kesepakatan bilateral 2015 tentang "wanita penghibur", di mana banyak orang Korea dipaksa bekerja di rumah bordil militer Jepang selama Perang Dunia Kedua, sambil mendesak hubungan dua arah yang berorientasi pada masa depan.

Jepang dan Korea Selatan berbagi sejarah pahit yang mencakup kolonisasi Jepang di semenanjung Korea pada 1910-1945 dan isu "wanita penghibur" sangat sensitif.

Dalam kesepakatan 2015 antara Jepang dan Korea Selatan, yang disepakati oleh pendahulu Abe dan Moon, Jepang meminta maaf kepada mantan "wanita penghibur" dan memberikan dana sekitar Rp120 miliar untuk membantu mereka.

Namun, Korea Selatan telah mengatakan bahwa kesepakatan tersebut gagal memenuhi kebutuhan korban dan meminta lebih banyak upaya perbaikan.

Keputusan PM Abe menghadiri upacara pembukaan olimpiade itu menyulut kemarahan beberapa pendukung konservatifnya, yang menolak seruan tersebut, dengan mengatakan bahwa kesepakatan tersebut tidak akan diubah, bahkan satu milimeter pun.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH