PKB Desak Pertamina Turunkan Harga BBM Operator SPBU melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) ke kendaraan konsumen di SPBU Dago, Bandung, Jawa Barat, Minggu (5/1/2020). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ama.

MerahPutih.com - Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Daniel Johan mendesak Pertamina untuk segera menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mengingat di tingkat global terjadi penurunan yang sangat signifikan.

"Sekarang harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun bertengger di level 19,54 dolar AS per barel, ini sangat jauh dibanding ketika penetapan harga sebelumnya oleh pemerintah dan Pertamina di Indonesia," ujarnya di Jakarta, Kamis (16/4)

Baca Juga

DPR: Turunkan Harga BBM dan Tarif Listrik!

Menurut dia, dengan menyesuaikan harga tersebut, setidaknya akan memberi dampak ekonomi ke masyarakat terutama nelayan dan usaha ekspedisi.

"Kalau BBM harganya turun bisa mengurangi beban masyarakat, PLN, industri, dan mampu meningkatkan daya beli, selain harga BBM yang murah akan mendorong harga kebutuhan pokok ikut turun," kata Daniel dilansir Antara.

Karyawan melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) kendaraan konsumen di SPBU Coco Plaju, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (20/2/2020). Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/hp
Karyawan melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) kendaraan konsumen di SPBU Coco Plaju, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (20/2/2020). Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/hp

Ia menambahkan BBM sudah menjadi kebutuhan hidup masyarakat di luar sembako, sehingga masyarakat berharap dengan harga yang murah. Khususnya bagi nelayan yang harus melakukan penangkapan ikan karena mereka lah yang akan menyelamatkan rakyat terhadap ketersediaan pasokan pangan.

Selain itu, juga akan memberi dampak ke petani di desa-desa, serta logistik antarwilayah membutuhkan BBM yang murah untuk mengurangi beban masyarakat terhadap energi.

Baca Juga

Harga Minyak Anjlok, Pertamina Dituntut Turunkan Harga BBM

"Apalagi saat ini Arab Saudi memberikan diskon besar-besaran hingga 8 dolar AS per barrel kepada Asia. Hal ini dilakukan karena pasokan dunia saat ini melimpah dan ketegangan antar Rusia dan Arab Saudi tentang kesepakatan produksi yang belum mencapai titik temu. Jadi harusnya segera ada penyesuaian harga dari pengambil kebijakan," pungkasnya. (*)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH