Pimpinan Muhammadiyah Imbau Masyarakat Waspadai Provokasi Kepentingan Pihak Tertentu Ketum PP Muhamamdiyah Haedar Nashir (tengah) di Kantor Muhammadiyah Yogyakarta,. (MP/Teresa Ika)

MerahPutih.Com - Selama tahun politik khususnya Pileg dan Pilpres 2019, masyarakat diminta waspadai provokasi kepentingan pihak tertentu yang dapat memicu ketegangan sosial.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau masyarakat untuk tidak mudah disulut kebencian dan kemarahan yang sengaja dilakukan demi kepentingan kelompok tertentu.

"Belakangan ini perhatian masyarakat Indonesia disibukkan oleh beragam isu politik. Banyak dari mereka yang terkotak-kotak berdasarkan kelompok yang mereka dukung, yang kemudian menimbulkan ketegangan yang tidak jarang menjadi konflik," papar Haedar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta, Senin (11/2) kemarin.

Pada seminar Pra-Tanwir Muhammadiyah bertema "Beragama yang Mencerahkan Dalam Perspektif Politik Kebangsaan", Haedar mengatakan keadaan itu menjadi tanda bahwa masyarakat memerlukan pencerahan agar meraka dapat "melihat" dengan lebih baik.

Pimpinan Muhammadiyah Haedar Nashir
Pimpinan Muhammadiyah Haedar Nashir (Foto: Antaranews)

"Sebagai sebuah agama, Islam hadir sebagai pencerahan yang dicerminkan melalui ayat pertama yang diturunkan dalam wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, yakni iqra. Ayat itu turun ketika Nabi Muhammad SAW sedang risau terhadap kondisi masyarakat Arab saat itu," kata pimpinan Muhammadiyah itu.

Keadaan masyarakat Arab saat itu, menurut Haedar Nashir, dapat dideskripsikan dengan kata dzulumat yang diartikan sebagai kegelapan baik dalam kultural maupun struktural.

Haedar sebagaimana dilansir Antara menjelaskan, ayat iqra itu kemudian muncul sebagai tanwir, pencerah, yang memberikan cara untuk keluar dari kegelapan tersebut. Ayat itu memiliki inti untuk menegakkan ilmu dan akal pikiran.

"Dari pemaknaan itu kemudian memunculkan berbagai konsep seperti tafakkur dan tadabbur. Pemaknaan dan penerapan dari iqra tersebut yang kemudian saya rasa sangat berkurang di masyarakat kita saat ini," ujar Haedar Nashir.

Haedar lebih lanjut mengatakan, sekarang ayat-ayat seringkali hanya dikutip untuk kepentingan tertentu atau bahkan digunakan untuk menyulut kemarahan, kebencian, dan pertikaian. Bukan hanya pada isu sosial politik, tetapi juga pada aspek kehidupan sebagai orang beragama.

"Kondisi itu menyebabkan kita menjadi intoleran terhadap perbedaan. Padahal, ketika Islam dimaknai secara kontemplatif, agama ini menuntun kita untuk menjadi pribadi yang berpikir, dan ini yang ingin kita lakukan, mengembalikan Islam pada nilainya yang luhur dan fundamental," pungkas Haedar Nashir.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: TKN Apresiasi Lelang Karya Seni untuk Jokowi-Ma'ruf



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH