Pilpres 2019: Menanti Tarung Ulang Jokowi vs Prabowo atau Calon Baru? Presiden Joko Widodo bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan). (Foto: Biro Pers Setpres)

MerahPutih.Com - Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 masih setahun lagi. Publik menunggu siapa saja figur yang akan maju dalam Pilpres 2019, selain calon petahana Joko Widodo.

Meski masih satu tahun lagi, masyarakat sudah mulai digiring oleh para politisi dan lembaga survei bahwa Pemilu 2019 akan menyajikan kembali "pertandingan" ulang antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Joko Widodo sebagai petahana digambarkan merupakan figur yang memiliki tingkat elektabilitas tertinggi dan paling berpeluang untuk bertahan pada periode kedua kepemimpinannya pada periode 2019-2024.

Sementara itu, Prabowo yang juga Ketua Dewan Pembina dan Ketua Umum DPP Partai Gerindra merupakan lawan tanding paling kuat dan paling memungkinkan untuk membuktikan bahwa kekalahannya pada Pemilu 2014 bisa dibalas pada tahun depan.

Prabowo dan Jokowi di Istana Negara
Jokowi dan Prabowo saat di Istana Negara (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Perbincangan seputar mencari calon pemimpin ini juga tertuju pada siapa tokoh yang bisa mendampingi mereka masing-masing, sebagai calon wakil presiden, yang memiliki daya dorong yang kuat untuk menambah elektabilitas masing-masing calon presidennya.

Perbincangan politikus dan hasil survei tersebut tidak salah, sah-sah saja. Namun, tidak bisa dipakai sebagai opini publik yang benar dan mengikat.

Masa pencalonan presiden dan wakil presiden ke Komisi Pemilihan Umum akan berlangsung pada tanggal 4 hingga 10 Agustus 2018. Masih ada waktu sekitar 3 bulan 10 hari.

Dinamika politik yang berkembang sejauh ini masih sangat terbuka untuk menampilkan lebih banyak calon presiden dan wakil presiden.

Presiden Jokowi sebagaimana dilansir Antara, tentu saja ingin memperpanjang kepemimpinan lima tahunannya untuk memasuki periode kedua, sebagaimana yang pernah dialami Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada periode 2004 s.d. 2009 dan 2009 s.d. 2024, berpeluang memimpin kembali.

Prabowo yang ingin membalas kekalahannya juga berpeluang. Begitu pula, sejumlah nama lain bisa menjadi calon presiden, seperti Jusuf Kalla, Gatot Nurmantyo, Rizal Ramli, Zulkifli Hasan, Anies Baswedan, Budi Gunawan, Puan Maharani, Sri Mulyani, atau Ahmad Heryawan.

Jokowi dan Prabowo ketika di Hambalang
Presiden Jokowi dan Prabowo berkuda di Hambalang (Foto Biro Pers Setpres)

Meskipun perbincangan politikus dan lembaga survei berusaha menggiring pada pertandingan ulang antara Jokowi dan Prabowo, pengalaman pemilihan presiden secara langsung sejak 2004 belum pernah menunjukkan pertandingan ulang.

Kontestasi dalam pemilihan presiden tentu saja berbeda dengan pertandingan olahraga yang bisa dijadwalkan dan diatur untuk pertandingan ulang dengan lawan yang sama.

Kalaupun pertandingan ulang Jokowi dan Prabowo berulang, kemungkinan Prabowo akan kalah lagi meskipun kemungkinan menang juga ada. Ke mana potensi kemungkinan itu menguat, bisa diamati dari pengalaman atau pembanding.

Pengalaman 2014 menunjukkan Jokowi dan Prabowo sama-sama tokoh baru untuk tampil dalam pentas nasional dan hasilnya Prabowo kalah.

Jokowi dan Prabowo saat bertemu di Istana
Pertemuan dan makan siang bersama Prabowo dan Jokowi (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Presiden Jokowi dengan pengalaman kepemimpinannya dan capaian hasil kinerja yang bisa dinilai oleh rakyat, lebih berpeluang untuk memenangi pemilihan kembali, kecuali bila terjadi peristiwa luar biasa yang menurunkan tingkat kepercayaan pada pemerintah.

Prabowo dan para pendukungnya tampaknya perlu berpikir ulang untuk melakukan pertandingan ulang dengan Jokowi.

Tawar-menawar kepentingan politik di lima partai pendukung Jokowi masih berpotensi berubah. Lima partai: PDI Perjuangan, Golkar, PPP, Nasdem, dan Hanura telah mendeklarasikan dukungannya untuk Jokowi. Sementara itu, PKB mengusung Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sebagai calon wapres yang ingin dipasangkan bersama Jokowi.

PKB mendukung Jokowi bila memilih Cak Imin, panggilan akrab Muhaimin, sebagai cawapres. Baliho Cak Imin, panggilan akrab Muhaimin, banyak terpasang di berbagai kota, dan telah mendirikan berbagai posko, serta menyosialisasikan diri sebagai cawapres yang akan berduet dengan Jokowi.

Enam partai itu belum memberikan "hitam di atas putih" kecuali hanya pernyataan lisan untuk Jokowi.

Infografis Elektablitas Jokowi vs Prabowo

PDI Perjuangan menginginkan kader atau simpatisan setianya untuk tampil sebagai cawapres dalam mendampingi Jokowi. PPP memberikan lima kriteria cawapres kepada Jokowi, yang mengarah kepada Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy. Tiga partai lainnya sejauh ini menyerahkan sepenuhnya kepada Jokowi.

Bila tidak ada kata sepakat dan pernyataan tertulis bersama dari enam partai, bisa saja poros ini "pecah".

Poros koalisi Gerindra dan PKS pun masih "fragile" alias mudah pecah bila tawar-menawar politik berlangsung keras. Apalagi, Jokowi juga telah melakukan pertemuan dengan pimpinan PKS, begitu juga Jokowi dan utusannya pun telah beberapa kali bertemu dengan Prabowo dan pimpinan Gerindra.

Sementara itu, PAN yang mengusung ketua umumnya, Zulkifli Hasan, sebagai capres belum mendapat respons positif dari partai lain untuk mendukungnya. Partai Demokrat menyodorkan Agus Harimurti sebagai alternatif tokoh muda untuk memimpin negeri.

Jadi, para elite politik dan kelompok berpengaruh saat ini sedang memainkan seni kemungkinan.

Segala sesuatu coba diracik untuk memunculkan kemungkinan-kemungkinan hingga menjelang batas akhir pendaftaran pencalonan pada tanggal 4 s.d. 10 Agustus mendatang, yang mengarah kemungkinan itu menuju kepastian.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Infografis Elektabilitas Jokowi vs Prabowo Jelang Pilpres 2019



Eddy Flo