Pilkada Serentak Saat Pandemi Picu Potensi Besar Praktik Manipulasi Data Pilkada Serentak 2020 (FOTO ANTARA/HO-Humas Pemkot Surabaya)

MerahPutih.com - Pengamat politik Ray Rangkuti menilai, melaksanakan pilkada serentak, baik secara teknis maupun subtansial akan jauh lebih berat saat pandemi COVID-19 berlangsung

Ray mengatakan, Pilkada serentak saat pandemi membuat makin maraknya pelanggaran pada prinsip-prinsip pemilu demokratis.

Baca Juga

Pulihkan Sektor Wisata, Pemerintah Bakal Gelontorkan Dana Rp3,3 Triliun

"Ini membuat tidak tercapainya tujuan pemilu subtansial,"kata Ray kepada MerahPutih.com di Jakarta, Selasa (16/6).

Pada kasus pertama praktiknya akan terlihat dalam soal apakah ada ancaman, intimidasi, bahkan kekerasan dalam pilkada. bully, fitnah, caci maki masuk dalam kategori ini. Di luar itu adalah ada potensi praktik manipulasi suara atau data pemilih.

"Jadi 5 contoh ini merupaka prinsip pemilu demokratis. Jika tak terpenuhi, pemilu atau pilkadanya dapat dinyatakan tidak demokratis," jelas Ray.

Direktur LIMa Ray Rangkuti dalam sebuah diskusi publik di Jakarta (MP/Gomes R)
Direktur LIMa Ray Rangkuti dalam sebuah diskusi publik di Jakarta (MP/Gomes R)

Dalam hal ini, peran Bawaslu sangat dibutuhkan. Termasuk di dalamnya aparat penegak hukum.

Ray menyebut, untuk memastikan tidak adanya ancaman, atau bahkan kekerasan dalam pilkada adalah bagaimana memastikan agar calon-calon kepala daerah bukan saja layak secara pengetahuan, tapi juga secara moral dan rekam jejak.

Baca Juga

Anak Buah Prabowo Minta Bintang Emon Terus Suarakan Kebenaran

Ray meyakini, mereka bukanlah calon yang memiliki masalah hukum, misalnya pernah dipidana korupsi atau narkoba. Selain itu penting untuk menghindari munculnya nepotisme dalam pencalonan. Satu fenomena yang makin mengkristal dalam politik Indonesia, saat ini.

"Inilah tantangan utama dalam pilkada serentak masa COVID-19," tutup Direktur Lingkar Madani Indonesia ini. (Knu)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Densus 88 Masih Dalami Keterkaitan Munarman dengan Jaringan Teroris
Indonesia
Densus 88 Masih Dalami Keterkaitan Munarman dengan Jaringan Teroris

Saat ini, Densus 88 mendalami hubungan Munarman dengan jaringan teroris tertentu.

Umi Kulsum Meninggal Dunia, PKS Bantah akibat COVID-19
Indonesia
Umi Kulsum Meninggal Dunia, PKS Bantah akibat COVID-19

Dalam jangka waktu 1 bulan, dua anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PKS meninggal dunia.

Kasus Edhy Prabowo, KPK Jadwalkan Periksa Gubernur Bengkulu
Indonesia
Kasus Edhy Prabowo, KPK Jadwalkan Periksa Gubernur Bengkulu

Tim penyidik sedianya telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap Gusril pada Senin (11/1) dan Rohidin pasa Selasa (12/1)

Pasien Sembuh COVID-19 Capai 1.112.725 Orang
Indonesia
Pasien Sembuh COVID-19 Capai 1.112.725 Orang

Pemerintah kembali memperbarui informasi soal penanganan wabah virus corona (COVID-19).

Revisi RPJMD, Ketua Komisi A DPRD DKI Minta Anies tak Masukan Event Formula E
Indonesia
Revisi RPJMD, Ketua Komisi A DPRD DKI Minta Anies tak Masukan Event Formula E

Pasalnya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI Jakarta sendiri memang menurun tajam akibat pandemi corona.

Tertangkap Lagi, Ridho Rhoma Minta Maaf Gegara Gagal Lawan Adiksi Terhadap Narkoba
Indonesia
PAN: Jangan Lagi Ada Korban Kebiadaban KKB
Indonesia
PAN: Jangan Lagi Ada Korban Kebiadaban KKB

PAN mendukung langkah dan kebijakan aparat Kepolisian untuk menciptakan ketertiban sosial

Satgas Beberkan Provinsi yang Alami Penurunan Pesat COVID-19
Indonesia
Satgas Beberkan Provinsi yang Alami Penurunan Pesat COVID-19

Data sederhana ini mencerminkan pentingnya komunikasi yang terjalin

17 Rumah Hanyut akibat Banjir Bandang di Flores Timur
Indonesia
17 Rumah Hanyut akibat Banjir Bandang di Flores Timur

BNPB mencatat 256 jiwa warga mengungsi di Balai Desa Nelemawangi dan sejumlah warga lainnya ke Balai Desa Nelelamadike.

Ribuan WNI di Luar Negeri Terinfeksi COVID-19
Indonesia
Ribuan WNI di Luar Negeri Terinfeksi COVID-19

Jumlah WNI yang positif COVID-19 baik di dalam maupun luar negeri terus bertambah.