'Phubbing' Perlahan Tapi Pasti Menjebak Pengguna Ponsel Terlalu sibuk bermain game online daripada bercanda tawa bersama teman sekitar (Foto: Pexels/zhang kaiyv)

TERJADI secara bertahap hingga menguasai diri seseorang. Phubbing merupakan fenomena ponsel pintar mengambil alih seluruh perhatian dan fokus penggunanya. Fenonema ini tak mengenal usia, memungkinkan terjadi pada semua kalangan dan generasi.

Pertumbuhan teknologi dari masa ke masa semakin menyanggupi kebutuhan manusia. Sayangnya, perkembangan tak melulu menghadirkan sisi positif. Tersimpan pula dampak negatif. Namun semua tergantung kepribadian dan perilaku pengguna gawai masing-masing.


Baca Juga:

Kecanduan Gawai? Begini Cara Habiskan Waktu Lebih Baik Bersama Pasangan

ponsel
Utamakan kebersamaan di meja makan daripada sibuk upload foto. (Foto: Pexels/helena loper)

Mulai dari hal menyenangkan hingga meresahkan. Kegunaan awal untuk berkomunikasi jarak jauh dan praktis, bisa saja berujung negatif. Fenomena phubbing dimaknai sebagai tindakan seseorang yang terjebak dalam candu ponsel pintar. Terjadi penolakan secara tak sadar untuk memisahkan diri dengan gawai. Biasanya, terlihat pada pengguna yang selalu memeriksakan gawainya setiap beberapa menit sekali. Bahkan, ada yang lalai dan melukai diri sendiri karena asyik menggunakan gawainya.

Fenomena phubbing mewakili kebosanan seseorang saat bertatap muka dengan lawan bicaranya dan memilih berinteraksi via ponsel. Kata phubbing merupakan kependekan dari Phone Snubbing. Sebutan phubber bagi pelaku phubbing dan sebutan phubbed bagi korban phubbing. Pertama kali populer di tahun 2012. Istilah ini sempat memenuhi agensi periklanan di Australia, McCann dengan memasang kampanye Stop Phubbing.

Kehadiran telepon genggam yang serba canggih mendorong perilaku masyarakat yang antisosial. Kembali viral melalui studi Dr James Roberts dan Dr Meredith David asal Baylor University di Texas, fenomena phubbing semakin memprihatinkan. Menurut laman CNN Indonesia dari 143 responden, 70 persen di antaranya mengaku tak bisa lepas dari telepon genggam dan melakukan phubbing.

Baca Juga:

Ini Waktu yang Tak Tepat dalam Menggunakan Gawai

ponsel
Sibuk dengan ponsel pintar hingga melupakan kebersamaan. (Foto: Pexels/afta putta gunawan)


Terdapat studi yang mengungkapkan, candu gawai bisa menurunkan kualitas hubungan dalam ikatan pernikahan. Dikabarkan ada pasangan yang menjadi pelaku phubbing hingga mengalami depresi. Fenomena phubbing memiliki dampak buruk berkepanjangan. Timbulnya kerusakan hubungan diakibatkan tak terpenuhinya kebutuhan inti. Melansir dari laman healthline, meliputi hilangnya kepercayaan diri, tak memaknai waktu, ketidakmampuan mengontrol diri, dan ketidakpedulian dengan sekitarnya.

Keasyikan mengakses internet, juga memengaruhi kesehatan mentalmu. Terlebih bagi kamu yang sibuk terlibat dalam urusan media sosial. Keseringan mengakses media sosial bisa menimbulkan perasan cemas hingga depresi. Hal ini ditandai dengan rasa tak percaya diri, kecemburuan, ketidakmampuan meraih sesuatu dan perasaan negatif lainnya.

Meski begitu, rasa candu gawai ini dapat diatasi secara perlahan. Untuk melepaskan kebiasaan buruk mengakses gawai, mulailah dengan membatasi diri dalam memeriksa notifikasi. Atur gawai menjadi mode getar atau senyap. Tanamkan pikiran untuk berfokus pada dunia nyata, bukan dunia maya. Biasakan memposisikan diri sesuai pada tempat dan waktunya. Jika waktunya makan bersama, hindari meletakkan gawai dekat denganmu. Ciptakan suasana yang nyaman dengan bercerita atau menanyakan kabar terbaru. Jika tak berhasil, cobalah dengan membuat tantangan diri. Beri reward atau penghargaan diri kalau berhasil. (Dys)

Baca Juga:

Berikut Beberapa Kiat Bermanfaat untuk Kurangi Penggunaan Gawai pada Anak


Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH