Pesta Rakyat Cap Go Meh Waduk Pluit Hadirkan Ragam Kesenian Nusantara Perayaan Cap Go Meh di Waduk Pluit, Jakarta, Sabtu (3/3). (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

SUARA musik Sapek atau dawai khas suku Dayak berteman nada lincah Salung bergema di Taman Waduk Pluit. Sejurus kemudian tiga penari Kancet Papatai merangsek meningkahi alunan musik.

Atraksi tarian Suku Dayak, Kancet Papatai. (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

"Ciiaaaattttt...," teriak salah seorang penari pembawa mandau dan perisai menggelorakan semangat. Ketiganya lantas bergerak menyusur. Mereka berolah gerak memandu tamu, Wakil Wali Kota Jakarta Utara, Junaedi Msi. Begitu tiba di depan panggung, dua di antara ketiga penari melakukan gerakan berduel menggunakan mandau dan perisai.

Selesai berperang, salah seorang penari mengambil Sumpit, lalu membidik sebuah balon di atas panggung. "Daarrrr," balon pecah terkena anak panah. Si penari pun mengajak Pak Junaedi memainkan Sumpit.

Begitu ditiup, anak panah melesat mengenai balon berwarna merah. Sumpitan Pak Wakil Wali Kota tersebut menjadi pembuka acara Pesta Rakyat Budaya Cap Go Meh, Taman Waduk Pluit, Jakarta Utara, (3/3).

"Acara ini merupakan pesta rakyat dengan beragam kesenian Nusantara. Jadi, peringatan Cap Go Meh sekaligus menampilkan budaya Indonesia," ungkap Junaedi kepada merahputih.com.

Pesta Rakyat, lanjut Junaedi, diusung di acara Cap Go Meh ini merupakan ajang terbaik untuk membuka mata bagi masyarakat luas mempelajari sekaligus mendalami kebhinekaan. "Saya sangat mengapresiasi acara ini, dan semoga jadi agenda rutin," ungkap Junaedi.

Selain tarian khas suku Dayak, Kalimantan, terdapat beragam kesenian asal daerah lain se-Nusantara. Sesudah Dayak, berganti kemudian tarian khas Papua.

Seorang lelaki mengenakan Swesi (topi bulat berbulu burung Cendrawasih) dan bawahan rumbai naik ke panggung. Dia memukul Tifa semacam kendang khas Papua untuk memanggil beberapa penari.

Tarian Tapea khas Papua. (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

Para penari dengan busana Swesi, Sekan, Walimo, dan bawahan rumbai lantas menarikan tarian Tapea khas Papua. Selagi pukulan Tifa melaju cepat, tarian pun semakin semarak. Penonton dari berbagai kalangan dan latar budaya kontan menghadiahi tepuk tangan keras.

Setelah tari Tapea, pertunjukan dimeriahkan paduan suara Bhineka, lalu atraksi Barong Sai. Ragam kesenian tersebut, menurut William Hui, merupakan bentuk kemeriahan pesta rakyat pada perayaan Cap Go Meh.

"Kami tidak lagi merayakan Cap Go Meh di gedung-gedung dan kalangan terbatas karena Cap Go Meh milik semua orang Indonesia. Inilah Pesta Rakyat sesungguhnya," ujar William, ketua penyelenggara acara Pesta Rakyat Budaya Cap Go Meh Waduk Pluit.

Bentuk pesta rakyat, lanjut William, tak sebatas soal pesta dan atraksi-atraksi kesenian tapi juga dibarengi dengan bhakti sosial seperti pengobatan gratis, gunting rambut gratis, dan beragam acara sosial lainnya.

Atraksi kesenian barongsai. (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

"Sebanyak 1.000 anak anak kurang mampu dan yatim-piatu kami undang untuk mengikuti acara ini. Mereka bisa bebas bermain di arena permainan anak dan mengikuti kegiatan kebudayaan khas Indonesia," pungkas William. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH