Pesan Menyentuh dari Seniman Disabilitas Jiwa Tentang Terorisme Shan Rafael Saputra. (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

ISU terorisme yang terjadi beberapa waktu belakangan ini mencoreng bangsa Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini disematkan untuk bumi pertiwi pun seolah sudah memudar. Seluruh lapisan masyarakat berduka, tak terkecuali anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan cara yang unik, menyampaikan harapannya untuk persatuan bangsa Indonesia. Para seniman disabilitas tersebut membawa salam perdamaian melalui mural.

Seniman dengan autisme tersebut menyampaikan harapannya akan perdamaian bangsa Indonesia di Festival Bebas Batas yang dimulai sejak Senin (14/5), di Galeri Nasional.

Kegiatan ini dirancang untuk melengkapi Asian Para Games, olimpiade untuk para disabilitas yang akan diselenggarakan pada Oktober 2018. Bebas Batas merupakan festival pertama di Indonesia yang menampilkan karya seni para seniman berkebutuhan khusus.

anfield wijaya
Karya Anfield Wiajaya. (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Festival tersebut diselenggarakan oleh Direktorat kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; Galeri Nasional Indonesia; Art Brut Indonesia. Acara ini juga mendapat dukungan dari berbagai lembaga seperti British Council Indonesia, PT Angkasa Pura II, PT Transportasi Jakarta, RSJD Dr. Arif Zainuddin, Surakarta; RSJ Provinsi Bali; RSJ Bandar Lampung; RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat, Lawang; RSJ Dr Eoeharto Heerdjan, Jakarta dan Think Web.

Sebanyak tujuh seniman autisme berpartisipasi pada pembukaan Festival Bebas Batas. Mereka adalah Claire Nicole Siregar, Calliandra Alexa Roshetko, Aziza Mischa Azalia, Shan Rafael Saputra, Audrey Christabel Angesty, Anfield Wibowo dan Dwi Putro Mulyono Jati. Mural yang mereka buat bergaya doodle art dan dekoratif.

Lukisan yang mereka buat bertemakan Bhinneka Tunggal Ika. Lukisan tersebut dibuat di berbagai media seperti tembok, payung, kaus, dan tenda Dengan gaya lukisan yang naif dan polos, mereka berhasil menyentuh hati masyarakat yang melihat. Bagaimana tidak? Di tengah panasnya isu terorisme yang mengatasnamakan agama, mereka justru menggambarkan kerukunan umat beragama.

calliandra alexa
Calliandra Alexa Roshetko. (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Salah satunya adalah lukisan yang dibuat oleh Anfield Wibowo. Dirinya membuat lukisan lima pemuka agama berdampingan dan tersenyum. Adapun Calliandra Alexa Roshetko menggambarkan beberapa rumah ibadah. Sementara seniman difabel lainnya juga melukiskan kebhinnekaan Indonesia dengan gambar hati, pulau-pulau di Indonesia dan lain-lain. Selain bhinneka tunggal ika, lukisan mereka juga mengangkat tema antikorupsi. Seluruh lukisan tersebut dapat kita lihat di lantai dua kafe Galeri Nasional.

Aktivis Art Brut dan keluarga salah satu seniman, Nawa Tunggal mengungkapkan dalam membuat lukisan-lukisan tersebut, seniman-seniman berbakat tersebut didampingi seorang care giver yang mereka percayai dan mereka turuti. Melalui care giver tersebut, penyelenggara menginstruksi seniman-seniman tersebut untuk menggambar sesuai tema. "Ada diantara mereka yang langsung memutuskan sendiri akan menggambar apa dan juga yang meminta ilustrasi untuk diadaptasi dalam karyanya," ucap Nawa Tunggal.

Untuk anak-anak berkebutuhan khusus uang melihat ilustrasi, biasanya para pendamping akan menunjukkan gambar dari telepon genggam.

Gambar-gambar yang mereka buat memiliki keunikan masing-masing. Salah satu anak, Shan Rafael Saputra menyukai detil yang rumit. Apabila gambarnya terlalu sederhana dia akan cepat bosan dan enggan untuk menggambar. Namun jika detilnya rumit, ia justru akan menggambar dengan tekun.

Sementara Dwi Putro Mulyono Jati, senang melukis berbagai gambar yang ia temukan di buku cerita. Dirinya akan melukis di potongan-potongan kain. Potongan-potongan kain tersebut kemudian ditempel di atas tenda. "Ia sudah membuat hingga 5000 gambar," tutur Nawa Tunggal yang juga kerabat Dwi.

Dwi Putro Mulyono Jati
Dwi Putro Mulyono Jati. (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Dari gambar-gambar yang dibuat, kita bisa melihat dengan jelas emosi yang disampaikan anak-anak autisme tersebut. "Kalau pemilihan warnanya cerah atau ekspresi objek gambarnya tersenyum berarti mereka bahagia," ungkap Nawa Tunggal.

Festival Bebas Batas terdiri dari serangkaian program yang dimulai dari Mei 2018 hingga Oktober 2018. Program diawali dengan lokakarya yang melibatkan partisipasi disabilitas jiwa yang merupakan pasien di lima RSJ yang mendukung festival tersebut. Selanjutnya, karya para pasien RSJ tersebut juga akan dipamerkan di ruang-ruang publik seperti Bandara Soekarno Hatta, Halte Transjakarta, dan Stasiun Kereta Api.

Pameran hasil karya seniman disabilitas jiwa di ruang publik bertujuan agar para seniman ini mendapat ruang untuk berkreasi. "Yang membedakan kita dengan mereka hanya kebutuhannya saja. Mereka berkebutuhan khsusus sementara kita tidak. Namun kita juga memiliki hak yang sama untuk berkarya," ucap Direktur Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan , Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Restu Gunawan.

Adanya ruang apresiasi untuk kaum disabilitas disambut baik oleh pendiri Art Brut Indonesia, Hanna Madness. "Saya senang karena mereka kini bisa berkarya dengan jujur dan polos," tukas Hanna. (avia)

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH