Pesan Aksi Solidaritas Baitul Maqdis ke Pemerintah Untuk Donald Trump Umat Islam berdoa saat mengikuti aksi 115 di kawasan Monas, Jakarta, Jumat (11/5) (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak)

Merahputih.com - Ketua Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis, Bachtiar Nasir meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghentikan langkah provokatifnya seperti memindahkan Kedubes AS ke Yerussalem dari Tel Aviv karena akan memicu ketegangan di dunia.

"Presiden Trump harus siap menerima bayaran atas perbuatannya yang menistakan dan mengotori tanah suci Baitul Maqdis," kata Bachtiar Nasir dalam orasinya di aksi "Indonesia Bebaskan Baitul Maqdis" di Monas, Jakarta, Jumat (11/6).

Bachtiar menegaskan kedatangan ribuan umat Islam di Kawasan Monas adalah untuk menentang keras dan menghentikan rencana Trump yang akan memindahkan Kedubes AS ke Yerussalem.

Menurut dia, langkah AS yang akan memindahkan Kedubesnya ke Yerussalem menjadi momentum bagi agama-agama di seluruh dunia untuk bersatu menghancurkan kezaliman tindakan tersebut.

"Saat ini adalah waktunya bersatu umat muslim dan agama seluruh dunia, saatnya agama-agama didunia dipersatukan untuk hancurkan kezaliman," ujarnya.

Bachtiar mengajak semua pihak untuk menghancurkan kezaliman, kepongahan, dan penjajahan yang terjadi di Baitul Maqdis.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid menyatakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengabaikan suara masyarakat dunia dengan rencananya secara sepihak memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem dari Tel Aviv.

Ribuan umat Islam melaksanakan ibadah Salat Jumat di kawasan Monas, Jakarta, Jumat (11/5). Aksi yang yang bertajuk Indonesia Bebaskan Al-Quds ini sebagai penolakan atas keputusan pemerintah Amerika Serikat yang memindahkan Kantor Kedutaaan Besar AS untuk Israel ke Yerusalem. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak

"Donald Trump telah mengabaikan suara masyarakat dunia yang disampaikan dalam sidang PBB, maupun dari demonstrasi-demonstrasi di dunia," ujar Hidayat di Silang Monas.

Hidayat menilai persoalan Palestina semakin hari semakin membutuhkan perhatian serius. Dia meminta pemerintah besikap lebih tegas lagi dengan segala upaya legal yang dapat dilakukan.

"Langkah AS membahayakan perdamaian di Timur Tengah, khususnya Palestina," tegas dia dikutip Antara.

Hidayat menekankan sudah sewajarnya jika umat Islam bersama umat mana pun, dimana pun berada, bersatu menyelamatkan kota Al Quds (Yerusalem) dari Israel.

Senada, Ketua panitia Aksi Indonesia Bebaskan Baitul Maqdis, Saifuddin Ahmad Syuhada meminta pemerintah Indonesia melawan kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tersebut.

"Kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk berjuang keras menggunakan haknya dalam menekan Organisasi Kerja Sama Islam dan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk bersama melawan keputusan Donald Trump," kata Saifuddin saat membacakan pernyataan sikap dalam aksi "Bebaskan Baitul Maqdis".

Langkah pemerintah Indonesia itu sebagaimana janji pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri selama ini, bahwa Palestina berada di jantung hati kebijakan luar negeri Indonesia. Sementara, aksi Bebaskan Baitul Maqdis juga memberikan beberapa tuntutan, pertama meminta kepada Majelis Umum PBB untuk bersikap tegas atas pelanggaran Donald Trump tersebut.

Umat Islam mengibarkan bendera Palestina saat mengikuti aksi 115 di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Jumat (11/5). Aksi yang yang bertajuk Indonesia Bebaskan Al-Quds ini sebagai penolakan atas keputusan pemerintah Amerika Serikat yang memindahkan Kantor Kedutaaan Besar AS untuk Israel ke Yerusalem. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak

"Ini bertentangan dengan sembilan resolusi Deawan Keamanan PBB, di antaranya resolusi 242 tahun 1967, resolusi 252 pada tahun 1968,resolusi 456 & 478 pada tahun 1980, 672 pada tahun 1990, 1397 pada tahun 2002 dan lain sebagainya," ujarnya.

Dia menilai keputusan sepihak Persiden Trump 6 Desember 2017 ditolak masyarakat dunia dan sejumlah negara, bahkan di sidang darurat Majelis Umum PBB pada 21/2, sebanyak 128 negara mendukung resolusi yang menolak keputusan Trump yang provokatif itu, Namun menurut dia, Trump sama sekali tidak mengindahkan penolakan dunia atas sikap provokatifnya itu bahkan menegaskan akan tetap memindahkan kedutaannya pada 14 Mei mendatang.

"Keputusan ini bertetapan dengan 70 tahun dimulainya pendudukan Israel atas Palestina," katanya.

Kedua dia meminta kepada Pemerintah Amerika Serikat untuk membatalkan pengakuan terhadap eksistensi negara Israel dan rencana pemindahan kedutaannya ke Yerusalem atau Baitul Maqdis, serta keputuaan provokatifnya yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Ketiga, dia meminta OKI untuk bersatu dan menentang keras keputusan Trump tersebut serta menggelar sidang darurat sebagai suara aspirasi umat Islam global.

Keempat, kepada seluruh rakyat Indonesia, agar terus bersatu dalam memperjuangan hak-hak rakyat Palestina hingga mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya dari penjajah Zionis Israel.

Kelima, Saifuddin juga menegaskan kepada ummat Islam Indonesia untuk memperkokoh ukhuwah Islamiyah agar tercapainya tujuan perjuangan pembebasan Baitul Maqdis dan kembalinya Masjid Al-Aqsha kepada kaum muslimin. (*)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH