Perusahaan teknologi Jatuhkan Pasar Saham? Saham perusahaan teknologi mengingatkan pada dotcom bubble. (Foto: benzinga)

DARI laman Time disebutkan bahwa belakangan terjadi kembali dotcom bubble yang mengancam pasar saham. Tahun 1999-2000 selalu diingat dimana pasar saham kehilangan separuh nilainya karena perusahaan dotcom.

Saat ini bau-baunya seperti dotcom bubble mulai terasa. Hanya saja kali ini yang tengah menanjak adalah perusahaan-perusahaan berbasis teknologi. Saham perusahaan-perusahaan itu kembali seperti era dotcom, demikian dalam indeks S&P 500.

Pada tahun 1999, perusahaan dotcom menjanjikan keuntungan yang sangat menggiurkan. Investasi akan kembali 100% dengan sangat cepat. Saat ini yang terjadi di pasar kurang lebih sama.

Dalam 12 bulan belakangan ini banyak perusahaan berbasis teknologi yang sahamnya memiliki nilai ganda sejak dilepas ke pasar. Sebut saja NVDIA, Micron Technology, Lam Research, STMicroelectronics, Weibo, Alibaba atau Shopify.

Biasanya terjadi kenaikan gila-gilaan dari nilai saham yang dilepas ke pasar, demikian menurut laman Time. Seperti Netflix yang mencapai 2500% atau Tesla 1500%. Namun kondisinya belum mampu menangguk keuntungan.

Kembali pada tahun 1999 pergerakan pasar saham memang tinggi namun digerakan hanya oleh segelintir perusahaan. Pada tahun itu terkenal dengan sebutan Four Horsemen, yakni Microsoft, Intel, Cisco System dan Dell.

Untuk dekade sekarang terdapat FANG, yakni Facebook, Amazon, Netflix dan Google. Keempatnya bersama dengan Apple dan Microsoft menguasai seperempat indeks S&P 500 pasar saham Amerika.

Bisa jadi saham Apple dan Microsoft diperdagangkan lebih masuk akal. Laman Time menuliskan, saham yang lain price/earningnya (P/E) rata-rata mencapai 19 berdasarkan pemasukan proyek selama 12 bulan. Lebih mahal tiga kali ketimbang rata-rata P/E selama 10 tahun secara keseluruhan dalam sektor ini. Untuk e-commerce yang tengah naik daun lebih fantastis lagi nilai P/Enya. Seperti Amazon yang mencapai rasio 280.

Yang mengherankan saham-saham yang memiliki harga tinggi, sebut saja Twitter, Snap, Square atau Shopify, mampu menarik perhatian investor. Padahal perusahaan-perusahaan itu selama 12 bulan tidak mendapatkan pemasukan.

Mengapa hal ini terjadi? Seperti dalam laman Time, ini lebih pada optimisme di masa depan. Konon di masa depan perusahaan-perusahaan seperti itulah yang akan lebih bisa berkiprah. Meskipun pada saat ini profitnya masih sedikit. Lebih pada euforia.

Meskipun dibayang-bayangi oleh dotcom bubble, namun pasar mengatakan bahwa saat ini berbeda pada dua dekade sebelumnya. Banyak faktor yang melatarbelakanginya, seperti perbaikan ekonomi yang lamban. (psr)

Kredit : paksi


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH