Pertahankan NKRI Tujuan Utama Didirikannya HMI Sejumlah aktivis HMI menggelar aksi unjuk rasa (Antara Foto)

MerahPutih Peristiwa - Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) XXIX yang berlangsung di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau cukup menarik perhatian banyak pihak. Mulai dari alokasi dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Riau sebesar Rp3 miliar, hingga pelaksanaan kongres yang berlangsung gaduh.

Kongres XXIX dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla di Hotel Labersa, Siap, Kabupaten Kampar pada Minggu (22/11) sedangka kegiatan Kongres XXIX dilaksanakan di Gelanggang Olahraga Remaja, Pekanbaru, Provinsi Riau pada 22-26 November 2015.

Agus Salim Sitompul dalam bukunya berjudul Sejarah Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam 1947-1975 terbitan PT Bina Ilmu, Surabaya: 1976 menjelaskan bahwa HMI adalah organisasi mahasiswa independen yang didirikan pada tanggl 5 Februari 1947 di daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Tujuan utama didirikannya HMI adalah untuk mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakat Indonesia serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.

Di awal revolusi fisik dan agresi militer Belanda HMI juga berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia namun tidak menggunakan nama HMI melainkan dengan nama Perhimpunan Perserikatan Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang dipimpin oleh Ahmad Tirtosudiro salah satu kader HMI.

Selanjutnya pada tahun 1948 saat meletus pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun, PPMI juga berperan. PPMI membentuk Corps Mahasiswa (CM) dengan Hartono dan Ahmad Tirtosudiro sebagai Komandan dan wakil Komandannya.

Bersama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI), pasukan Brigade Mobil (Brimob), PPMI berjuang memberantas pemberontakan PKI di Madiun. Dalam waktu dua minggu pemberontakan PKI di Madiun bisa ditumpas.

Panglima Besar Jenderal Sudirman yang juga Panglima TNI pertama dalam sebuah dies natalis HMI pertama di bangsal Kepatihan Yogyakarta tanggal 6 Februari 1948 memuji HMI. Dalam sambutannya Jenderal Besar Sudirman berkata bahwa HMI bukan hanya berarti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melainkan juga Harapan Masyarakat Indonesia.

Di sudut lain Greg barton dalam bukunya Gagasan Islam Liberal di Indonesia:Pemikiran Neo Modernisme Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wahid, terbitan Paramadina, Jakarta: 1999 menjelaskan bahwa HMI adalah organisasi mahasiswa yang identik dengan semangat pembaharuan dan modernisasi.

Meski kerap dikaitkan dengan Partai Masyumi, namun bagi Greg Barton HMI adalah organisasi mahasiswa mandiri, independen dan tidak menjadi sayap dari partai politik tertentu, HMI dan Masyumi pernah terlibat konflik terbuka beberapa kali, namun hanya dua konflik yang menonjol.

Konflik pertama adalah sikap HMI yang setuju dengan Perjanjian Renville pada tahun 1947 padahal saat itu Masyumi menolak keras perjanjian Renville yang dianggap merugikan Indonesia yang baru merdeka.

Kemudian konflik kedua terjadi pada tahun 1953, saat itu Ketua Umum HMI Dahlan Ranuwihardjo menyetujui konstitusi sekuler untuk Indonesia, padahal Masyumi mati-matian menentang konstitusi tersebut.

"Hubungan HMI dengan Masyumi memang tidak pernah lepas dari badai," tulis Greg Barton.

Masih kata Greg, HMI adalah organisasi mahasiswa yang banyak mencetak pemikir-pemikir ulung yang mampu beradaptasi dengan dinamika dan semangat zaman. Sejumlah pemikir Islam terkemuka muncul dari rahim HMI sebut saja Deliar Noer, Mukti Ali, Harun Nasution dan Nurcholis Madjid.

Secara khusus Greg Barton menyoroti rekam jejak dan pemikiran Nurcholis Madjid yang dianggap sebagai pembaharu Islam. Greg menguliti berbagai tulisan dan pikiran yang disampaikan pemikir Islam yang akrab disapa Cak Nur.

Pada tahun 1968 Cak Nur menulis artikel berjudul Modernisasi ialah Rasionalisasi bukan Westernisasi. Kemudian pada tanggal 3 Januari 1970 Cak Nur menulis sebuah makalah berjudul "Beberapa Catatan Sekitar Masalah Pembaruan Pemikiran Islam". Ia menilai ide-ide yang dilontarkan Cak Nur itulah yang kembali membuka wacana dialektika pemikiran Islam Indonesia.

"Kehadirannya mampu mendobrak tatanan baru pola pemikiran Islam dengan menghadirkan suasana baru ketika berhadapan dengan teks Islam," tulis Greg.

BACA JUGA: 

  1. Kader HMI Asal Sulsel Mengamuk Saat Pembagian Nasi Bungkus
  2. Wapres JK: Rp3 Miliar APBD Riau untuk Kongres HMI Hal Biasa
  3. Fadli Zon: Jusuf Kalla Dibalik Laporan Sudirman Said atas Setya Novanto 
  4. Demo Jokowi, HMI Kerahkan 1000 Pasukan 
  5. Cerita Akbar Tandjung Saat Mahasiswa Bersama Adnan Buyung Nasution

 



Bahaudin Marcopolo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH