Perlambat Perubahan Iklim, Para Ilmuwan Cari Cara Redupkan Sinar Matahari Senja di Pantai Pangandaran (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

MerahPutih.Com - Apakah saat ini anda merasakan sinar matahari makin panas dan menyengat? Dalam kondisi tertentu jawabannya bisa iya. Maklum saja, pemanasan global telah memicu kenaikan suhu panas sampai pada derajat yang melebihi batas toleransi daya tahan manusia.

Menghadapi kondisi sinar matahari yang makin panas, para ilmuwan berencana untuk meneliti cara meredupkan sinar matahari. Tujuannya yakni memperlambat perubahan iklim.

Ilmuwan berharap bisa menemukan bahan kimia buatan manusia yang berfungsi menahan sinal matahari dan beresiko lebih rendah dibanding efek merusak kenaikan suhu global.

Penelitian "solar geo-engineering", yang akan meniru erupsi vulkanik besar yang bisa mendinginkan suhu bumi dengan menahan sinar matahari melalui gumpalan abu, hingga kini masih didominasi oleh negara-negara kaya dan universitas ternama seperti Harvard dan Oxford.

Sebanyak 12 ilmuwan -- negara-negara berkembang seperti Bangladesh, Brasil, China, Ethiopia, India, Jamaica, dan Thailand -- menulis di jurnal Nature pada Rabu (4/4) bahwa kelompok miskin adalah warga yang paling rentan terhadap pemanasan global dan harus lebih banyak terlibat.

"Negara-negara berkembang harus memimpin dalam penelitian 'solar geo-engineering'," kata kelompok ilmuwan tersebut.

Meski ide meredupkan sinar matahari terdengar aneh dan ‘gila’ tapi para ilmuwan percaya hal itu bisa diwujudkan.

Matari senja di Aceh, Indonesia

Kawasan obyek wisata pantai Desa Pasi Suak Ujong Kalak, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

"Ide ini secara keseluruhan memang terdengar gila. Namun secara perlahan-lahan mulai diterima di kalangan dunia penelitian," kata ketua peneliti Atiq Rahman, yang juga merupakan kepala Bangladesh Centre for Advanced Studies, kepada Reuters sebagaimana dikutip Antara.

Penelitian mengenai rekayasa sinar matahari itu berpotensi akan terbantu oleh proyek senilai 400.000 dolar AS dari Solar Radiation Management Governance Initiative (SRMGI), yang pada pekan ini untuk pertama kalinya meminta para ilmuwan untuk mengajukan proposal pengajuan dana.

SRMGI didanai oleh Open Philanthropy Project, sebuah yayasan yang didirikan oleh Dustin Moskovits, salah satu pendiri Facebook, beserta istrinya, Cari Tuna.

"Dana tersebut bisa membantu para ilmuwan dari negara-negara berkembang untuk meneliti dampak regional dari rekayasa sinal matahari seperti terkait kekeringan dan banjir, "kata Andy Parker, direktur proyek SRMGI.

Rahman mengatakan bahwa para akademisi tidak akan berpihak dalam soal apakah rekayasa sinar matahari akan bermanfaat. Di antara ide yang bermunculan adalah: penyebaran partikel sulfur reflektif oleh pesawat di atmosfer bumi.

"Teknik ini kontroversial, dan memang demikian. Masih terlalu dini untuk mengetahui apa dampak-dampak yang bisa ditimbulkan. Ini bisa berguna, tapi juga berpotensi merusak," tulis para ilmuwan di jurnal Nature.

Tim pakar iklim di PBB, dalam laporan awal yang bocor mengenai perubahan iklim yang akan dipublikasikan pada Oktober, kini masih skeptis terhadap rekayasa sinar matahari. Mereka mengatakan bahwa proyek ini "tidak dimungkinan secara ekonomi, sosial, maupun institusional." Beberapa di antara resikonya adalah mengganggu pola cuaca, sulit dihentikan setelah dimulai, dan membuat negara-negara menjadi tidak berkomitmen untuk mengubah bahan bakar fosil menjadi energi terbarukan.

Namun, Rahman mengatakan bahwa negara-negara maju sudah "gagal" dalam memenuhi janji mereka mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga membuat pilihan radikal semakin menarik.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH