Perkumpulan Chie Mey Hui, dari Gerakan Sosial Perempuan Tionghoa Hingga Seni Bela Diri Restauran salah satu unit usaha perkumpulan Chie Mey Hui. (sumber: antikpraveda)

BILA kaum muda Tionghoa di Jawa Tengah pada sekira tahun 1930 mendirikan Shiong Tin Hui untuk meningkatkan moral dan kehidupan sosial masyarakat, maka kaum mudi pun tak mau ketinggalan menghimpun diri membentuk Chie Mey Hui.

Segendang-sepenarian dengan Shiong Tin Hui, Chie Mey Hui merupakan perkumpulan sosial dan pendidikan bagi kaum perempuan Tionghoa. Di sana, para mudi-mudi melakukan beragam kegiatan pemberdayaan perempuan semisal pelajaran memasak, menjahit, berlatih dansa tradisional Tiongkok, seni musik dan drama.

Chie Mey Hui, seturut Leo Suryadinata pada Southeast Asian Personalities of Chinese Descent: A Biograpichal Dictionary, didirikan oleh seorang peranakan Tionghoa Bogor bernama Kwee Yat Nio pada tahun 1922.

Foto para anggota Chie Mey Hui cabang Bandung. (sumber: Majalah Sin Po, Desember 1941)

Perkumpulan tersebut bertujuan untuk memajukan kaum perempuan Tionghoa. Chie Mey Hui tampil menjadi salah satu poros besar perhimpunan Tionghoa di bidang sosia dan pendidikan.

Dalam menggerakan perkumpulan, para anggota Chie Mey Hui melakukan pengumpulan dana iuran bulanan bagi tiap anggota dan melakukan jenis usaha seperti restauran, salon, kursus menjahit baju, kursus dansa, menjual kue hingga membuka klinik.Dokter Kwan Tjoan Sioe (1893-1948) dan Ang Yan Goan (1894-1984) dibantu beberapa teman sejawat dan beberapa pengusaha Tionghoa di Jakarta mendirikan Poliklinik Jang Seng Le pada 28 Desember 1924. Di kemudian hari, tepatnya pada 1 Juni 1965, Jang Seng Le berubah menjadi Rumah Sakit Husada. Menteri Kesehatan Prof. Dr. Satrio hadir sekaligus meresmikan rumah sakit kini terletak di Jalan Mangga Besar Raya Nomor 137-139.

Poliklinik Jang Seng Le, cikal bakal Rumah Sakit Husada. (sumber: antikpraveda)

Mereka pun menerbitkan majalah untuk media informasi bernama Majalah Menara berisi tips-tips tentang perempuan dan laporan kegiatan perkumpulan.

Selain kegiatan sosial dan pendidikan, para perempuan Chie Mey Hui berlatih kungfu. Dengan kemampuan kungfu, para anggota bisa menggalang acara amal menampilkan kemahiran main kungfu disertai menari di muka umum.

Pada pertunjukan beladiri tersebut, seturut Alex Cheung dkk pada Melacak Jejak Kungfu Tradisional di Indonesia, terlihat kungfu Chie Mey Hui berasal dari berbagai aliran, baik kungfu utara maupun selatan.

Para staf perkumpulan Chie Mey Hui Bandung. (sumber: Majalah Sin Po, Desember 1941)

Sebagain anggota Chie Mey Hui mempelajari keahlian kungfu dari berbagai sumber. Beberapa di antaranya berlatih tertutup pada keluarganya dan memang sudah mahir, namun sebagian lain belajar pada guru-guru kungfu.

Mereka merangcang hingga mengadakan pertunjukan kungfu secara mandiri. “Uniknya, semua kegiatan seperti menjual karcis, mencari sumbangan, naik panggung, mempersiapkan senjata dan peranan lainnya dilakukan secara mandiri tanpa bantuan kaum laki-lakim” tulis Cheung.

Chie Mey Hui menjadi ajang bagi kaum mudi Tionghoa mengembangkan diri. Beberap tokoh terkemuka di perkumpulan antara lain; Kho Lies Nio, Liem Goat Nio, Oey Eng Lian, Giam Lian Boen, Thio Tjwi Kim, Kho Kim Nio, dan beberapa tokoh perempuan Tionghoa lainnya.

Saat militer Jepang merangsek mengusir Belanda di tanah Hindia lalu mendirikan Pemerintahan Pendudukan Jepang, seluruh kegiatan dan organisasi Tionghoa berhenti, termasuk Chie Mey Hui. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH