Perjalanan ke Rumah Hutan, Tempat Piknik Unik di Serang Rumah Hutan (Foto: MP/Dian Sucitra)

Pernahkah Anda membayangkan memiliki sebuah rumah sederhana yang nyaman di tengah-tengah hutan? Ya, sebuah rumah untuk Anda "bersembunyi" dari keramaian dan menenangkan diri sejenak.

Sekitar 13 kilometer ke arah barat dari Kota Serang, Banten, ada rumah semacam itu. Rumah sederhana yang dibangun di salah satu sudut areal tanah seluas 6.000 meter persegi, tepatnya di Bukit Cidampit, Kampung Bojong, Desa Sayar, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Banten. Rumah ini sering disebut "Rumah Hutan".

Merahputih.com mendengar tentang Rumah Hutan dari sejumlah penulis Banten, komunitas pencinta wisata alam, juga komunitas pesepeda yang kerap kali mengunjungi lokasi tersebut di akhir pekan. Penasaran seperti apa? Berikut laporan kontributor Merahputih.com, Dian Sucitra.

Rute ke Arah TPA Cilowong

Rute termudah mulai dari patokan alun-alun Kota Serang. Dari sisi selatan alun-alun, Anda belok ke kiri menyusuri Jl. Husein Jayadiningrat. Lanjutkan ke Jl. KH Amin Jasuta, di mana Brigade Mobil Polda Banten bermarkas. Teruslah hingga menembus Jl. Raya Taktakan dan bertemu TPA Cilowong di kiri jalan, yang ditandai dengan aroma gunungan sampah serta Monumen Perjuangan di sebelah kanan.

TPA Cilowong

Tak jauh dari sana, sekitar 2 kilometer, Anda akan mendapati pertigaan Jl. 45 Desa Sayar. Berbeloklah mengikuti jalanan tersebut hingga sekitar 3 kilometer. Anda akan melihat plang di sebelah kanan jalan, bertuliskan: Parkir Rumah Hutan, yang dibuat penduduk setempat.

Lewati Sungai, Diiringi Anak-Anak

"Sendirian saja Pak?" tanya seorang ibu setengah baya yang duduk di teras rumah tempat saya memarkirkan sepeda motor. Saya mengiyakan lalu menanyakan ke mana arah Rumah Hutan. Saat itulah sekelompok anak lelaki menatap saya dengan berani dan menanyakan, "Mau diantar Om?". Tampaknya mereka sedang berupaya mencari uang jajan, tapi saya menolaknya karena keterangan dari si Ibu lebih dari cukup untuk petualangan kecil hari itu.

Baru beberapa langkah berjalan, datang lagi sekelompok anak, kali ini anak-anak yang lebih kecil, dengan kisaran usia 7-9 tahun. Mereka menghampiri saya dengan pertanyaan yang kurang lebih sama, "Mau ke mana, Om?". Anak-anak itu mengiringi langkah saya menyusuri jalan setapak di antara rindang pepohonan sampai bertemu sungai kecil yang bisa diseberangi tanpa melepas alas kaki. Dengan memijakkan kaki di antara cadas, tak perlu khawatir akan kebasahan.

sungai kecil menuju Rumah Hutan

Sumur dan Gubuk Penanda Jalur

Tepat di seberang sungai kecil itu ada sepasang remaja yang bernaung di bawah gubuk bambu, masih berseragam sekolah. Mereka tampaknya sedang pacaran, tak menghiraukan kedatangan saya yang asik memotret situasi di sana. Saya mengira sudah sampai di lokasi Rumah Hutan, karena ada sumur dan bangunan dari semen yang setengah jadi. Namun, rupanya tempat itu hanya penanda bahwa saya menjejaki rute yang tepat menuju Rumah Hutan.

rumah gubuk

Pantun dan idiom melekat di antara pepohonan mengantarkan perjalanan saya sore itu. Satu yang cukup menarik berbunyi, "Pengunjung yang bukan muhrim jangan dekap-dekapan, di hutan ini ada yang terusik, mbah buyut Ki Raja ada di mana-mana."

Akhirnya, Rumah Hutan

Beberapa puluh meter dari sana sampailah saya di Rumah Hutan. Ada beberapa bangunan dari kayu yang menyerupai rumah, satu bangunan berfungsi sebagai warung untuk menyambut pengunjung yang datang. Di tengah-tengah terdapat lapangan badminton dan di beberapa sudut terdapat bangunan segiempat untuk berkumpul dan bercengkerama antarpengunjung. Ada pula perpustakaan kecil dan bangunan kayu dua lantai yang disebut dengan Panenjoan (peninjauan), di mana Anda bisa mengamati pohon durian secara utuh, dari akar ke pucuknya.

Rumah Hutan Banten

Kawasan Rumah Hutan dibangun tahun 2015 oleh lelaki asal Sulawesi Tengah berdarah Tionghoa, Liem Oei Ping. Ia merantau ke Kota Serang pada 1962 dan bercita-cita menjadikan hutan di Banten sebagai "surga". Ia memiliki sebuah toko pakaian di Kawasan Royal, Kota Serang. Pria itu membebaskan pengunjung untuk memasuki Rumah Hutan tanpa tiket, walau setiap harinya selalu saja ada orang yang berkunjung, terutama saat hari libur.

Rumah Hutan ini sangat cocok dijadikan tempat berkemah untuk keluarga. Meski tak dilengkapi aliran listrik permanen, mereka memiliki generator listrik yang akan "dipinjamkan" jika diminta. Anda hanya perlu untuk memberikan bahan bakar yang diperlukan.

Simak pula artikel tentang hutan lainnya di kawasan Banten berikut ini: Rekreasi Keluarga Di Hutan Kota Jombang Tangerang Selatan.



Dian Sucitra

LAINNYA DARI MERAH PUTIH