Perjalanan Bisnis Dapat Dibuka Jika Aman Menurut Survei Terbaru Perjalanan bisnis agaknya masih harus menunggu situasi lebih aman. (Foto: Unsplash/Suganth)

PANDEMI COVID-19 agaknya masih berdampak pada dunia bisnis. Relaksasi yang sudah dilakukan beberapa negara ternyata tak serta merta berpengaruh pada perjalanan bisnis.

Perjalanan bisnis dapat dibuka kembali hanya jika aman menurut jajak pendapat baru dari FCM Travel Solutions dan Corporate Traveler. Mayoritas perusahaan mencari cara untuk mengubah kebijakan perjalanan mereka. Ini mencerminkan peningkatan pertimbangan tugas pasca COVID-19.

Baca juga:

IATA Usulkan Alternatif untuk Karantina

1
Pembatasan perbatasan memberi dampak signifikan. (Foto: Unsplash/Bruce Mars)

Dari survei yang dilakukan 93 persen responden mengatakan bahwa pembatasan maupun pelonggaran memiliki dampak signifikan. Namun di sisi lain 89 persen rresponden mengatakan bahwa perusahaan atau lembaga tempat mereka berasal menganggap aman untuk bepergian dan itu tercermin dalam kebijakan perjalanan mereka.

Melansir laman Business Traveller, dalam hal perubahan pada kebijakan perjalanan pasca COVID-19, 59 persen responden mengatakan bahwa faktor kesehatan dan kebersihan pelancong dan pihak penyedia perjalanan akan menjadi prioritas utama.

Ada sekitar 1600 manajer, pemesan dan pelancong pada klien multinasional berskala besar FCM dan pelanggan UKM Corporate Traveller di EMEA. Mereka berasal dari Asia, Amerika, India, Australia dan Selandia Baru yang kembali disurvei dalam jajak pendapat kedua pada bulan Juni 2020.

Baca juga:

Mungkinkah Tes Cepat 20 Menit Menggantikan Masa Karantina 14 Hari?

2
Faktor kesehatan dan kebersihan pelancong menjadi prioritas.(Foto: Unsplash/Artur Tumasjan)

Survei ini dilakukan untuk mengukur setiap perubahan dalam perjalanan bisnis yang diimbangi dengan kebijakan negara tujuan dalam hal pembatasan orang yangmasuk negaranya.

"Jajak pendapat kedua dari survei State of the Market menunjukkan bahwa pasti ada keinginan yang meningkat dari klien untuk melakukan perjalanan. Namun sementara situasi seputar COVID-19 tetap tidak dapat diprediksi. Dengan adanya kemungkinan gelombang kedua dan penguncian lokal, jelas bahwa tugas dari perawatan, kebersihan, dan keselamatan menjadi pertimbangan dominan bagi pelanggan kami ke depan,” kata John Morhous, Chief Experience Officer untuk FCM dan Corporate Traveler.

Untuk mengatasi masalah organisasi, perusahaan manajemen perjalanan meluncurkan produk baru bagi pelancong dan pebisnis.

Selain itu, asosiasi industri mendorong respons terpadu dari pemerintah dan otoritas pengawas, dengan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mempromosikan pedoman "Take-Off." Mencakup pemakaian masker selama proses perjalanan, sanitisasi, deklarasi kesehatan, dan jarak sosial di mana saja.

Sementara itu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) melobi pihak yang mengurus karantina. (lgi)

Baca juga:

Asosiasi Perjalanan AS Rilis Panduan untuk Masa ‘New Normal’

Kredit : leonard


Leonard G.I

LAINNYA DARI MERAH PUTIH