Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Beri Saran Hadapi Kualitas Udara Jakarta Polusi udara di Jakarta. (Foto: Greenpeace)

MerahPutih.com - Kualitas udara di ibu kota Jakarta pada Sabtu, 7 September 2019 tergolong dalam kategori tidak sehat. Hal itu dapat dilihat dalam unggahan laman resmi US Air Quality Index (AQI).

Sekitar pukul 07.45 WIB cuaca di ibu kota berada pada parameter PM2.5 konsentrasi 96,1ug/m3.

Baca Juga:

Polusi Udara Jakarta Memburuk, Anies Akan Bicara dengan Pihak Tol

Dari sembilan lokasi yang terpantau menunjukkan hanya wilayah Kemayoran berada pada level sedang di angka 91 parameter PM2.5 konsentrasi 31,1 ug/m3. Untuk level sedang, aktivitas di luar ruangan seperti bersepeda dapat dilakukan.

Ilustrasi BMKG. (Antaranews)
Ilustrasi BMKG. (Antaranews)

Wilayah lain dalam kategori tidak sehat yakni Mangga dua bagian selatan, Kedutaan Besar Amerika Serikat, Pegadungan Jakarta Barat, Rawamangun, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Gelora Bung Karno, AHP Capital Place dan Pejanten Barat.

Selain itu, AirVisual juga mencatat kelembapan ibu kota Jakarta 73 persen dan kecepatan angin 5,4 kilometer per jam.

Indeks kualitas udara di Kemayoran juga tercatat di laman Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sekitar pukul 06.00 WIB tercatat berdasarkan parameter PM2.5 konsentrasi 45,96 ug/m3.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) memberikan sejumlah saran bagi masyarakat untuk pencegahan dan penanganan polusi udara di Jakarta yang dikategorikan tidak sehat berdasarkan Air Quality Index (AQI) berada di atas angka 150.

Baca Juga:

Polusi Jakarta yang makin Parah Mengancam Kualitas Sperma Pria

Beberapa saran di antaranya meminimalkan terkena pajanan polusi udara seperti mengurangi aktivitas di luar ruangan pada saat kualitas udara tidak sehat.

Kemudian, menghindari aktivitas berat fisik berat termasuk olahraga apabila berada di luar ruangan pada saat kualitas udara tidak sehat. Apabila beraktivitas di luar ruangan, hindari kawasan atau area dengan kualitas udara yang tidak sehat dan berbahaya.

Memantau kualitas udara secara berkesinambungan untuk bisa mengambil keputusan beraktivitas di luar rumah. Menggunakan masker atau respirator untuk mengurangi masuknya partikel ke dalam saluran napas dan paru (terutama bila beraktivitas di luar ruangan). (*)

Baca Juga:

Hari Ini, Sidang Perdana Gugatan Polusi Udara Jakarta


Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH