Perfeksionis Berisiko Mengalami Gangguan Makan Orthorexia

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Selasa, 27 Juni 2023
Perfeksionis Berisiko Mengalami Gangguan Makan Orthorexia

Peningkatan pola makan sehat secara kompulsif dikenal sebagai orthorexia. (Unsplash/Farhad Ibrahimzade)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

TEKANAN untuk menjadi sempurna dinormalisasi dalam masyarakat modern. Kita terus-menerus dikepung dengan gambaran tentang kesehatan yang sempurna, pola makan yang sempurna, dan tubuh yang sempurna.

Platform media sosial seperti Instagram, dipenuhi dengan kegiatan olahraga di gym, makanan sehat, dan gambar kecantikan dalam estetika yang 'sempurna'.

Namun, upaya untuk mencapai gaya hidup sehat yang sempurna harus dibayar mahal. Satu kekhawatiran adalah bahwa upaya ini berkontribusi pada peningkatan pola makan sehat secara kompulsif, atau yang dikenal sebagai orthorexia.

Penerimaan rumah sakit di Inggris untuk pengobatan gangguan makan telah meningkat sebesar 84 persen selama lima tahun terakhir. Gangguan makan ditandai dengan hubungan yang tidak sehat dengan makanan, berat badan, dan bentuk tubuh. Hubungan ini sering digabungkan dengan kebiasaan olahraga disfungsional.

Orthorexia adalah fiksasi patologis dengan nutrisi yang tepat yang menyebabkan gangguan kesehatan fisik dan gangguan fungsi psikososial. Komentar populer menggambarkan orthorexia sebagai perilaku mengejar diet yang sempurna.

Gangguan makan ini ditandai dengan pola makan yang kaku dan tidak fleksibel yang dipaksakan sendiri dan dikontrol dengan ketat. Orthorexia belum diakui sebagai gangguan makan klinis dalam kriteria diagnostik formal.

Namun, diagnosis sementara bergantung pada durasi gejala yang dialami seseorang, biasanya enam bulan lebih.

Baca juga:

Adakah Hubungan antara Gangguan Makan dan Rambut Rontok?

Perfeksionis rentan terhadap gangguan makan karena mereka menetapkan standar yang tidak realistis. (Pexels/Gustavo Fring)

Perfeksionisme dan gangguan makan

Kepribadian dapat membuat seseorang rentan mengalami gangguan makan. Ciri-ciri kepribadian menggambarkan bagaimana seseorang berpikir, merasakan, berperilaku, dan berhubungan dengan orang lain.

Perfeksionisme adalah ciri kepribadian yang ditandai dengan menetapkan standar yang terlalu tinggi dan menjadi sangat kritis terhadap diri sendiri. Perfeksionis berjuang untuk kesempurnaan. Perfeksionisme diakui sebagai faktor risiko gangguan makan.

Perfeksionis rentan terhadap gangguan makan karena mereka menetapkan standar yang tidak realistis untuk mencapai tujuan diet dan berat badan, serta sangat menghakimi diri sendiri ketika standar ini tidak terpenuhi. Perfeksionis melihat sesuatu yang kurang sempurna sebagai sebuah kegagalan.

Berjuang untuk menjadi sempurna atau mendapatkan pola makan yang sempurna bisa menjadi upaya untuk mendapatkan kendali. Di sini, rasa kendali perfeksionis kemungkinan besar didorong oleh perasaan lepas kendali di bidang kehidupan lain.

Baca juga:

Bahaya, Almond Mom Picu Gangguan Makan pada Anak

Perfeksionisme menjadi variabel kunci dalam memprediksi orthorexia dari waktu ke waktu. (freepik/rawpixel.com)

Perfeksionisme dan orthorexia

Bukti telah mengkonfirmasi bahwa perfeksionisme merupakan faktor kunci dalam pengembangan dan keberlanjutan orthorexia.

"Penelitian terbaru kami mengamati efek dari 'presentasi diri perfeksionistik' dan 'perfeksionisme sifat' dalam memprediksi orthorexia dari waktu ke waktu, tulis peneliti Verity B. Pratt dari York St. John University, Inggris.

Dia menjelaskan, presentasi diri yang perfeksionis adalah kebutuhan untuk menggambarkan citra diri yang sempurna sambil menyembunyikan ketidaksempurnaan.

"Perfeksionisme sifat adalah alasan mengapa berpikir yang lebih mendarah daging yang berpusat pada kebutuhan untuk menjadi sempurna," tulisnya dalam artikel Psychology Today, Kamis (22/6).

"Hasil penelitian tersebut menemukan, presentasi diri perfeksionis dan perfeksionisme sifat memprediksi orthorexia sepanjang waktu. Namun, ketika kita melihat presentasi diri perfeksionis dan perfeksionisme sifat secara bersamaan, perfeksionisme sifat lebih penting," Pratt menjelaskan.

"Hal ini berarti bahwa individu yang perlu menjadi sempurna dan mengalami kritik diri secara ekstrem ketika mereka tidak sempurna, kemungkinan besar akan mengembangkan orthorexia," ujarnya. Perfeksionisme, kemudian, adalah variabel kunci dalam memprediksi orthorexia dari waktu ke waktu.

Untuk mencegah kenaikan tingkat perfeksionisme dan orthorexia lebih lanjut, kita harus belajar untuk berbelas kasih terhadap diri sendiri. Kita harus belajar melepaskan tujuan yang tidak dapat dicapai dan melihat melampaui kebutuhan akan kontrol pola makan. (aru)

Baca juga:

Kerawanan Pangan Tingkatkan Potensi Gangguan Makan

#Kesehatan #Kesehatan Mental
Bagikan
Ditulis Oleh

Ananda Dimas Prasetya

nowhereman.. cause every second is a lesson for you to learn to be free.

Berita Terkait

Lifestyle
[HOAKS atau FAKTA]: Minum Air Putih Sambil Berdiri Bisa Picu Penyakit Batu Ginjal
Beredar informasi yang menyebut minum sambil berdiri dapat memicu penyakit batu ginjal. Cek faktanya dari ahli.
Ananda Dimas Prasetya - Minggu, 08 Februari 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Minum Air Putih Sambil Berdiri Bisa Picu Penyakit Batu Ginjal
Indonesia
BPJS Kesehatan Sebut Peserta yang Dinonaktifkan sudah tak Masuk Golongan Syarat Kategori Miskin
BPJS Kesehatan bukan yang berwenang mengaktifkan atau menonaktifkan akun.
Dwi Astarini - Jumat, 06 Februari 2026
BPJS Kesehatan Sebut Peserta yang Dinonaktifkan sudah tak Masuk Golongan Syarat Kategori Miskin
Indonesia
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
Hingga kini, belum ada kasus Nipah di Indonesia. Polri menekankan kewaspadaan Polri dan pentingnya komunikasi publik agar masyarakat tidak panik.
Wisnu Cipto - Rabu, 04 Februari 2026
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Penggunaan ponsel secara berlebihan dalam kondisi minim cahaya memang dapat menimbulkan gangguan kesehatan mata, seperti computer vision syndrome dengan gejala mata lelah, penglihatan kabur, mata merah, mata kering, hingga sakit kepala.
Dwi Astarini - Selasa, 03 Februari 2026
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Indonesia
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
kajian kesehatan perlu dilakukan guna Memastikan ikan sapu-sapu layak dikonsumsi dan tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat.
Dwi Astarini - Selasa, 03 Februari 2026
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Indonesia
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Tantangan kesehatan di masa depan banyak bersumber dari zoonosis seperti virus Nipah.
Dwi Astarini - Sabtu, 31 Januari 2026
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Indonesia
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Program ini dirancang untuk membantu masyarakat kurang mampu yang selama ini terkendala dalam mengakses layanan kesehatan akibat tunggakan iuran JKN.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 28 Januari 2026
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Berita Foto
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Ketua Tim Bidang Penyusunan Rencana Prioritas Pemanfaatan Dana Desa, Sappe M. P. Sirait saat Program Keluarga Sigap di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 15 Januari 2026
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Indonesia
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Ratusan pengungsi pascabanjir bandang di Aceh Tamiang mengalami berbagai penyakit seperti ISPA hingga diare. Tim Dokkes Polri turun beri layanan kesehatan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 15 Januari 2026
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Bagikan