Perempuan-Perempuan Saksi Proklamasi Kemerdekaan Segelintir perempuan hadir pada proklamasi kemerdekaan RI. (Foto: historia.id)

KELAHIRAN Republik Indonesia tak hanya dihadiri kaum lelaki. Segelintir perempuan juga hadir dalam peristiwa bersejarah itu. Perempuan yang pasti hadir ialah Fatmawati, istri Sukarno, sang proklamator.

Seperti dikutip dari historia.id, perempuan lain yang hadir pada pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih ialah Soerastri Karma Trimurti. Menteri Perburuhan pertama ini semula diminta mengerek bendera. Namun, ia menolak karena lantaran mengenakan kebaya dan jarik. Trimurti beranggapan bendera sebaiknya dikerek orang berseragam, yaitu Latief dari Peta.

Dalam buku "Sumbangsihku bagi Ibu Pertiwi", Trimurti menyebutkan bahwa datang pula seorang perempuan dari Walikukun, Ngawi, yang tidak diketahui namanya. Usai mengikuti upacara, perempuan itu mendaftarkan diri sebagai Barisan Berani Mati pada Radjiman Wedyodiningrat di ruang belakang rumah Sukarno.

Selain mereka bertiga, ada Nona Mudjasih Yusman, beberapa orang ibu tokoh perjuangan, serta para mahasiswa sekolah tinggi kedokteran Jepang Ika Daigaku yang dipimpin Zulaika Jasin. Mahasiswa Ika Daigaku itu antara lain terdiri dari dr Oetari Soetarti, Yuliari Markoem, Retnosedjati, dan Gonowati Djaka Sutadiwiria.

Yuliari Markoem bertugas sebagai anggota kelompok mahasiswa penaikan bendera pusaka. Setelah proklamasi, ia menjadi penghubung dalam pengiriman kebutuhan medis ke daerah gerilya. Dr Oetari Soetarti adalah istri menteri kesehatan era Orde Baru, dr Suwardjono Surjaningrat.

Sementara Gonowati Djaka Sutadiwiria adalah anggota pengamanan. Pada Perang Kemerdekaan I dan II, ia menjadi anggota PMI Yogyakarta yang bertugas mengumpulkan obat-obatan. (*)

Baca juga artikel Tan Malaka: Kisah Cinta Sang Revolusioner Yang Bertepuk Sebelah Tangan (Bagian 5).



Rina Garmina

LAINNYA DARI MERAH PUTIH