Peremajaan Vagina Buat Perempuan Lebih Percaya Diri Peremajaan vagina memiliki prosedur yang harus dipahami. (Foto: Cutis Medical Laser Clinic)

BEBERAPA waktu belakangan ini, sejumlah selebriti Indonesia menjalani perawatan unik untuk organ kewanitaan mereka. Perawatan tersebut dikenal dengan istilah Peremajaan Vagina. Peremajaan vagina merupakan prosedur perawatan yang dilakukan di seputar daerah vagina seperti rongga vagina, dinding vagina, otot, dan mukosa yang ada di vagina hingga dasar panggul yang mengalami perubahan bentuk dan fungsi setelah proses melahirkan, perubahan hormon atau menopause.

Sebelumnya, peremajaan vagina dianggap tabu. Banyak pasangan yang diam ketika merasa bagian intimnya bermasalah. Akibatnya mereka tidak menikmati sesi bercinta dengan pasangan. Peremajaan vagina dapat memberikan kepercayaan diri yang hilang akibat banyak hal yang terjadi di area vagina. Permasalahan yang paling sering terjadi yakni hilangnya sensasi sensual sebelum maupun sesudah melahirkan.

dr. Ni Komang Yeni Dhanasari, SpOG
dr. Ni Komang Yeni Dhanasari (Foto: Bamed Women's Clinic)

1. Konseling terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan peremajaan itu

Bamed
Kiri-kanan: dr. Yassin Yanuar Mohammad, SpOG (K), M.Sc, dr. Ratu Abigail Audity, B.Med. Sc, M.Si, dr. Ni Komang Yeni Dhanasari, SpOG, dr. Dasep Suwanda, SpOG. (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Sebelum menjalani proses peremajaan vagina, seorang desainer vagina akan melakukan sejumlah konseling dan pemeriksaan. Pemeriksaan tersebut meliputi laporan medis dan kelamin, wawancara kesehatan vagina, wawancara fungsi seksual perempuan, pemeriksaan dasar panggul, papsmear, kehamilan dan batuk. Perempuan yang ingin melakukan peremajaan vagina harus melakukan papsmear dan membawa hasilnya ke dokter. "Bagi perempuan yang baru saja melahirkan, minimal tiga bulan setelah kelahiran," jelas Dokter Obstetri dan Ginekologi, dr. Ni Komang Yeni Dhanasari, SpOG.

Sementara di sesi konseling, dokter akan mengevaluasi kesehatan pasien secara menyeluruh dan mencari faktor resiko. Selanjutnya, dokter akan memfoto kondisi awal vagina dan merekomendasikan prosedur. Ketika dokter merekomendasikan prosedur, dokter dan pasien akan mendiskusikan pilihan. "Pasien disarankan membawa daftar pertanyaan sebelum proses peremajaan vagina," ujar Dokter Yeni.

Dari hasil konseling dan pemeriksaan tersebut akan diseleksi. "Tujuannya untuk mengetahui apakah pasien benar-benar memerlukan penanganan atau hanya ingin coba-coba saja," ujar Dokter Yeni.

2. Harus jelas dan terang dalam memberikan info

dr Dasep
dr. Dasep Suwanda, SpOG (Foto: Bamed Women's Clinic)

Beberapa pasien yang benar-benar membutuhkan penanganan misalnya kelainan bawaan yang dirasa memerlukan koreksi, penampilan area kewanitaan yang mulai mengganggu baik dari fungsi maupun estetika.

Dokter Obstetri dan Ginekolog, dr. Dasep Suwanda, SpOG mengatakan prosedur peremajaan vagina dilakukan dengan prosedur invasive seperti clitoralhood reduction, labia mayora plasty, labia minora plasty, hymenoplasty atau vaginoplasty. Dokter Dasep menuturkan bahwa sebelum menjalani prosedur peremajaan vagina, pasien harus memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan prosedur. "Ketika pasien melakukan pemeriksaan, pasien harus menginfokan riwayat penyakit sebelumnya, obat-obatan yang sedang dikonsumsi atau riwayat operasi," jelasnya.

Setelah menjalankan terapi peremajaan vagina, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pasien. Diantaranya adalah menjaga pola istirahat dan pola makan. "Pasien juga dilarang berhubungan intim selama enam minggu untuk memastikan jahitan kering dengan sempurna. Hindari juga olahraga berat seperti gym, renang, atau yoga selama empat minggu," tukas Dokter Dasep. (avia)

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Iftinavia Pradinantia