Perayaan Cap Go Meh di Bogor, Merajut Kebhinekaan Masyarakat Antar Etnik Vihara Dhanagun, lokasi yang dijadikan tempat perayaan Cap Go Meh, Bogor, Jawa Barat. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

"Kekeluargaan adalah suatu paham yang statis, tetapi gotong royong menggambarkan suatu usaha, satu amal, satu pekerjaan.. satu karyo, satu gawe. Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagian semua," Ir Soekarno (1901-1970).

Seperti itu pula yang terjadi dan dirasakan oleh masyarakat kota Bogor dalam perayaan Pesta Budaya Cap Go Meh 2017. Terlepas dari suku, agama dan ras tertentu, warga Bogor justru saling bahu-membahu menyukseskan acara tahunan itu.

Dengan mengusung tema, "Budaya sebagai Pemersatu Bangsa", baik etnis Tionghoa maupun Sunda bersatu padu merangkai kegiatan yang nyatanya sangat dinanti dan dinikmati oleh masyarakat Bogor serta daerah lainnya.

Bahkan, di tengah derai rintik air hujan yang riang membasahi bumi Pasundan sejak pagi hingga malam hari, tidak sedikit pun menyurutkan masyarakat, panitia dan tamu undangan untuk tetap menyaksikan kegiatan itu. Tak hanya orang dewasa, ratusan bocah juga nampak khusyuk menyaksikan beberapa atraksi budaya yang dilakukan oleh beberapa sanggar seni.

Ketua Panitia Pelaksana Cap Go Meh, Arifin Himawan mengatakan, inti daripada kegiatan tersebut adalah tentang kebudayaan lokal, kebudayaan Tionghoa, sanggar seni, komunitas dan kebudayaan dari luar yang menampilkan seni dan budaya.

"Kebudayaan luar berasal dari Taiwan. Kegiatan ini sebenarnya adalah tentang budaya, bukan hanya agama atau etnis tertentu. Yang ditampilkan nanti ada tari-tarian yang jarang dilihat. Semua ini bertujuan untuk menaikan nilai pariwisata kota Bogor," kata Arifin kepada merahputih.com di Jalan Suryakencana, Bogor Tengah, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (11/2).

Selain itu, Arifin juga menjelaskan bahwa tujuan diadakan Pesta Budaya Cap Go Meh merupakan salah satu langkah orang-orang Tionghoa di Bogor untuk menjaga Kebhinekaan yang selama ini terus terjalin bersama masyarakat pribumi.

"Kami ingin menjaga tradisi leluhur, yang di mana mengedepankan persatuan dan kesatuan. Jangan sampai kita dipisah-pisahkan karena agama atau karena etnis tertentu. Dan menjadi catatan penting, meski kami menampilkan budaya, namun juga jangan lupa tentang nilai-nilai agama," jelasnya.

Perayaan Cap Go Meh, ucap Arifin, sudah berlangsung selama belasan kali. "Dan untuk kegiatan Cap Go Meh ini, sudah yang ke-15 kali. Untuk pesertanya ada 26 komunitas dan sanggar seni. Peserta itu terdiri dari Semarang, Sukabumi, Cianjur, Jakarta, Tangerang, dan beberapa kota lainnya. Bahkan, ada juga peserta yang berasal dari Taiwan," ucapnya.

Salah seorang peranakan Tionghoa yang juga sebagai pemerhati sejarah, David Kwa menuturkan, sesungguhnya Cap Go Meh hanya dirayakan oleh orang-orang Tionghhoa.

Sebab, ujar David, acara tersebut merupakan penutupan Tahun Baru Tionghoa, yang dirayakan secara public affair. "Namun, perkembangan di kota Bogor, lain. Hubungan antar etnik begitu baik, sehingga apa salahnya kalau orang Tionghoa turut berbagi dengan etnik lainnya, sehingga kegembiraan bisa dirasakan semua warga. Cap Go Meh merupakan perayaan atau event yang dinantikan dan dipersiapkan bersama, sehingga hubungan antar etnik bertambah erat karenanya," ujar David.

"Bogor memang sudah maju selangkah dan layak menjadi percontohan bagi kota-kota lain di Indonesia terkait masalah Kebhinekaan atau persatuan," tambahnya.

Untuk mengikuti artikel lainnya, baca juga: Jembatan Berusia 200 Tahun dan Air Sumur Berbau Busuk di Kampung Cikambangan Depok



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH