Perayaan 17 Agustus dan Makna di Dalamnya Ilustrasi panjat pinang (Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)

SETIAP tanggal 17 Agustus, masyarakat di seluruh Indonesia selalu memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Berbagai upacara digelar untuk memperingati tanggal proklamasi pertama kali dibacakan. Selain itu, perayaan 17 Agustus juga dimeriahkan dengan lomba-lomba di antaranya panjat pinang, balap karung, hingga makan kerupuk.

Demi membuat para peserta lomba semangat, biasanya para panitia menyediakan bermacam hadiah untuk peserta yang menjuarai perlombaan tersebut. Hal ini membuat banyak orang ikut berpartisipasi dalam acara perayaan 17 Agustus tersebut.

Perayaan 17 Agustus dimeriahkan tak hanya oleh anak-anak. Berbagai suku, bangsa, muda, hingga tua pasti ikut berpartisipasi dalam perayaan tahunan ini.

Namun siapa sangaka, sebagian perlombaan yang digelar setiap tahunnya tersebut memiliki filosofi dan sejarah yang terkandung di dalamnya. Sayangnya tak banyak masyarakat yang tau darimana asal dan tokoh yang mempelopori perayaan 17 Agustu tersebut.

Berikut merahputih.com akan memaparkan makna dari beberapa lomba perayaan 17 Agustu seperti dilansir dari beberapa sumber. Simak makna lomba berikut;

Berikut Makna dari Lomba saat Perayaan 17 Agustus

Balap Karung

Ilustrasi perlombaan balap karung saat perayaan 17 Agustus. (Foto/Asuransi88.com)
Ilustrasi perlombaan balap karung saat perayaan 17 Agustus. (Foto/Asuransi88.com)

Perlombaan yang satu ini sangat populer hingga tak ada satupun yang tak mengenalnya. Hampir disetiap wilayah hingga pelosok daerah di Indonesia rutin menggelar lomba ini. Bukan hanya pada perayaan 17 Agustus saja, lomba ini juga sering dilaksanakan di hari-hari penting di Indonesia.

Dalam pelaksanaanya, lomba ini menampilkan sejumlah peserta yang diwajibkan memasukkan bagian bawah badannya ke dalam karung kemudian berlomba sampai ke garis akhir. Yang membuat menarik dari lomba ini, tak sedikit peserta yang terjatuh dalam usahanya mencapai garis finis.

Sejarah dari perlombaan ini adalah pada zaman pendudukan Jepang, penduduk Indonesia sangat miskin sampai-sampai tak sanggup untuk membeli sandang. Maka, untuk bisa berpakaian masyarakat kala itu menjadikan karung goni sebagai alternatif.

Karung goni memang sangat populer pada masa penjajahan. Karena hanya barang ini saja yang sangat mudah ditemukan dan dimiliki msayarakat Indonesia kala itu.

Tarik Tambang

Ilustrasi perlombaan tarik tambang saat perayaan 17 Agustus. (Foto/indosport.com)
Ilustrasi perlombaan tarik tambang saat perayaan 17 Agustus. (Foto/indosport.com)

Pertandingan yang melibatkan dua regu, dengan 5 atau lebih peserta ini juga hampir tak pernah tempo dalam perayaan 17 Agustus. Karena kepepulerannya, perlombaan ini juga sering dilaksanakan saat momen-momen penting di Indonesia.

Lomba ini menyajikan pertarungan dua regu. peralatannya hanya menggunakan sebuah tali tambang. Di tengah-tengah terdapat pembatas berupa garis. Untuk menentukan kemenangan, salah satu regu yang berhasil menarik lawannya ke daerahnya dinyatakan sebagai pemenang.

Makna yang terkandung dalam lomba ini adalah kekompakan tim. Lomba ini bukan sekedar adu kekuatan. Tarik tambang mengajarkan makna gontoroyong, kebersamaan, dan solidaritas. Meski kelihatan simple, perlombaan yang satu ini memiliki makna yang sangat penting untuk membangun bangsa.

Makan Kerupuk

Ilustrasi perlombaan makan kerupuk saat perayaan 17 Agustus. (Foto/rimanews.com)
Ilustrasi perlombaan makan kerupuk saat perayaan 17 Agustus. (Foto/rimanews.com)

Lomba makan kerupuk adalah salah satu lomba tradisional yang populer pada hari kemerdekaan Indonesia. Dalam pelaksanaannya, panitia perlombaan biasanya menyiapkan sejumlah kerupuk untuk peserta yang digantung dengan tali secara berjejer kepada sebuah tali panjang.

Kemudian, para peserta berlomba untuk memakan kerupuk masing-masing, dan pemenangnya adalah peserta yang paling cepat memakan habis kerupuknya. Dalam hal ini, semua peserta dalam melaksanakan lomba harus diikat tangannya.

Nah, pada lomba kali ini digambarkan sejarah masa penjajahan yang sangat sulit. Memang, pada masa penjajahan masyarakat indonesia memang susah dalam hal memenuhi kebutuhan pangan. Jadi, makna sejarah yang terkandung dalam lomba ini sangatlah menyentuh.

Panjat Pinang

Ilustrasi perlombaan panjat pinang saat perayaan 17 Agustus. (Foto/kapanlagi.com)
Ilustrasi perlombaan panjat pinang saat perayaan 17 Agustus. (Foto/kapanlagi.com)

Perlombaan yang satu ini memang menjadi primadona saat perayaan 17 Agustus. Dalam pelaksanaannya, lomba ini menyediakan sebuah pohon pinang yang tinggi dan batangnya dilumuri oleh pelumas atau oli bekas dan sabun untuk melicinkannya.

Di bagian atas pohon tersebut, disiapkan berbagai hadiah menarik, dari makanan hingga hadia menarik lainnya. Para peserta berlomba untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut dengan cara memanjat batang pohon yang biasanya pohon pinang.

Panjat pinang berasal dari zaman penjajahan Belanda dulu. lomba panjat pinang diadakan oleh orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain. Yang mengikuti lomba ini adalah orang-orang pribumi.

Merawat Tradisi Perayaan 17 Agustus

Perlombaan perayaan 17 Agustus di kota-kota saat ini mulai tergerus seiring lahan untuk penyelenggaraan lomba semakin sempit. Akibatnya, taksedikit daerah yang urung melaksanakan perayaan lomba tersebut. Padahal, lomba tahunan tersebut sudah menjadi tradisi Inonesia atau identitas negara kita.

"Negara lain malah sedang sibuk mencari permainan tradisional mereka. Beberapa watu lalu saya ketemu orang Jerman yang sedang mencari kearifan lokannya. Susah sekali," tutur Agus Sudarno, Wakil Direktiur PT Pembangunan Jaya Ancol seperti dilansir Kompas.

Ia melanjutkan bahwa Indonesia sangat beruntung dengan tradisinya yang beragam seperti, perayaan 17 Agustus. "Ini jangan sampai hilang ya," pinta Agus. (*)


Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH