Perang Sepanjang, Aksi Perlawanan Terbesar Persekutuan Tionghoa-Mataram Menghadapi VOC! Sketsa pembantaian orang Tionghoa pada 1740. (sumber, Atlas van Stolk)

JAUH sebelum Perang Diponegoro (1825-1830), terdapat perlawanan terbesar persekutuan Tionghoa-Mataram melawan kompeni di hampir seluruh penjuru Jawa.

Perang Sepanjang atau Perang Kuning (1740-1743) merupakan gambaran betapa pasukan Tionghoa dan Jawa pernah bersama-sama berjibaku menyusun kekuatan untuk menghadapi kekuatan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Kongsi Dagang Perusahan Hindia-Timur Belanda.

Perlawanan orang-orang Tionghoa terutama pasukan di bawah komando Kapitan Sepanjang dipicu aksi pembantaian besar-besaran VOC terhadap kaum Tionghoa di Batavia pada tahun 1740. Diperkiran 10.000 orang Tionghoa, termasuk perempuan dan anak-anak tewas.

Saat perekonomian di Batavia semakin merosot, Gubernur Jendral Adriaan Valckenier mengeluarkan keputusan baru pada 1738, agar seluruh masyarakat Tionghoa diharuskan memiliki izin menetap atau permissie brief, dengan ketentuan setiap orang Tionghoa harus membayar dua ringgit.

Peraturan tersebut, seturut Daradjadi pada Geger Pacinan, Persekutuan Tionghoa Jawa Melawan VOC, digunakan sebagai alat pemerasan para pejabat VOC, sehingga banyak orang Tionghoa menjadi bulan-bulanan. “Mereka ditangkap dan dilepas setelah memberi uang, namun tidak lama kemudian ditangkap kembali,” tulis Daradjadi.

Kegelisahan orang Tionghoa semakin meningkat ketika muncul desas-desus bila tak membayar uang maka mereka akan diangkut dan dibuang ke tengah laut. Suasana Batavia makin mencekam.

Saat perayaan Imlek berlangsung pada Februari 1740, Kompeni melakukan razia dan penangkapan besar-besaran terhadapan orang Tionghoa nan dicurigai tak memiliki surat izin menetap. Sebanyak 100 orang Tionghoa tinggal di daerah Bekasi dan Tanjung Priok masuk tahanan VOC.

Tak terima, orang Tionghoa pun balik melawan. Mereka melakukan aksi pembebasan kepada temannya di penjara. Aksi tersebut mendapat respon VOC, dengan pemberlakuan keputusan Dewan Hindia pada 25 Juli 1740 untuk menangkap orang-orang Tionghoa, baik memiliki atau pun tidak izin menetap, apabila dicurigai akan melakukan pemberontakan.

Keputusan tersebut membangkitkan semangat kebangkitan di kalangan orang Tionghoa. Mereka berhimpun. Sekira 10.000 orang Tionghoa berkumpul di pabrik gula Gandaria, (kini wilayah Jakarta Selatan). Mereka dipimpin seorang Khe (Que) berasal dari kata Singkek atau sebutan bagi orang Tionghoa baru tiba di Batavia asal Tiongkok, bernama Sepanjang.

Serangan pun dimulai terhadap pos-pos Kompeni di pinggir kota, seperti Tangerang, Jatinegara, dan De Qual hingga sempat berhasil mencapai gerbang kota Batavia. Mereka mendapat serangan VOC pada 9 Oktober. Pasukan Tionghoa mundur. Tapi keadaan di dalam kota malah berubah kisruh.

Kompeni mulai menggeledah dan menjarah hingga membakar rumah orang Tionghoa. Situasi semakin kacau. “Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier memerintahkan membantai orang Tionghoa tanpa pandang bulu,” tulis Daradjadi.

Keesokan hari, 10 Oktober, Valckenier kembali memerintahkan agar sisa-sisa orang Tionghoa, laki dan perempuan, tua-muda, sebanyak 500 orang diseret dari rumah untuk dieksekusi di dekat Staadhuis (kini lapangan Museum Fatahillah). Sementara pasien Tionghoa di rumah sakit dekat Kali Besar Roa Malaka, diperintah keluar lalu dibunuh. Diperkirakan 10.000 orang Tionghoa hilang nyawa.

Tak mau ongkang-ongkang kaki, Pasukan Sepanjang membalas perlakuan Kompeni. Pada tanggal 11 Oktober, sejumlah 3.000 pasukan Tionghoa menyerbu Benteng Kompeni di Tangerang, sedangkan 6.000 menyerang Meester Cornelis (Jatinegara). Korban berjatuhan di kedua pihak.

Kapitan Sepanjang kemudian memindahkan pertahanan dari Gandaria ke Gading Melati, kemudian menyerbu Batavia. Serangan mereka terhempas karena kalah persenjataan. Mereka lantas membangun barikade untuk menghadang serbuan VOC.

Pasukan Sepanjang kemudian bergerak menuju Bekasi untuk kembali membangun pertahanan. Orang-orang Tionghoa nan selamat dari serangan Kompeni di Kampung Melayu, Pulogadung, Tanjung Priok, dan Sukapura bergabung.

Kompeni di bawah komando Abraham Roos mengejar mereka hingga masuk Bekasi. Pasukan Sepanjang menyingkir melintasi Cirebon, Losari, dan Tegal. Selama di wilayah Mataram, pasukan Sepanjang melebur dengan penguasa lokal Jawa. Mereka bahkan beraliansi.

Semarang dan Surabaya, menurut wartawan senior Kompas, Iwan Ong pada “Perang Terbesar Melawan VOC, Modal Sosial Membangun Indonesia”, sempat dikepung pasukan koalisi Tionghoa-Jawa, sementara pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga Cirebon dan Priangan Timur juga tersulut api perlawan terhadap VOC.

“Periode Perang Sepanjang juga menumbuhkan benih perlawanan di kalangan bangsawan Jawa terhadap kepemimpinan khianat dan mengamba kepada kekuasaan asing Kompeni,” ungkap Iwan Ong.

Sunan Pakubuwana II semula bersekutu dengan aliansi tersebut, namun kemudian balik mendukung Kompeni, lantas berhasil istananya diluluhlantahkan pasukan Tionghoa-Jawa. Mereka mengangkat Mas Garendi atau Sunan Kuning menjadi raja mereka.

Dalam historiografi Indonesia, di masa Bung Karno, seturut sejarawan Didi Kwartanada pada pengantar buku tersebut bertajuk “Bukan Incorrigible Opportunists, Melainkan Kawan Seperjuangan”, episode tersebut masih muncul pada buku teks sejarah, semisal karya Soeroto bertajuk Indonesia dan Dunia: Peladjaran Sedjarah untuk SMP Djilid 2, tahun 1961.


Tetapi di masa Orde Baru, Perang Sepanjang, lanjut Kwartanada, sudah tidak diajarkan lagi kepada para murid, padahal cukup penting bagi nation building. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH