Penyiram Novel Bakal Langsung Bebas, Ini Penjelasannya Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan memenuhi panggilan polisi atas kasus dugaan penyiraman air keras yang menimpa dirinya, Senin (6/1/2020). (ANTARA/Fianda Rassat/am).

Merahputih.com - Praktisi hukum Suparji Ahmad menduga, dua terdakwa penyerang penyidik KPK Novel Baswedan, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir bakal langsung bebas apabila divonis bersalah. Ini jika mengacu pada tuntutan jaksa yang hanya setahun.

Keduanya sudah menjalani hukuman sejak ditangkap pada 27 Desember 2019 lalu sementara vonis bakal berlangsung pada 16 Juli mendatang.

Baca Juga:

Jaksa Agung Turun Tangan, JPU Novel Baswedan Bakal Kena Evaluasi?

Antara Desember 2019 sampai Juli 2020 sudah memasuki delapan bulan. Sementara, jika divonis setahun, akan tersisa 3 bulan lagi dimana waktu tersebut tak bisa dilakukan penahanan.

"Dia sudah menjalani 3/4 masa hukuman. Bisa saja akan bebas bersyarat kalau sesuai dengan vonis sesuai tuntutan jaksa," kata Suparji kepada Merahputih.com di Jakarta, Jumat (3/7).

Suparji mengatakan, sulit bagi hakim jika memberi vonis diatas tuntutan. "Karena tren vonis melebih tuntutan bisa membuat polemik, masuknya ultrapetita," jelas praktisi hukum dari Universitas Al Azhar ini.

Suparji hanya berharap, hakim jangan tersandra dengan tuntutan jaksa dan mesti mendengar keadilan masyarakat. Bahkan, mestinya dua penyerang Novel diperberat hukumannya mengingat mereka adalah penegak hukum dari institusi Polri.

Penyidik senior KPK Novel Baswedan. (Ant)
Penyidik senior KPK Novel Baswedan. (Ant)

Apalagi, Kapolri Jenderal Idham Azis sudah meminta polisi yang terjerat narkoba divonis mati. "Ini mestinya pararel dengan dua pelaku penyerang Novel," terang Suparji.

Ketua Komisi Kejaksaan RI Barita Simanjuntak akan memberikan rekomendasi setelah mendapatkan keterangan dari Novel Baswedan perihal laporannya terkait persidangan terdakwa kasus penyerangan Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette. Di mana mereka hanya dituntut satu tahun penjara.

"Jadi output-nya adalah rekomendasi. Rekomendasi itu memaparkan semua fakta-fakta yang objektif terhadap penanganan kasus itu dari mulai yang menjadi tugas kewenangan komisi dan penilaian kerja jaksanya," katanya.

Menurutnya, Kejaksaan Agung (Kejagung) juga akan mengevaluasi tuntutan terhadap kedua terdakwa penyiraman air keras tersebut. Namun, evaluasi Kejagung tidak masuk dalam pertimbangan rekomendasi Komjak.

"Kejagung kan memiliki pengawasan internal, itu bisa dilakukan secara langsung karena kan struktur Kejagung itu adalah struktural ke bawah. Tapi kalau komisi kan ini tidak memiliki struktural kejaksaan, jadi kita harus menunggu pelaksanaan tugas sampai putusan itu selesai," ujar Barita.

Baca Juga:

Proses Hukum Banyak Kejanggalan dan Jauh dari Fakta, Novel Baswedan Putus Asa?

Barita mengungkapkan, rekomendasi Komjak nantinya bertujuan untuk penyempurnaan organisasi. Kemudian, peningkatan kinerja dan tata organisasi dan prosedur penanganan kasus. "Rekomendasi berkaitan dengan reward (penghargaan) atau punishment (hukuman)," pungkas Barita.

Komisi Kejaksaan akan menyampaikan rekomendasi itu kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jaksa Agung ST Burhanuddin. Rekomendasi itu diharapkan memperbaiki kinerja aparat penegak hukum. (Knu)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Tahun Ajaran Baru Belum Jelas, Serikat Guru Harap-Harap Cemas
Indonesia
Tahun Ajaran Baru Belum Jelas, Serikat Guru Harap-Harap Cemas

Hingga saat ini, belum ada keputusan yang jelas dari Kemendikbud

Reaktif Saat Berkerumun di Malam Pergantian Tahun, Siap-Siap Dikirim ke Wisma Atlet
Indonesia
Reaktif Saat Berkerumun di Malam Pergantian Tahun, Siap-Siap Dikirim ke Wisma Atlet

Ada penutupan ruas menuju kawasan Monas terhitung mulai pukul 19.00 WIB

Sejumlah Provinsi Alami Lonjakan Kasus COVID-19
Indonesia
Sejumlah Provinsi Alami Lonjakan Kasus COVID-19

Satgas COVID-19 menyebut, dalam sepekan terakhir, terdapat tujuh provinsi yang mengalami kenaikan positif corona.

Mayoritas Pendukung Jokowi Lebih Pilih Ganjar dan AHY Ketimbang Anies
Indonesia
Mayoritas Pendukung Jokowi Lebih Pilih Ganjar dan AHY Ketimbang Anies

Ganjar yang merupakan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan meraup 11,1 persen suara pemilih Jokowi-Ma'ruf.

Pelesetkan Marga 'Latuconsina', Andre Taulany dan Rina Nose Dipolisikan Pakai UU ITE
Indonesia
Pelesetkan Marga 'Latuconsina', Andre Taulany dan Rina Nose Dipolisikan Pakai UU ITE

Sekarang laporannya sudah diterima di Polda Metro Jaya

Keluarga Jokowi Menangi 'Quick Count', Bentuk Komitmen Megawati Sebagai Ketum PDIP?
Indonesia
Keluarga Jokowi Menangi 'Quick Count', Bentuk Komitmen Megawati Sebagai Ketum PDIP?

Gibran dan Bobby tidak menunjukkan sedikitpun lemah semangat

Warga Jawa Timur Paling Banyak yang Diobservasi di Natuna
Indonesia
Warga Jawa Timur Paling Banyak yang Diobservasi di Natuna

pesawat yang akan mengantarkan WNI ke Lanud Halim Perdanakusuma akan berangkat pada 7 pagi dari Jakarta menuju Natuna

Pemerintah Kini Miliki 20 PCR untuk Tes COVID-19
Indonesia
Pemerintah Kini Miliki 20 PCR untuk Tes COVID-19

Apabila semua alat tes telah terinstal maka dalam satu hari bisa mengetahui hasil tes 9.000 hingga 10.000

Kasus Penyekapan di Jakarta Pusat, Korban Dianiaya hingga Luka-luka
Indonesia
Kasus Penyekapan di Jakarta Pusat, Korban Dianiaya hingga Luka-luka

Penganiyaan dan penyekapan yang terjadi Rabu (22/1) pagi ini berlangsung tujuh jam.

Dua Bentrokan Pecah di Dekat Istana! Baku Hantam Tak Terelakkan
Indonesia
Dua Bentrokan Pecah di Dekat Istana! Baku Hantam Tak Terelakkan

Alih-alih mundur, massa justru berhasil makin mendesak aparat makin untuk mendekati Istana