Penyakit Ginjal Kronik, Penyakit Tanpa Tanda-Tanda yang Mematikan Penyakit ginjal kronis (Sumber: Times of Israel)

GINJAL memainkan peranan krusial dalam hidup manusia. Setiap harinya dua ginjal kita menyaring sekitar 120 hngga 150 liter darah dan menghasilkan 1 hingga 2 liter urin. Selain itu ginjal juga mengeluarkan enzim renin untuk menjaga tekanan darah, hormon eritropoietin yang merangsang sumsum tulang memproduksi sel darah merah dan vitamin D aktif yang dibutuhkan untuk kesehatan tulang.

Bisa dibayangkan jika fungsi kedua ginjal menurun, maka akan menganggu seluruh sistem dalam tubuh kita. Gangguan yang terjadi pada ginjal berupa penyakit ginjal kronik dan gangguan ginjal akut. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, pasien dengan penyakit ginjal kronik berada di angka 3,8per mil. Angka ini mengalami kenaikan sebanyak 1,8 permil dari tahun 2013.

Baca juga:

Biji Nangka Meredakan Rambut Rontok

Sakit ginjal
Ilustrasi penyakit ginjal (Sumber: Clinical Advisor)

Hasil riset tersebut juga menunjukkan prevalensi gagal ginjal pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Gagal ginjal pada laki-laki sebesar 4,17 persen sementara pada perempuan sebesar 3,52 persen. Sedangkan berdasarkan karakteristik usia, prevalensi tertinggi pada kategori usia 65 hingga 74 tahun. Jumlah pasien gagal ginjal di kategori usia 65 hingga 74 tahun mencapai angka 8,23%.

"Pada awalnya, tidak ditemukan gejala yang khas sehingga penyakit ini seringkali terlambat diketahui," ujar Ketua Umum Perhimpunan Nefrologi Indonesia, dr. Aida Lydia, PhD, Sp.PD-KGH ditemui di Grand Capitol Ballroom, Jakarta Selatan, Rabu (11/3). Untuk itu, penting bagi kita mengenal faktor resiko dari penyakit ginjal.

Faktor risiko terbagi atas dua, yakni yang dapat dimodifikasi (diubah) dan yang tidak dapat dimodifkasi. Faktor risiko yang masuk dalam golongan dapat dimodifikasi misalnya riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, kelahiran prematur, dan usia tua. Sementara golongan yang tidak dapat dimodifikasi antara lain penggunaan obat yang bersifat toksik bagi ginjal (misalnya obat penghilang rasa sakit), diabetes tipe 2, hipertensi, dan NAPZA.

Baca juga:

Alat Medis untuk Mendeteksi Kanker Payudara

Ginjal
dr. Aida Lydia, PhD, Sp.PD-KGH (FOTO: MP/IFTINAVIA PRADINANTIA)

Penyakit ginjal kronik berbahaya karena selain tidak menunjukkan tanda-tanda dan gejala khusus, penyakit ini dapat berkembang cepat menjadi gagal ginjal. "Apabila penyakit ginjal kronik terdeteksi sejak dini, pengobatan pun dapat segera dilakukan untuk mengurangi komplikasi," ucap Dokter Aida. Untuk mengetahuinya, kita bisa melakukan pemeriksaan pada darah dan urin.

"Pemeriksaan darah dilakukan dengan melihat kadar kreatinin, ureum dan estimasi laju filtrasi glomerulus sementara pemeriksaan urin dilakukan dengan melihat kadar albumin dan sel darah merah," urainya.

Meskipun tidak ada tanda dan gejala spesifik, ada beberapa gejala penurunan fungsi ginjal seperti perubahan jumlah urin dan penambahan frekuensi buang air kecil dalam sehari, adanya darah di urin, lemah serta sulit tidur, kehilangan napsu makan, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, gatal, sesak, mual dan muntah, serta terjadi pembengkakan di kaki dan pergelangan kaki.

Jika kamu menemukan gejala abnormal tersebut, kamu masih bisa mencegahnya agar tidak berkembang menjadi penyakit ginjal kronik dengan cara cek kesehatan secara berkala, menghindari asap rokok, rajin melakukan aktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat yang cukup dan mengelola stres dengan baik. (Avia)

Baca juga:

Jangan Makan Pisang Saat Perut Kosong

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Iftinavia Pradinantia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH