Pentingnya Kerja Sama Siber untuk Redam Bahaya Terorisme di ASEAN Para pemimpin ASEAN dan Australia. ANTARA FOTO/REUTERS/David Gray)

MerahPutih.Com - Ancaman terorisme melalui siber telah menyerang hampir semua negara tidak terkecuali negara maju sekalipun. Menurut Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, tidak ada negara yang mampu mengatasi ancaman siber dan terorisme secara sendirian.

"Tidak ada 'single state' yang sendirian mampu mengatasi ancaman siber, tidak mungkin. Perlu kerja sama regional dan global untuk mengatasi ancaman siber dan terorisme," kata Menko Polhukam Wiranto di sela Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Singapura, Sabtu (28/4).

"Maka selalu kalau kita pergi keluar negeri, ke suatu negara, dalam rangka membahas keamanan nasional masing masing negara, selalu kita membicarakan keamanan regional dan global karena kita harus bekerja sama," kata Wiranto.

Menko Polhukam Wiranto
Menko Polhukam Wiranto (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Ia menegaskan setiap dirinya kunjungan ke negara lain, pihaknya bicara bagaimana semua pihak secara bersama-sama menangani pengamanan siber.

Menurut Wiranto sebagaimana dilansir Antara, ancaman siber sama dengan terorisme. Ancaman siber tidak mengenal batas negara dan ia tidak taat pada regulasi negara manapun.

"Dia bisa lintas negara maka tidak ada 'single state' yang sendirian mampu mengatasi ancaman siber, tidak mungkin, kayak terorisme," tegas Wiranto.

Ia menegaskan ketika pejabat di lingkungan Kemenko Polhukam pergi keluar negeri ke suatu negara dalam rangka membahas keamanan nasional masing-masing negara, selalu dibicarakan keamanan regional dan global karena penanganan masalah itu memerlukan kerja sama.

"Saya baru saja pulang dari Rusia, sebelum saya ke Singapura ini mengikuti rombongan Presiden untuk pertemuan ASEAN," katanya.

Kejahatan Siber
Ilustrasi. (Foto: Digital Trends)

Ia mengungkapkan materi pembicaraan dalam kunjungan ke Rusia itu juga masalah keamanan global, juga bicara terorisme dan ancaman siber.

Menurut dia, ketika bicara keamanan global, pasti tidak lepas dari dua hal, yaitu bagaimana melawan "cyber attack" dan melawan terorisme.

"Di Indonesia, kita juga sedang menghadapi perkembangan 'cyber space' yang memang dapat mengarah kepada ancaman kalau kita tidak menanganinya dengan baik," kata Wiranto.

Sementara itu, berbicara di tempat yang sama, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan kerja sama keamanan siber akan dikembangkan di kawasan ASEAN khususnya dalam KTT ASEAN ke-32 sebagai salah satu upaya bersama untuk mewaspadai serangan siber.

Menlu Retno Marsudi
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Retno LP Marsudi di Singapura, saat menggelar konferensi pers mengatakan kerja sama keamanan siber dilatarbelakangi oleh besarnya potensi ASEAN dalam hal e-commerce termasuk pengguna internet ASEAN yang diperkirakan akan naik menjadi 300 juta dan nilainya sangat besar.

"Tapi perlu waspada serangan siber sehingga kerja sama siber merupakan sebuah keharusan," katanya.

Ia mengatakan kerja sama yang dikembangkan bukan hanya antar-negara tetapi juga meliputi industri teknologi informasi dan komunikasi.

"Ada kerangka kerja sama keamanan siber termasuk perlindungan data pribadi," katanya.

Pada kesempatan yang sama Dirjen Kerja Sama ASEAN Jose Tavares mengatakan pernyataan dari para pemimpin dan kepala negara ASEAN dalam kaitannya dengan keamanan siber sudah disepakati.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte
Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyapa komunitas Filipina di sebuah convention hall di Singapura (ANTARA FOTO/REUTERS/Feline Lim)

"Kerja sama meliputi berbagai hal di antaranya mengenai peningkatan kapasitas, norma-norma dalam dunia siber untuk masalah keamanan siber dan perlindungan data pribadi," katanya.

Singapura menjadi tuan rumah KTT ASEAN tahun 2018 mengangkat tema "Resilient and Innovative ASEAN" yang didahului oleh pertemuan para wakil tetap negara anggota untuk ASEAN pada 25 April dan SOM (Senior Official Meeting) pada 26 April 2018.

Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan tingkat menteri ASEAN pada 27 April 2018 dilanjutkan dengan kehadiran Presiden Joko Widodo dalam sesi pleno pada 27 April dan sesi "retreat"pada 28 April.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Animo Warga Bandung dan Peluang Wisata dalam Karnaval KAA 2018



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH