Penjelasan BMKG Terkait Aktifnya Gunung Merapi Gunung Merapi mengalami erupsi terpantau dari Dusun Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali Jawa Tengah, Senin (14/10). (Istimewa/BPPTKG)

MerahPutih.com - Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono memberikan penjelasan terkait aktifnya Gunung Merapi di Yogyakarta baru-baru ini. Menurutnya, kemungkinan itu terkait pengaruh gempa tektonik yang terjadi di sekitar area tersebut

"Secara tektovulkanik, gempa tektonik dapat meningkatkan aktivitas vulkanisme. Syaratnya kondisi gunung api tersebut sedang aktif, magma cair dan kaya gas. Jika kondisi semacam ini maka dinamika tektonik di sekitar kantung magma rentan memicu aktivitas vulkanisme," ujar Daryono dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (17/10)

Baca Juga

Canggih, Kondisi Merapi Bisa Dilihat Lewat Aplikasi Ponsel

Sebelumnya, terjadi letusan Gunung Merapi pada Senin (14/10). Puncak Merapi menyemburkan awan panas dengan kolom setinggi 3.000 meter, menurut sumber BPPTKG Yogyakarta.

Yang menarik, ujarnya, sebagaimana dilansir Antara, dalam waktu hampir bersamaan dengan letusan Merapi terjadi aktivitas gempa tektonik magnitudo 2,8 SR di Samudera Hindia, dengan episenter gempa berada 38 km barat daya Bantul, D.I. Yogyakarta.

Erupsi Gunung Merapi menyebabkan sejumlah desa di Boyolali diguyur abu vulkanik
Dampak erupsi Merapi menyebabkan sejumlah desa di Boyolali diguyur abu vulkanik (Istimewa/BPPTKG)

Berdasarkan teori, gempa tektonik memang dapat meningkatkan aktivitas vulkanisme. Gempa tektonik yang terjadi di dekat gunung berapi aktif dapat menciptakan stress-strain yang memicu perubahan tekanan gas di dalam kantung magma.

Baca Juga

Merapi Erupsi, Desa Tlogolele Boyolali Diguyur Abu Vulkanik

Akibatnya, ujar Daryono, dapat menekan cebakan lubuk penyimpanan magma gunung berapi dan dapat mengakibatkan aktifnya gunung api ketika berlangsungnya induksi perambatan stress-strain dari aktivitas seismik akibat gempa tektonik.

BMKG sendiri mencatat peningkatan aktivitas tektonik dalam beberapa hari terakhir jelang letusan Merapi pada Senin lalu, dengan terjadi 5 gempa tektonik sejak awal Oktober 2019.

Menurut Daryono, jika aktivitas vulkanisme gunung api merupakan bagian dari rangkaian kegiatan tektonik, maka dapat dikatakan bahwa aktifnya Merapi tampaknya tidak terlepas dari pengaruh kegiatan gempa tektonik yang terjadi di sekitarnya.

Memang dalam banyak kasus, letusan Merapi didahului adanya gempa tektonik lokal baik yang bersumber dari zona subduksi maupun sesar aktif di Yogyakarta.

Baca Juga

Wisata Lereng Merapi Paling Diminati Para Wisatawan Selama Lebaran

Salah satu contoh adalah menjelang letusan Merapi 2010, BMKG mencatat adanya peningkatan aktivitas gempa tektonik 9 bulan sebelumnya. Saat itu ada 23 gempa tektonik bersumber dari zona sesar aktif, ujar Daryono.

"Untuk membuktikan adanya kaitan antara aktivitas gempa tektonik dan letusan gunung api tentu perlu kajian lebih mendalam secara empiris," pungkasnya. (*)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH