Penjamasan Pusaka Bentuk Pelestarian Benda Budaya Penjamasan pusaka sebagai bentuk pelestarian budaya. (Foto: suryo)

BULAN Suro dalam kalender Jawa sama dengan bulan Muharam pada penanggalan Hijriyah. Khususmnya dalam budaya Jawa banyak ritual yang dilakukan dalam bulan ini. Salah satunya adalah penjamasan pusaka. Pejamasan pusaka adalah pencucian benda-benda pusaka yang merupakan warisan dari leluhur.

Penjamasan pusaka bukan bentuk dari ritual penyembahan benda pusaka. Melainkan bentuk dari pelestarian benda-benda kebudayaan. Benda-benda pusaka ini bisa berupa keris, tombak, pedang, klewang dan sejenisnya.

Benda-benda pusaka ini merupakan benda yang dibuat dengan teknologi saat itu yang mencampurkan berbagai logam menjadi satu bilah benda pusaka. Karena kebanyakan benda-benda pusaka ini terbuat dari logam yang rentan dimakan karat. Maka dibutuhkan perawatan minimal setahun sekali dengan penjamasan itu.

Tidak ada bau-bau mistis dalam pencucian benda pusaka yang kerap disebut sebagai tosan aji. Tidak ada air kembang atau asap kemenyan ketika melakukan pencucian. Semua dilakukan sewajarnya.

(Foto: suryo)

Untuk mencucui tosan aji ini hanya membutuhkan air bersih, air perasan jeruk nipis, dan warangan (arsenikum). Sedangkan sikat yang digunakan memang khusus yakni sikat dari rambut kuda. Pada tahap air disapukan minyak cendana agar lebih awet dan wangi

Bahan-bahan pencucian memiliki fungsinya masing-masing. Air jelas dibutuhkan selama melakukan pencucian. Kemudian air jeruk nipis digunakan untuk meluruhkan minyak dan karat yang menempel pada bilah tosan aji. Sedangakan warangan dipakai untuk menjaga keawetan logam juga memunculkan pamor tosan aji.

"Warangan tak boleh sembarangan dipakai karena berbahaya. Tapi pada logam bisa untuk menjaga dari karat dan memunculkan pamor," kata Haryadi yang memiliki kebisaan memandikan tosan aji.

Pada tahun ini cuaca sangat mendukung penjamasan tosan aji. Cuaca panas membantu proses pencucian tosan aji menjadi maksimal.

"Kalau musim hujan susah untuk mencuci tosan aji. Udara yang dingin tidak bisa membuat pencucian menjadi baik. Warangan tidak mau menempel pada besinya. Harus dicuci lagi dari awal," jelas Ngaskarul pencuci tosan aji yang ditemui di Cipinang Muara, Jakarta Timur. (psr)

Kredit : paksi

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH