Penggunaan Blockchain dalam Pemilu Teknologi blockchain mampu membuat pemilu lebih transparan. (Foto: Pixabay/xresch)

PEMILU merupakan perangkat penting bagi pemerintahan demokrasi. Jika bukan karena voting, konsep negara bebas tidak akan pernah ada. Namun ini benar-benar menarik dan mengejutkan bahwa kita masih belum beralih dari sistem pemungutan suara dengan menggunakan kertas.

Sistem pemungutan suara dengan kertas banyak digunakan negara di seluruh dunia. Konsepnya simpel, kamu melakukan pemberian suara dalam selembar kertas lalu memasukannya ke dalam kotak suara. Pada akhir waktu pemilihan, suara dihitung dan siapapun yang mendapat suara terbanyak adalah pemenangnya. Namun, tidak sesederhana kedengarannya, ada banyak masalah yang dapat terjadi karena sistem pemungutan suara kertas tradisional.

Permasalahan dengan sistem pemungutan suara kertas tradisional, yaitu:
– sistem yang tidak bisa otomatis dan sangat membosankan. Secara fisik seseorang harus mendatangi lokasi pemungutan suara. Kemudian harus mengikuti proses yang sudah ditentukan oleh undang-undang. Seluruh prosesnya sangat memakan waktu.

– Pemborosan waktu.

– Ada kemungkinan manipulasi surat suara.

– Manuver partai-partai kuat untuk memenangkan pemilu.

– Limbah kertas suara yang berdampak pada lingkungan.

– Tidak ada rekam historis yang bisa melacak setiap suara yang dibuat.

– Biaya pencetakan surat suara yang tinggi.

– Mustahil untuk melacak suara kamu.

– Setelah kamu memberikan suara tidak dapat mengubahnya.

blockchain
Blockchain mengurangi penggunaan kertas. (Foto: Pixabay/TheDigitalArtist)

Jadi seperti yang dapat lihat, ada banyak kerugian dari sistem surat suara. Untuk melawan ini, sistem voting digital dipakai di beberapa negara seperti salah satunya adalah Estonia. The Economist menuliskan bahwa Estonia telah memiliki pemungutan suara elektronik sejak 2005. Bahkan, selama pemilihan parlemen 2015, 30,5% suara dilakukan secara digital.

Namun ada beberapa kemungkinan masalah dalam sistem yang ditunjukkan, demikian tulis The Economist. Pertama, klien bisa mengembangkan malware yang membaca setiap suara dan mengubah suara ke kandidat lainnya. Hacker dapat langsung menginfeksi server melalui malware yang digunakan untuk mengatur server dan mentransfer suara. Sementara masalah ini dikritik dan diperebutkan oleh Otoritas Sistem Informasi Estonia, faktanya memiliki server terpusat yang mengurus suara dapat rentan terhadap berbagai serangan dan peretasan.

Perusahaan seperti Follow My Vote menggunakan teknologi blockchain dan Elliptical Curve Cryptography untuk membawa voting ke abad 21. Tujuan mereka sederhana, membuat proses pemilihan setransparan mungkin. Apa yang sebenarnya terjadi pada suara dan setelah kamu memasukkannya? Hampir tidak ada yang tahu itu. Jadi, bagaimana teknologi blockchain akan memperbaiki ini?

Follow My Vote kemudian menciptakan sistem dimana setiap calon pemilih dapat login dengan aman menggunakan webcam dan tanda pengenal resmi dari pemerintah. Setelah mereka selesai melakukan pemungutan suara, siapa pun dapat menggunakan ID pemungutan suara untuk melacaknya dan memeriksa hasil pilihannya. Bahkan memberi pemilih kemampuan untuk mengubah suara mereka beberapa kali sampai batas waktu tertentu.

pemugutan suara
Sistem pemugutan suara melalui teknologi blockchain di Estonia. (Foto: ist)

Perusahaan ini menggunakan Elliptical Curve Cryptography (ECC) untuk ,mengumpulkan suara. ECC adalah bentuk kriptografi asimetris. Kriptografi asimetris menggunakan dua key (public key dan private key) untuk mengenkripsi dan mendekripsi data. ECC pada dasarnya sama yang digunakan Bitcoin dan Ethereum untuk kriptografi mereka. Satu hal yang perlu diperhatikan, private key tidak boleh diungkapkan kepada siapa pun kecuali pengguna dan public key menghasilkan alamat publik yang dibagikan dengan semua orang.

Jadi, bagaimana Follow My Vote menggunakan teknologi ini untuk mengumpulkan suara?

Selama pendaftaran pemilih akan diberi dua key-pair ECC. Pemilih mengungkapkan identitasnya sebagai verifikasi yang mengesahkan key-pair pertama. Setelah itu pemilih mendaftarkan key-pair kedua mereka secara anonim sebagai milik pair pertama. Key-pair pertama disebut identity key-pair, sementara yang kedua disebut voting key-pair.

Pemilih kemudian dapat membuat transaksi yang pada dasarnya adalah suara mereka dan menandatanganinya dengan private key pemungutan suara. Setelah pemungutan suara selesai, siapa pun dapat memverifikasi apakah signature itu sah atau tidak. Kemudian memastikan bahwa tidak ada suara yang dirusak. Mereka dapat dengan mudah memverifikasi menggunakan public key untuk memeriksa apakah memang pemilih yang melakukan pemungutan suara atau tidak. (*)

Kredit : paksi

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH