MerahPutih.com - Penggunaan program dan aplikasi artificial intelligence atau kecerdasan buatan di kampus-kampus Indonesia tak terelakkan. Misalnya saja ChatGPT untuk penulisan makalah atau tugas akhir.
Meski ada sejumlah kampus yang melarang mahasiswa menggunakannya, tak sedikit pula kampus mengizinkan penggunaannya untuk mahasiswa.
Menyikapi hal itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Nezar Patria meminta mahasiswa tetap menerapkan prinsip kejujuran dalam menggunakan aplikasi berbasis AI yang belakangan dimanfaatkan semakin masif.
Baca juga:
Wamenkominfo Minta Masyarakat Jaga Ruang Digital agar Tak Terjadi Polarisasi
"Honestly saya kira salah satu prinsip yang sangat penting. Akan abadi walaupun di tengah guncangan apa pun," kata Nezar dalam bedah buku Bernalar Sebelum Klik di Palembang, Sumatera Selatan, melalui keterangan persnya (29/1).
Wamen Nezar Patria menyatakan kehadiran ChatGPT sedikit banyak menimbulkan kontoversi di kalangan akademisi. Namun, ia tetap melihat sisi positif ChatGPT. Apalagi jika mahasiswa menggunakannya secara bijak.
"Jadi soal ChatGPT ini kalau saran saya, jangan kita hambat inovasinya. Biarkan dia berkembang, tapi kita bijak menggunakannya. Kita gunakan ChatGPT itu, ambil manfaat yang sebesar-besarnya dari sana. Dia bisa membantu kita misalnya membuat suatu rencana bisnis. Itu paling jago ChatGPT," kata Nezar.
Ia juga menyebut pemanfaatan teknologi AI membutuhkan kecermatan dan kecakapan dalam menjaga keamanan data pribadi. Menurutnya, setiap platform digital bisa mengakses data pribadi setiap pengguna dan data ini tidak hanya berkaitan dengan identitas pribadi namun berkaitan dengan aktivitas dan pergerakan setiap orang.
Untuk itu, dia mengingatkan agar setiap mahasiswa menjaga keamanan data pribadi di dunia digital.
“Jadi, kita berada dalam lanskap digital, kita harus berhati-hati betul dengan soal data, kita harus punya awareness soal ini,” sebut Nezar. (dru)
Baca juga:
Artificial Intelligence Permudah Belanja Daring