Pengguna KRL Membludak di Stasiun Bogor Gegara Pengaturan Jam Kerja Tak Efektif Sejumlah penumpang beraktivitas di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Kamis (11/6/2020). ANTARA FOTO/Fauzan/aww. (ANTARA FOTO/FAUZAN)

Merahputih.com - VP Corporate Communications PT KCI Anne Purba menyebutkan, penumpang sudah membeludak di Stasiun Bogor sejak pukul 04.30 WIB. Jumlah penumpang sudah hampir kembali normal, baik dari arah Jakarta maupun Bogor.

"Terlihat ada peningkatan. Biasanya sampai pukul sembilan, terdapat 12.000 penumpang dari Bogor. kami memprediksi sepertinya ini, bisa mencapai 15.000 penumpang," kata Anne kepada wartawan, Senin (6/7).

Berdasarkan pengakuan penumpang, perusahaan mereka belum memberlakukan shifting setelah dibuka kembalinya kebijakan masa kerja tatap muka.

"Dan bagaimana pun sebagai pekerja menginginkan agar semua tepat waktu. Tapi pastikan saat ini KCI tidak bisa mengangkut penumpang sebanyak seperti sebelum pandemi," jelasnya.

Baca Juga

2 Tenaga Kesehatan di Indramayu Terkonfirmasi Positif COVID-19

PT KCI masih memberlakukan pembatasan sosial berupa jarak tempat duduk dalam setiap gerbong yang hanya memuat 74 orang.

"Setelah ini kami akan evaluasi, kami berharap ada kebijakan lagi. Imbauan pemda agar mencari solusi. Bagaiaman jasa commuter line ini bisa beropeasi dengan baik," katanya.

Anne menambahkan, diprediksi akan ada penambahan jumlah penumpang sebanyak 8% pada masa PSBB Pra AKB dari minggu lalu yang memuat sebanyak 400.000 penumpang.

Pada hari ini saja jumlah penumpang diprediksi mencapai sebanyak sampai 15.000 dari minggu lalu yang hanya 12.000 orang. “Pada masa normal, KRL Bogor biasa mengangkut 25.000 orang per hari Senin. Itu kalau normal bisa mencapai segitu," ujarnya.

Antrean pengguna KRL yang terlihat lebih tertib. (KCI)
Antrean pengguna KRL yang terlihat lebih tertib. (Antara/KCI)

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menilai penumpukan di Stasiun Bogor disebabkan beberapa faktor, di antaranya masih belum berjalannya sistem pengaturan (shift) jam kerja.

Akibatnya, antrean penumpang KRL commuter line awal pekan ini luar biasa dibanding Senin pekan lalu.

"Bapak Menteri Perhubungan dan Gubernur DKI Jakarta, pagi ini warga Bogor harus mengantre selama 1,5-2 jam untuk bisa masuk ke gerbong kereta. Bus yang kami siapkan sudah maksimal dan memang tidak bisa jadi solusi permanen," kata Bima.

Bima melihat, hal itu terjadi karena jumlah penumpang sudah dekati angka normal karena banyak sektor sudah dibuka di ibukota , namun kapasitas gerbong tetap dibatasi 35%.

Bima meminta agar sistem pembagian kerja dievaluasi total implementasinya. Idealnya waktu kerja lebih berjarak dan dipastikan berjalan di perkantoran.

"Nggak bisa ini, saya selalu sampaikan. Setiap senin penumpang selalu bertambah. Hari ini saja kenaikanya terlihat sekali. Saya melihat shift kerja tidak berjalan. Kemarin dengan pak Doni Munardo bilang di berbagai tempat shift sudah berjalan. Tetapi sepertinya, kebiasan berangkat penumpang tidak berubah," paparnya.

Baca Juga

Sudah Dilarang, Seorang Anak Sempat Dikabarkan Hilang Saat CFD

Dia menilai, ada beberapa faktor, bisa saja masuk ke kantornya mungkin sesuai dengan shift, tapi berangkatnya para penumpang ini yang tidak bisa dikontrol.

"Mungkin yang musti diubah jarak shifnya kurang jauh. Ini tidak bisa begini terus. Kita juga kewalahan. KCI juga kewalahan," lanjut Bima.

Bima menyebut, ketersediaan bus tidak akan berhasil karena diferensiasi kapasitas KRL dengan bus berbeda dan daya angkut bus serta KRL Commuter Line berbeda. Pada hari Senin penumpang KRL Commuter Line bisa mencapai 20.000, sedangkan bus berkapasitas 15 orang.

"Bus nggak bisa. Mau seribu jumlah busnya, nggak bisa. Penumpang 20.000, kapasitas bus 15 orang. Siapa yang mau menyediakan bus, intinya evaluasi total kerja," tambahnya. (Knu)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Gelar Perkara Kasus Dugaan Pelanggaran Prokes Rizieq Shihab Ditunda
Indonesia
Gelar Perkara Kasus Dugaan Pelanggaran Prokes Rizieq Shihab Ditunda

Penyidik terpaksa menunda gelar perkara kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan COVID-19 saat kegiatan Imam Besar FPI Rizieq Shihab.

Tak Etis Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik Luhut Diseret ke Ranah Politik
Indonesia
Tak Etis Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik Luhut Diseret ke Ranah Politik

“Terkait masalah perkara pencemaran nama baik dan fitnah yang diduga dilakukan oleh Said Didu kepada LBP adalah murni perkara hukum,” kata Ade

Ratusan OTG Mulai Penuhi RS Darurat Wisma Atlet
Indonesia
Ratusan OTG Mulai Penuhi RS Darurat Wisma Atlet

Secara persentase, kapasitas tempat tidur di Tower 4 sudah terpakai oleh pasien OTG sebesar 34,08 persen, berdasarkan data pada hari Rabu (23/9), hingga pukul 06.00 WIB pagi.

Bentuk Tim Cyber, GP Ansor Siap Jaga Ulama di Dunia Maya
Indonesia
Bentuk Tim Cyber, GP Ansor Siap Jaga Ulama di Dunia Maya

“Jangan hanya bertarung di dunia nyata, terjun ke dunia maya,” tutur Gus Antok

UI Kembangkan Alat Bantu Pernafasan HFNC untuk pasien COVID-19, Begini Cara Kerjanya
Indonesia
UI Kembangkan Alat Bantu Pernafasan HFNC untuk pasien COVID-19, Begini Cara Kerjanya

Pengembangan alat HFNC ini merupakan contoh dari kolaborasi antara para pemangku kepentingan di bidang medis dan teknologi

PPSU Tewas Tabrak Lari, Anies: Pelaku Jangan Pengecut
Indonesia
PPSU Tewas Tabrak Lari, Anies: Pelaku Jangan Pengecut

"Ke pelaku ambil sikap bertanggung jawab jangan pengecut," papar Anies.

Malam Tahun Baru, Jembatan Suramadu Ditutup
Indonesia
Malam Tahun Baru, Jembatan Suramadu Ditutup

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan menutup Jembatan Suramadu saat malam pergantian tahun. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi keramaian di malam tahun baru.

Apresiasi Tim Gabungan Evakuasi Korban Sriwijaya Air, Jokowi: Tinggal Menunggu 'VCR'-nya
Indonesia
Demo UU Ciptaker Marak, Muhammadiyah Minta Jokowi Buka Mata
Indonesia
Demo UU Ciptaker Marak, Muhammadiyah Minta Jokowi Buka Mata

PP Muhammadiyah meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membuka mata terkait maraknya aksi unjuk rasa oleh berbagai elemen masyarakat yang menolak Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja.

Yuri Akui Banyak Kasus Positif Corona tak Terungkap ke Publik
Indonesia
Yuri Akui Banyak Kasus Positif Corona tak Terungkap ke Publik

"Kita menyadari sepenuhnya bahwa belum seluruhnya bisa kita temukan. Kemungkinan masih ada yang kasus positif belum teridentifikasi dan berada di tengah kita," kata Yurianto